MELIHAT
FENOMENA PENCALONAN PEMILU 2009
Oleh
Sunarno *
Dalam
Wikipedia Indonesia, politik dijabarkan sebagai sebuah proses
pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain
berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Tetapi
di negeri ini pernyataan seperti itu perlu digali lebih dalam, karena
realitas politik pemilu bisa jadi hanya untuk mencari kesempatan
mendapatkan jabatan dengan menggunakan posisi yang telah ada, baik
sebagai artis, sebagai keluarga politisi atau sebagai pimpinan
organisasi massa. Lalu, apa yang mereka cari dari pelibatan diri di
pencalonan legislatif ini?
Contoh
konkrit hari ini adalah gelaran politik elektoral dalam alam
liberalisme di Indonesia tahun 2009 telah mengusik “syahwat”
politik sejumlah tokoh (atau menokohkan diri) untuk maju sebagai
calon legislatif. Menuju pemilu 2009 yang tidak kurang dari delapan
bulan lagi, aroma kompetisi dan rebutan pengaruh serta mencari posisi
sudah terasa dalam kehidupan sosial kita hari ini. Hal ini bisa kita
rasakan dari beberapa fenomena yang terus terjadi seputar proses
menuju pemilu 2009. Walaupun ini kejadian wajar dan merupakan
pengulangan lima tahun lalu, tetapi terjadi peningkatan kualitas dan
kuantias. Dari beberapa catatan media dan informasi di wilayah ada
beberapa fenomena pencalonan legislatif dalam rangka pemilu 2009. Di
antaranya adalah:
Pertama,
pembangunan oligarki kepemimpinan partai politik melalui keluarga
elit partai, lebih tepat membangun dinasti dalam partai. Bahwa ini
hal yang wajar, sebagai contoh di luar negeri mantan Perdana Menteri
Pakistan Benazir Bhutto adalah politisi yang mewarisi bakat ayahnya,
Ali Bhutto. Di Amerika Serikat, mantan Presiden George Walker Bush
juga sukses mewarisi bakatnya kepada anaknya, George Bush.
Pemilu
2009 sekarang lebih banyak lagi keluarga elit masuk menjadi caleg
dibanding pemilu 2004. Jelas ini adalah upaya mempertahankan
kekuasaan partai dalam keluarga, walau wajar ini menjadi tidak sehat.
Karena mereka tidaklah tertempa oleh praktek politik praktis selama
ini, dikenal lebih sebagai keluarga elit politik. Jelas budaya
feodalisme dan budaya nepotisme masih kental dalam praktek politik
liberal di negeri ini.
Kedua,
menjamurnya pensiunan tentara dan polisi maju sebagai caleg di pusat,
propinsi dan kabupaten/kota. Para pensiunan itu adalah warisan Orde
Baru di bawah Rejim Soeharto dan mempunyai jejak-jejak pelanggaran
HAM yang sampai saat ini kasusnya menguap alias tidak ada yang
terjerat hukum.
Ketiga,
maraknya artis yang masuk parpol dan menjadi caleg. Secara kuantitas
jauh berkali lipat dari tahun 2004. Tahun 2004 ada 32 caleg artis dan
hanya 7 orang yang jadi anggota DPR RI. Di tahun 2009 ini jumlah
artis yang jadi caleg meledak, melebihi angka lima tahun yang lalu.
Semoga mereka bukan hanya sebagai mesin pendulang suara atau ingin
bersandiwara di gedung parlemen, seperti yang sudah-sudah.
Keempat,
terjun payung massal “intelektual” dan aktivis menjadi caleg
dengan “itikad” kaum muda memimpin, mereka menyusup (bahasa yang
sering digunakan) ke berbagai partai peserta pemilu. Walaupun belum
teruji, bahwa yang muda akan membela rakyat. Jangan-jangan hanya cari
kesempatan untuk masuk ke lingkaran kekuasaan dan terinspirasi oleh
senior-senior mereka yang terbilang sukses. Tetapi visi kaum muda
memimpin tentulah bukan jalan keluar yang tepat, karena visi
pembebasan nasional atas neoliberalisme adalah jawaban yang tepat.
Dan taktik menyusup juga telah menjadi argumen usang terbukti gagal
mempengaruhi ideologi dan praktek partai borjuis.
Kelima,
keterlibatan pimpinan organisasi massa dalam menjadi caleg. Beberapa
pimpinan ormas hari ini sibuk menyiapkan diri untuk menjadi caleg
dengan argumen ingin merubah keadaan. Tetapi benarkah? Tentu saja
menjadi sesuatu yang sulit terpenuhi, karena pimpinan ormas tidak
mendominasi partai, tidak bisa merubah arah gerak partai politik yang
semuanya ikut mengesahkan UU PMA, UUK 13/2003, UU Air, termasuk
melegitimasi kenaikan harga BBM dan privatisasi massal. Tentu mereka
tidak ingin kepentingannya terganggu. Bila mengakomodasi pimpinan
ormas dan hanyalah untuk kepentingan menarik suara sebesar-besarnya.
Lihat
pada pengalaman pemilu 2004, beberapa pimpinan ormas ditempatkan pada
basis yang tidak signifikan untuk mendapatkan suara karena bilangan
pembaginya besar. Dengan adanya gambar pimpinan ormasnya maka daerah
basis terbesarnya akan ikut memilih partai tersebut. Apakah
pengalaman ini dipakai atau tidak, tentu tergantung daripada pimpinan
ormas tersebut. Kecuali kalau pimpinan ini hanya memenuhi ambisi
pribadi dan menarik dukungan dari massanya.
Dari
fenomena pencalonan legislatif ini menunjukkan bahwa kepentingan
jangka panjang untuk memperbaiki negara dari cengkraman
neoliberalisme masihlah sangat lemah. Karena kepentingan sesaat lebih
dominan akibat dari budaya politik liberal yang memberikan
mimpi-mimpi. Terburunya para aktivis dan pimpinan ormas untuk terjun
dalam politik praktis melalui partai politik borjuis, menunjukkan
sebuah komitmen yang tidak tahan akan kesusahan dalam garis rakyat.
Mencari jalan pintas pada tampuk kekuasaan dengan ditopang oleh
kepopuleran dari media massa dan forum diskusi. Ini merupakan cermin
lemahnya kemauan membangun kekuatan rakyat untuk bersama-sama
membebaskan negeri ini dari tirani modal.
Namun
bila kita tarik lebih bijak dalam melihat fenomena di atas akan
memberikan sebuah jalan lebih bagus pada pencerahan kesadaran
berpolitik rakyat serta cara bergerak dalam politik ke depan. Praktek
dari artis, dinasti partai, pensiunan tentara, intelektual-aktivis
muda dan pimpinan ormas yang masuk ke parlemen ternyata tidak memihak
rakyat atau tidak terpilih, akan menjadi pengalaman tersendiri. Di
sisi lain harus ada kelompok yang memberikan alternatif perjuangan
sehingga rakyat bisa menentukan kekuatan politiknya untuk merebut
kekuasaan dan merubah arah bangsa ini ke depan.
*
Penulis adalah Ketua Umum Serikat Buruh Nasional, sekaligus anggota
Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).