Olimpiade,
Olahraga dan Nasib Kelas Pekerja
Oleh
Acun *
Keberhasilan
Kontingen Indonesia merebut medali emas di ajang Olimpiade Beijing
disambut dengan gembira oleh para atlit dan pejabat negara. Terlebih
momen itu bertepatan dengan “Hari Kemerdekaan” Bangsa Indonesia. Tetapi
setarakah kegembiraan tersebut dengan apa yang sudah diberikan
oleh rakyat melalui APBN dari pajaknya untuk prestasi tersebut?
Tentulah pertanyaan ini bukan untuk ditujukan kepada orang per orang
di dalam kontingen tersebut. Tetapi kepada pejabat dan negara yang
bertanggung jawab atas keberhasilan atlit diperbandingkan dengan
biaya yang diberikan oleh rakyat, karena sebuah kompetisi yang
diperebutkan adalah nilai ekonomi dan bukan sekedar kebanggaan.
Olahraga
memiliki tiga sisi nilai dalam kehidupan, yakni nilai kesehatan
(kejiwaan), sosial dan ekonomi. Dari nilai kejiwaan, jelas olahraga
adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan bagi umat manusia dalam menjaga
kebugaran tubuhnya. Dalam mendapatkan kesehatan maka olahraga pada
dasarnya bukanlah sesuatu yang harus dikompetisikan/dipertandingan.
Dimana secara psikologi akibat pertandingan memiliki dampak kuat
terhadap kejiwaan, entah sebagai pemenang ataupun kalah.
Nilai
sosial dari olahraga adalah sebuah proses pembauran tanpa pembatas
suku, ras dan agama. Proses kesetaraan ini dipandu oleh rasa
persaudaraan dalam meningkatkan kemampuan berolahraga. Nilai-nilai
olahraga ini mengikuti perkembangan masyarakatnya yang bisa dilihat
dari sistem perekonomian dan budayanya. Nilai-nilai kejiwaan dan
sosial terlihat pada masa masyarakat komunal primitif. Sejarah
menunjukkan zaman tersebut manusia berolahraga sesuai dengan
peradabannya, misal berburu dengan panah atau lempar batu. Tidak ada
pemenang dan pecundang, tidak ada hadiah yang diperebutkan.
Nilai
ekonomi dalam olahraga adalah seberapa banyak olahraga tersebut
disukai banyak orang dan memiliki nilai hiburan tinggi sehingga
menghasilkan uang. Nilai ekonomi olahraga mengikuti perkembangan
masyarakat perbudakan dan semakin meningkat pada zaman feodalisme
hinggi kini kapitalisme. Pada zaman kapitalisme ini, sisa zaman
perbudakan masih bisa kita lihat seperti gulat dan tinju. Selain
nilai hiburan, olahraga pada zaman feodalisme adalah juga tontonan
dari kelas yang berlawanan. Kelas penguasa tuan-tuan tanah mengadu
budak budak mereka untuk jadi hiburan, bila yang melawan maka akan
dibunuh. Nah, zaman kapitalisme inilah olahraga dijadikan nilai
ekonomi yang tinggi. Olahraga ditempatkan sebagai tempat orang
mencari uang sambil berolahraga. Mungkin itu jargon yang sering kita
dengar. Dalam alam kapitalisme olahraga dijadikan alat promosi sebuah
produk sekaligus pengguna produk.
Dan
begitulah kita tanpa sadar menikmati pertandingan sepakbola,
bulutangkis atau event akbar seperti Sea Games,
Asian Games
hingga Olimpiade dengan dicekoki ratusan bahkan
ribuan promo
produk. Setting manis para kapitalis mengatur
jenis
pertandingan apa yang menyerap banyak penonton dan penikmat. Dalam
satu event bertriliun rupiah atau jutaan dolar
berputar di
situ. Lalu apa dan berapa yang didapat rakyat pekerja, dari kerja
kerasnya para pekerja yang membangun stadion dan sarana lainnya?
Seperti juga pekerja di tempat lain, pekerja-pekerja hanyalah
mendapatkan upah yang hanya cukup untuk makan dan kebanggaan dalam
membangun sarana megah olahraga. Atlit-atlit pun sekedar meramaikan
arena dan sebagian kecil menerima limpahan rupiah atau dolar dari
kerjanya bertanding.
Alam
kapitalisme telah menempatkan olahraga sebagai barang dagangan,
seperti juga dalam konsep ekonomi mereka: negara adalah penyedia
sarana, rakyat adalah pekerja dan kapitalis menerima untungnya.
Sarana olahraga, biaya pelatihan atlit dan penyediaan kebutuhan
ditanggung oleh negara, tetapi keuntungan dari promosi dan penjualan
produksi tetaplah para pemodal yang mendapatkannya. Keuntungan
penyelenggara event olahraga adalah dari penonton
yang
membayar karcis dengan harga mahal.
Maka
tak heran bila dalam event olahraga tingkat dunia,
negara-negara yang memiliki modal besarlah yang menguasai kejuaraan
tersebut. Bahkan negara pusat kapitalis yang mengatur jenis
pertandingan apa yang akan dipertandingkan. Negara-negara dunia
ketiga hanyalah mengikut saja. Kita bisa lihat dalam setiap olimpiade
siapa pengumpul medali emas terbanyak, seperti juga pada Olimpiade
Beijing 2008 dikuasai oleh Cina, USA dan Inggris Raya. Nasib
Indonesia dan negara-negara ketiga harus puas jadi penggembira.
Bahkan
nasib Indonesia di olimpiade ke depan akan lebih tragis, karena
bulutangkis akan dihilangkan dari pertandingan. Beberapa komentar
menyebutkan karena negara-negara di Eropa dan Amerika tidak mampu
bersaing karena masyarakatnya tidak menyukai bulutangkis. Sementara
kalau dirunut jenis olahraga tepok bulu ini berasal dari Inggris, dan
sangat menjamur di masyarakat bawah khususnya di Indonesia.
Jenis
olahraga lain yang sampai sekarang tidak dipertandingkan di olimpiade
adalah pencak silat, yang pernah diuji coba pada Olimpiade Athena.
Tentulah dengan berbagai alasan, salah satunya tidak tenar di
kalangan masyarakat Eropa dan Amerika. Padahal ini jenis olahraga
tradisional terlama sejenis gulat dan taekwondo. Namun karena jenis
olahraga ini tidak laku untuk promosi serta “kurang” mendapat
minat penonton maka tidak diloloskan untuk dipertandingkan dalam
olimpiade.
Dengan
gambaran seperti itulah, maka pesta olahraga sebenarnya pesta para
pemodal. Nasib kelas pekerja tetaplah tidak berubah dengan adanya
pesta tersebut, walaupun peran kelas pekerja sangat besar. Dalam
negeri Indonesia, biaya-biaya pelatnas untuk olahraga ditanggung
negara melalui APBN. Sementara di kalangan bawah memiliki inisiatif
besar dalam mengembangkan kualitas dan kuantitas olahraga, seperti
bulutangkis, sepakbola, tenis meja. Pengorbanan besar rakyat ini
tidak dipandang dan dijadikan kekuatan penting oleh negara. Bahkan
penguasa negara dunia ketiga kali ini belum ada yang seberani Bung
Karno ketika membuat kontes olahraga tersendiri untuk negara dunia
ketiga dengan digelarnya GANEFO.
Sebuah
contoh sejarah akan GANEFO, dimana semangat kesetaraan dan
persaudaraan yang tinggi bukan persaingan yang ditonjolkan haruslah
diambil oleh generasi sekarang. Pembangunan olahraga dari basis
masyarakat penting tidak sekedar untuk kesehatan, tetapi juga
pembangunan pemahaman akan kapitalisasi dalam dunia olahraga sehingga
dapat membangun olahraga yang mencerdaskan masyarakat secara nyata
tanpa penindasan. Seperti dalam dunia musik yang kita kenal ada
aliran Underground sebagai bentuk perlawanan atas
kemapanan
musik yang dikapitalisir olah kaum pemodal.
*
Penulis adalah anggota Perjuangan Buruh Kontrak Menggugat, Jawa
Barat, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari
Simpul Bandung.
** Siapa saja
dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau
seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan
mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus
mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat.
Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau
seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau
www.prakarsa-rakyat.org).