DAENDELISME
Oleh
: Khalisah Khalid *
Dandelisme
di
Indonesia
Daendels,
menjadi sosok pertama
dari jaman kolonialisasi Belanda yang meletakkan dasar-dasar bagi
industrialisasi di Pulau Jawa dan yang selanjutnya melahirkan banyak
lagi daendels-daendels lain yang menerapkan dasar yang sama. Praktek
industrialisasi yang disokong infrastruktur raksasa inilah yang
kemudian menjadi landasan atau pijakan model pembangunan, yang
berujung pada tata kuasa, tata penggunaan lahan, tata produksi dan
tata konsumsi yang menguntungkan segelintir kuasa politik dan modal.
Dalam
kurun waktu yang relatif
singkat, Daendels membuat sebuah terobosan dengan meletakkan
dasar-dasar industrialisasi dan sketsa awal di Jawa dalam masa-masa
berikutnya, dengan membangun infrastruktur jalan raya pos yang
menyambungkan Anyer sampai Panarukan yang juga berfungsi
mengintegrasikan dagang, industri, pertanahan, hukum, administrasi
pemerintahan, dan tata pengurusan wilayah dalam sekali pukul.
Pada
saat itu, Daendels
memimpikan dapat menguasai perdagangan dan jalur ekonomi, yang dapat
dicapai dengan membangun infrastruktur ekonomi di antaranya jalan
raya yang menjadi poros dari jalur perdagangan di Pulau Jawa dengan
mempekerjakan secara paksa sekitar 12.000 orang. Jawa dipilih oleh
kolonial Belanda untuk menancapkan kekuasaan ekonomi dan politiknya,
karena Pulau Jawa`dinilai sangat strategis, kaya dengan sumber daya
alamnya dan memiliki banyak sumber daya manusia yang sangat murah,
yang dapat dipekerjakan secara paksa, antara lain di perkebunan teh
dan kopi yang dikuasai oleh Perusahaan Belanda.
Yang
lainnya adalah karena
pemimpin politik di Jawa dapat dijadikan sebagai penghubung atau
mitra Belanda untuk melanggengkan kekuasaannya. Kenyataan inilah yang
selanjutnya menjadi alur kolonialisasi secara ekonomi, sejalan
beriringan dengan kolonialisasi secara politik. Jalan raya ini
berperan dalam perubahan-perubahan ekologis, sosial, politik demi
pertumbuhan ekonomi pada abad ke 19.
Dalam kurun
waktu kurang dari 25 tahun, sejak tahun 1898-1922 hutan yang hilang
mencapai 22.000 km2
(atau 220,000 hektar) (Whitten: 1996). Sebagian besar digunakan untuk
pembangunan jalan kereta api mengikuti jalan raya pos. Sementara itu
sejak tahun 1830-an hingga 1900 hutan yag hilang sudah mencapai 5
juta hektar. Hingga tahun 1973 saja, hutan alam di Jawa hanya tinggal
11% (Donner: 1987).
Rezim
Daendelisme
Kini,
63 tahun mendeklarasikan diri sebagai negara yang merdeka dan kurang
lebih 200 tahun paska Daendels menjadi Gubernur Hindia Belanda,
entitas politik di negeri kepulauan ini mengikuti dan memperkokoh
watak dan memiliki ambisi yang serupa dengan Daendels, mengembangkan
imperium bisnis atas ongkos-ongkos yang harus ditanggung oleh rakyat.
Pembangunan dan janji pertumbuhan ekonomi menjadi sebuah mitos yang
terus-menerus disuarakan oleh pengurus negara dan pemodal yang
menguasai tata kuasa, tata guna lahan, tata produksi dan tata
konsumsi manusia di Indonesia.
Pemimpin
manusia di Indonesia kini menjadi pengikut setia dari paham yang
dibangun oleh Daendels, di dalam sistem kekuasaannya (power
system) telah
menempatkan diri sebagai
sebuah elit yang mengatasnamakan kelas yang dikuasainya. Dalam hal
ini, rakyat yang selalu ditempatkan menjadi objek dalam seluruh
cerita pembangunan, untuk mewujudkan mimpi kemakmuran dan
kesejahteraan untuk kelompoknya.
Jared
Diamond dalam teori collapse-nya
mengatakan runtuh dan berkembangnya satu entitas dalam satuan
lingkungan bukan ditentukan oleh kondisi geografik alaminya saja.
Pilihan untuk bertahan atau collapse
jatuh pada entitas manusia yang tinggal di dalamnya. Entitas pada
konteks tertentu ditentukan oleh pilihan pemimpinnya. Tampaknya
pemimpin entitas manusia di Indonesia memilih jalan menuju collapse
dengan membiarkan bencana terjadi dengan intensitas yang meningkat
dari tahun ke tahun.
Tim
riset Java Collapse Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
menilai, bahwa Pulau Jawa menuju collapse
dan akan diikuti segera oleh kepulauan lain di Indonesia, riset ini
dilakukan dengan menggunakan cara baca terhadap krisis yang terjadi
di Jawa difokuskan pada agregat krisis yang ditetapkan tim, antara
lain: (1)
Kebijakan pembangunan berisiko tinggi terhadap manusia dan alam; (2)
Kebijakan (budaya) manusia di Jawa menggeser siklus saling
ketergantungan antara manusia dan alam; (3) Kebijakan pembangunan
yang mengabaikan siklus alam; (4) Ketiadaan informasi siklus alam dan
karakter wilayah; (5) Ketegangan ekonomi dan politik elit kekuasaan
mengorbankan rakyat kebanyakan.
Jika
ditarik garis lurus, bahwa kelas yang berkuasa pada jamannya, dari
jaman kolonial hingga rezim saat ini, meletakkan sebuah pondasi
pembangunan dengan mimpi yang sama yakni kemakmuran dan kesejahteraan
bagi pelanggengan kekuasaannya. Bahkan dengan menggunakan bacaan yang
sama, bahwa seluruh cerita pembangunan infrastruktur industri,
digunakan sebagai sebuah ajang bagi bentuk konsolidasi modal, politik
(kekuasaan) dan militer. Mimpi
besar
integrasi berwatak Daendelisme, kreatif destruktif. Elit oligarki
yang berjaya, proletarisasi dan korban-korban yang berjatuhan dari
rakyat.
*
Penulis adalah Dewan
Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) 2008-2012, Biro
Politik dan Ekonomi Sarekat Hijau Indonesia.
Sekaligus
anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul
Jabodetabek.
** Siapa saja
dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau
seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan
mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus
mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat.
Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau
seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau
www.prakarsa-rakyat.org).