Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org

SADAR

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 157 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


UPAYA ELIT POLITIK DAN PEMILIK MODAL MEREDAM GOLPUT


Oleh Sefti *

Mungkin Indonesia adalah salah satu negara yang paling sering mengadakan pemilihan umum, baik di tingkat nasional, propinsi atau kabupaten/kotamadya. Tak terkira mungkin nilai rupiah yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan satu pesta demokrasi (liberal) secara langsung.

Tetapi intensitas pemilu yang dilaksanakan sepertinya tak memberikan satu pendidikan politik bagi masyarakat umum. Hal ini dapat kita lihat dari tingkat partisipasi masyarakat terhadap pemillu tersebut. Hampir di setiap penyelenggaraan pemilu atau pilkada, golongan putih lah yang menjadi pemenangnya. Terlepas dari motivasi orang untuk menjadi golput. Namun demikian, sekalipun golput adalah suara yang terbesar, tetap saja para elit politik yang akrab dengan korupsi dan para pemilik modal lah yang berhasil bertengger dalam kekuasaan di pusat maupun daerah.

Fenomena kemenangan golput ini, jika semakin besar dalam kuantitas dan terorganisir dalam satu kesatuan, pasti akan menjadi satu ancaman yang serius bagi para penguasa. Hal ini sepertinya disadari betul oleh para penguasa politik (pemilik modal) di Indonesia. Mungkin kita sadari atau tidak, mereka telah membuat berbagai macam cara untuk meredam orang unutk menjadi golput, sementara pengorganisiran terhadap para golputers ini terlihat lemah, walaupun mereka sangat menyadari potensi tersebut.

Sekali lagi, media, baik elektronik maupun cetak tetap menjadi tulang punggung bagi para penguasa untuk meredam golput, khususnya menjelang pemilihan umum tahun 2009 nanti. Sekurangnya ada dua stasiun televisi yang secara serius menayangkan berbagai macam acara yang berhubungan dangan pemilu. Misalkan saja salah satu stasiun televisi yang pemiliknya adalah pengikut salah satu partai di Indonesia saat ini. Jauh-jauh hari sudah mulai menampilkan para calon presiden atau parodi-parodi politik yang merupakan salah satu acara yang banyak ditunggu para pemirsa. Atau TV lainnya yang mengemas program debat, yang belakangan tidak lagi menampilkan perdebatan tentang masalah-masalah sosial-ekonomi, namun sudah “mengadu” antar partai peserta pemilu. Belum lagi televisi-televisi lain, dengan programnya masing-masing.

Tak cukup hanya dengan mengandalkan media melalui program acaranya, para elit politik pun sudah mulai kampanye melalui iklan-iklan di TV. Partai politik dengan tokohnya masing-masing juga sudah menyerukan untuk tidak golput dalam pemilu lain. Seperti kata Megawati bahwa mereka yang golput jangan jadi Warga Negara Indonesia. Dan baru-baru ini SBY dalam pidatonya di Palu, juga menyerukan kepada warga masyarakat untuk tidak golput.

Ada lagi dengan maraknya artis-artis atau selebritis tanah air yang tiba-tiba masuk dalam dunia politik. Jika dahulu artis atau selebritis hanya digunakan di panggung-panggung kampanye, kali ini partai-partai politik memberikan porsi yang cukup menggiurkan dalam kancah perpolitikan. Mulai dari calon bupati/walikota sampai dengan calon legeslatif di Senayan. Hal ini tentunya agar masyarakat yang mengidolakan si artis untuk menjadi pemilih. Bisa saja, Si Inem yang dulunya golput karena tak ada partai yang memperjuangkan aspirasinya sebagai pembantu rumah tangga, dalam pemilu 2009 nanti akan menjadi pemilih karena artis idolanya menjadi salah satu calon legeslatif. Bukan hanya artis yang digaet oleh partai-partai politik, para aktivis yang biasanya di tengah terik matahari dengan megaphone di tangannya, berteriak lantang: “Hidup rakyat…!!!” sambil mengkritik pemerintah dan wakil rakyat yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil, kini banyak yang menjadi bagian dari 2009. Bahkan seseorang yang dulu melantangkan dirinya sebagai seorang golput, akan maju dalam pemilu presiden mendatang melalui jalur independen.

Sekilas jalur independen memang membuka kesempatan kepada rakyat untuk bisa menjadi pemimpin di negeri ini, tapi ini mungkin juga merupakan sebuah cara agar orang menjadi pemilih dan semakin redup sinar golput. Bayangkan saja, seorang paranormal kondang yang pekerjaannya mempengaruhi orang dengan mantra-mantranya pun akhirnya harus merelakan terhegemoni untuk menjadi kontestan dalam salah satu pilkada.

Dimana posisi gerakan rakyat?

Dengan cara-cara ini, bukan tidak mungkin pada pemilu 2009 nanti golput tidak lagi menjadi pemenang, yang artinya masyarakat akan tergiring ke dalam satu pemikiran bahwa politik elektoral lah satu-satunya cara untuk melakukan perubahan dan pergantian kekuasaan. Sementara dari kalangan gerakan rakyat belum banyak yang menunjukkan sikapnya terhadap momentum pemilu nanti. Namun juga, cara-cara untuk mengalahkan golput itu bisa saja gagal, jika memang ada gerakan rakyat yang menyerukan untuk menjadi golput atau bahkan seruan boikot pemilu.

Menyerukan golput atau boikot pemilu tentunya harus dipikirkan pula, apa langkah selanjutnya jika memang seruan itu menemukan keberhasilan, dan golput kembali menang dalam pemilu. Karena dalam banyak pengalaman, sekalipun golput telah menjadi pemenang, tetap saja kepemimpinan politik terlegitimasi, dan si golput hanya diam pasrah melihat kemenangannya diambil oleh elit-elit pemilik modal.

Jika para partai atau elit politik borjuis yang kalah dalam pemilu, maka tanpa menunggu-nunggu waktu lagi, secepatnya mereka merapatkan barisan untuk pertarungan politik di pemilu mendatang. Maka sampai dengan hari ini bisa dikatakan belum ada sebuah konsolidasi besar dari gerakan rakyat untuk merespon pemilu 2009, padahal pemilu sendiri tinggal beberapa bulan saja. Tentu saja kita tidak ingin mengulang lagi diamnya gerakan rakyat dalam merespon pemilu 2004 terulang kembali.

Apakah gerakan rakyat tidak siap menghadapi momentum pemilu ini? Memang ada beberapa organisasi yang sudah menyerukan dan melantangkan sikapnya terhadap pemilu 2009, dengan mengatakan bahwa pemilu 2009 bukanlah pemilu rakyat. Namun sepertinya gayung tersebut tidak disambut oleh organisasi-organisasi lain. Bingungkah organisasi-organisasi rakyat dalam menentukan sikapnya terhadap pemilu 2009, atau menganggap pemilu 2009 bukanlah momentum yang penting untuk disikapi? Atau mungkin memang tinggal menunggu waktu yang pas untuk menyatakan sikapnya.

Namun terlepas dari itu semua layak kita hargai organisasi yang belum menentukan sikap politik terhadap pemilu 2009, seperti halnya kita menghargai sikap orang untuk tidak memilih dalam pemilu (golput). Dan patut juga kita acungi jempol sembari merapatkan diri dalam barisan organisasi yang sudah menunjukkan kepeloporannya dalam menyiikapi pemilu 2009.



* Penulis adalah anggota Kelompok Diskusi Dwi Mingguan di Universitas Padjajaran Bandung, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).

 
webmaster@prakarsa-rakyat.org