Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org

SADAR

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 156 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


Olimpiade, Olahraga dan Nasib Kelas Pekerja


Oleh Acun *


Keberhasilan Kontingen Indonesia merebut medali emas di ajang Olimpiade Beijing disambut dengan gembira oleh para atlit dan pejabat negara. Terlebih momen itu bertepatan dengan “Hari Kemerdekaan” Bangsa Indonesia. Tetapi setarakah kegembiraan tersebut dengan apa yang sudah diberikan oleh rakyat melalui APBN dari pajaknya untuk prestasi tersebut? Tentulah pertanyaan ini bukan untuk ditujukan kepada orang per orang di dalam kontingen tersebut. Tetapi kepada pejabat dan negara yang bertanggung jawab atas keberhasilan atlit diperbandingkan dengan biaya yang diberikan oleh rakyat, karena sebuah kompetisi yang diperebutkan adalah nilai ekonomi dan bukan sekedar kebanggaan.

Olahraga memiliki tiga sisi nilai dalam kehidupan, yakni nilai kesehatan (kejiwaan), sosial dan ekonomi. Dari nilai kejiwaan, jelas olahraga adalah sesuatu yang menjadi kebutuhan bagi umat manusia dalam menjaga kebugaran tubuhnya. Dalam mendapatkan kesehatan maka olahraga pada dasarnya bukanlah sesuatu yang harus dikompetisikan/dipertandingan. Dimana secara psikologi akibat pertandingan memiliki dampak kuat terhadap kejiwaan, entah sebagai pemenang ataupun kalah.

Nilai sosial dari olahraga adalah sebuah proses pembauran tanpa pembatas suku, ras dan agama. Proses kesetaraan ini dipandu oleh rasa persaudaraan dalam meningkatkan kemampuan berolahraga. Nilai-nilai olahraga ini mengikuti perkembangan masyarakatnya yang bisa dilihat dari sistem perekonomian dan budayanya. Nilai-nilai kejiwaan dan sosial terlihat pada masa masyarakat komunal primitif. Sejarah menunjukkan zaman tersebut manusia berolahraga sesuai dengan peradabannya, misal berburu dengan panah atau lempar batu. Tidak ada pemenang dan pecundang, tidak ada hadiah yang diperebutkan.

Nilai ekonomi dalam olahraga adalah seberapa banyak olahraga tersebut disukai banyak orang dan memiliki nilai hiburan tinggi sehingga menghasilkan uang. Nilai ekonomi olahraga mengikuti perkembangan masyarakat perbudakan dan semakin meningkat pada zaman feodalisme hinggi kini kapitalisme. Pada zaman kapitalisme ini, sisa zaman perbudakan masih bisa kita lihat seperti gulat dan tinju. Selain nilai hiburan, olahraga pada zaman feodalisme adalah juga tontonan dari kelas yang berlawanan. Kelas penguasa tuan-tuan tanah mengadu budak budak mereka untuk jadi hiburan, bila yang melawan maka akan dibunuh. Nah, zaman kapitalisme inilah olahraga dijadikan nilai ekonomi yang tinggi. Olahraga ditempatkan sebagai tempat orang mencari uang sambil berolahraga. Mungkin itu jargon yang sering kita dengar. Dalam alam kapitalisme olahraga dijadikan alat promosi sebuah produk sekaligus pengguna produk.

Dan begitulah kita tanpa sadar menikmati pertandingan sepakbola, bulutangkis atau event akbar seperti Sea Games, Asian Games hingga Olimpiade dengan dicekoki ratusan bahkan ribuan promo produk. Setting manis para kapitalis mengatur jenis pertandingan apa yang menyerap banyak penonton dan penikmat. Dalam satu event bertriliun rupiah atau jutaan dolar berputar di situ. Lalu apa dan berapa yang didapat rakyat pekerja, dari kerja kerasnya para pekerja yang membangun stadion dan sarana lainnya? Seperti juga pekerja di tempat lain, pekerja-pekerja hanyalah mendapatkan upah yang hanya cukup untuk makan dan kebanggaan dalam membangun sarana megah olahraga. Atlit-atlit pun sekedar meramaikan arena dan sebagian kecil menerima limpahan rupiah atau dolar dari kerjanya bertanding.

Alam kapitalisme telah menempatkan olahraga sebagai barang dagangan, seperti juga dalam konsep ekonomi mereka: negara adalah penyedia sarana, rakyat adalah pekerja dan kapitalis menerima untungnya. Sarana olahraga, biaya pelatihan atlit dan penyediaan kebutuhan ditanggung oleh negara, tetapi keuntungan dari promosi dan penjualan produksi tetaplah para pemodal yang mendapatkannya. Keuntungan penyelenggara event olahraga adalah dari penonton yang membayar karcis dengan harga mahal.

Maka tak heran bila dalam event olahraga tingkat dunia, negara-negara yang memiliki modal besarlah yang menguasai kejuaraan tersebut. Bahkan negara pusat kapitalis yang mengatur jenis pertandingan apa yang akan dipertandingkan. Negara-negara dunia ketiga hanyalah mengikut saja. Kita bisa lihat dalam setiap olimpiade siapa pengumpul medali emas terbanyak, seperti juga pada Olimpiade Beijing 2008 dikuasai oleh Cina, USA dan Inggris Raya. Nasib Indonesia dan negara-negara ketiga harus puas jadi penggembira.

Bahkan nasib Indonesia di olimpiade ke depan akan lebih tragis, karena bulutangkis akan dihilangkan dari pertandingan. Beberapa komentar menyebutkan karena negara-negara di Eropa dan Amerika tidak mampu bersaing karena masyarakatnya tidak menyukai bulutangkis. Sementara kalau dirunut jenis olahraga tepok bulu ini berasal dari Inggris, dan sangat menjamur di masyarakat bawah khususnya di Indonesia.

Jenis olahraga lain yang sampai sekarang tidak dipertandingkan di olimpiade adalah pencak silat, yang pernah diuji coba pada Olimpiade Athena. Tentulah dengan berbagai alasan, salah satunya tidak tenar di kalangan masyarakat Eropa dan Amerika. Padahal ini jenis olahraga tradisional terlama sejenis gulat dan taekwondo. Namun karena jenis olahraga ini tidak laku untuk promosi serta “kurang” mendapat minat penonton maka tidak diloloskan untuk dipertandingkan dalam olimpiade.

Dengan gambaran seperti itulah, maka pesta olahraga sebenarnya pesta para pemodal. Nasib kelas pekerja tetaplah tidak berubah dengan adanya pesta tersebut, walaupun peran kelas pekerja sangat besar. Dalam negeri Indonesia, biaya-biaya pelatnas untuk olahraga ditanggung negara melalui APBN. Sementara di kalangan bawah memiliki inisiatif besar dalam mengembangkan kualitas dan kuantitas olahraga, seperti bulutangkis, sepakbola, tenis meja. Pengorbanan besar rakyat ini tidak dipandang dan dijadikan kekuatan penting oleh negara. Bahkan penguasa negara dunia ketiga kali ini belum ada yang seberani Bung Karno ketika membuat kontes olahraga tersendiri untuk negara dunia ketiga dengan digelarnya GANEFO.

Sebuah contoh sejarah akan GANEFO, dimana semangat kesetaraan dan persaudaraan yang tinggi bukan persaingan yang ditonjolkan haruslah diambil oleh generasi sekarang. Pembangunan olahraga dari basis masyarakat penting tidak sekedar untuk kesehatan, tetapi juga pembangunan pemahaman akan kapitalisasi dalam dunia olahraga sehingga dapat membangun olahraga yang mencerdaskan masyarakat secara nyata tanpa penindasan. Seperti dalam dunia musik yang kita kenal ada aliran Underground sebagai bentuk perlawanan atas kemapanan musik yang dikapitalisir olah kaum pemodal.


* Penulis adalah anggota Perjuangan Buruh Kontrak Menggugat, Jawa Barat, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).

 
webmaster@prakarsa-rakyat.org