SEBUAH
CERITA PENGALAMAN DARI JOMBANG
Oleh
Pokemon *
Membutuhkan
waktu dua jam untuk menuju Terminal Jombang dari Surabaya, dengan
menempuh kendaraan bus kota. Masih sekitar 15 kilometer lagi menuju
Desa Ngampel, Kabupaten Jombang. Sebuah desa yang dihuni oleh
mayoritas masyarakat yang dalam memenuhi kebutuhan hidup
sehari-harinya dengan bercocok tanam. Seperti umumnya tayangan di
televisi menggambarkan tentang desa, dimana hamparan luas lahan
pertanian yang hijau, kegelapan di malam hari yang tersinari nyala
alami dari kunang-kunang dan bulan, kesejukan dari embun dan kicauan
burung di pagi hari serta keramahan dan senyum penduduk di desa.
Benar, itulah yang pertama kali saya dapatkan ketika hadir di sana
pada kisaran pertengahan bulan Juni 2008. Bisa dikatakan satu bentuk
“rekreasi” bagi saya ketika datang ke Desa Ngampel, setelah
bertahun-tahun merasakan sumpek dan bisingnya kota Surabaya.
Namun
jika saja kehadiran saya lebih awal, maka saya pasti akan merasakan
ketegangan di desa itu. Ya, pada tahun 2007 di Desa Ngampel
mengadakan pemilihan kepala desa, dimana ada dua calon kepala desa
yang bertarung memperebutkan singgasana Desa Ngampel.
Adalah
Arifin seorang tuan tanah di desa Ngampel dan Supono seorang petani
kecil yang didukung oleh para petani-petani kecil dan juga
buruh-buruh tani di sana. Dalam perhitungan suara di desa yang
disaksikan oleh staf desa dan warga, dimenangkan oleh Supono hanya
dengan selisih satu suara, yaitu 444 berbanding 445 suara. Akan
tetapi di tingkat Kabupaten, justru berbalik hasilnya dan dimenangkan
oleh Arifin. Dengan ekspresi emosi dan amarah yang masih terpendam
Pak Supono menceritakan hal tersebut kepada saya. Memang seperti
itulah apa yang dirasakan oleh Supono dan para pendukungnya ketika
mendengar pengumuman dari Kabupaten Jombang. Dengan beberapa kali
aksi protes dilakukan ke kabupaten Jombang, tidak menghasilkan
apa-apa. Ditambah lagi aparat keamanan yang juga melakukan teror dan
penangkapan terhadap warga pendukung Supono. Karena begitu kuatnya
dukungan dari kalangan birokrasi dan aparat keamanan, maka Arifin si
tuan tanah sampai saat ini langgeng dalam kursi kepala desa.
Dalam
obrolan tersebut, yang juga bersama beberapa orang warga setempat
selain dengan Supono, saya memberikan sedikit masukan kepada mereka.
Bahwa kasus pilkades tahun 2007 itu tidak akan selesai jika kita
tidak melakukan aksi terus-menerus untuk menuntut pertanggungjawaban
dan kebenaran yang terjadi. Namun juga, kepala desa pilihan bupati
tentunya juga tidak akan pernah tinggal diam dalam hal tersebut, dia
pasti juga akan memberikan perlawanan terhadap protes kita. Tak hanya
logistik yang akan terkuras dalam pertarungan itu, namun juga waktu.
Sementara warga desa harus tetap disibukkan oleh pekerjaan
sehari-hari mereka.
Hal
tersebut di-iya-kan oleh Supono, yang mengatakan
bahwa memang
membutuhkan waktu dan keuangan yang besar, sementara kita tidak hanya
berhadapan dengan Arifin, namun juga dengan aparat keamanan dan juga
Bupati Jombang yang mendukung penuh kekuasaan Arifin dan keluarganya,
yang selama kurang lebih 15 tahun tidak tergantikan dalam
kepemimpinan desa. Yang dilakukan sekarang oleh warga desa adalah
memboikot semua kegiatan desa yang diselenggarakan oleh kepala desa,
bahkan pada pemilihan gubernur Jawa Timur bulan Juli lalu, warga desa
sepakat untuk golput.
Seiring
dengan menariknya kasus di desa Ngampel tersebut dan dengan begitu
solidnya persatuan warga desa, serta begitu menyenangkannya desa
dengan pemandangan dan kehidupan kesahariannya, intensitas kedatangan
saya ke desa Ngampel pun bertamabah. Apalagi setelah warga desa
menerima tawaran dari saya untuk lebih memperkuat posisi di dalam
dengan membentuk serikat tani dan membuat program sendiri untuk warga
desa atas nama serikat tani tersebut. Tepat pada tanggal 30 Juli
2008, saya kembali datang ke desa tersebut untuk sebuah agenda
pembentukan serikat tani. Serikat Tani Mandiri atau disingkat STM,
mereka menamakan organisasi tersebut, yang diikuti oleh tokoh
masyarakat desa, pemuda, bahkan warga yang bekerja di luar desa pun
mendukung hal tersebut.
Kemudian
juga selain membentuk struktur organisasi, STM juga membuat program
kerja yang diperuntukkan bagi warga desa. Ada diskusi rutin dua
minggu sekali, membahas persoalan perkembangan sosial-politik
terkini, membahas persoalan-persoalan yang dialami oleh tani, sampai
membahas soal perilaku para pejabat dan wakil rakyat yang senang
dengan profesi sampingannya sebagai koruptor, yang membuat banyak
masyarakat menjadi tetap miskin. Tak hanya sekedar mengasah otak
saja, STM juga memberikan foto copy buku pelajaran untuk SD, SMP dan
SMU yang dibagikan secara gratis bagi para anak desa Ngampel, dan
masih banyak lagi program kerja, baik yang berhubungan langsung
tentang pertanian seperti pengairan atau irigasi maupun kebutuhan
lain yang dianggap penting bagi warga.
Bukan
berarti dengan agenda kerja ini mereka melupakan kekalahan yang
mereka alami dalam pilkades, yang lebih disebabkan oleh faktor
kecurangan. Pilkades 2007 itu seperti memberikan sebuah pembelajaran
dan pengalaman bagi mereka, bahwa untuk mencapai kekuasaan
membutuhkan persiapan dan strategi taktik yang baik, dan
mempersiapkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Mereka juga
telah belajar dengan baik, bagaimana memberikan perlawanan terhadap
kekuasaan yang dzolim dan bertengger di atas sebuah
kecurangan. Setiap hal yang dilakukan sekarang ini oleh STM tentunya
akan sangat berguna pada pemilihan kepala desa mendatang, dimana
dengan semangat acungan tangan kiri terkepal sebagai simbol
perlawanan dan siap lagi bertarung di medan politik untuk sebuah
kekuasaan tani yang sejati.
Pada
tanggal 22 Agustus nanti, saya berencana datang kembali ke desa
Ngampel. Bertemu kembali dengan warga desa Ngampel, melihat kembali
hamparan luas menghijau, melihat kembali cahaya kunang-kunang dan
bulan di malam hari, merasakan kembali kesejukan embun, mendengar
merdu kicauan burung.
Anda
berminat untuk ikut serta bersama saya ke desa Ngampel di Jombang?
*
Penulis adalah anggota Solidaritas
Gerakan Mahasiswa Surabaya, sekaligus anggota
Forum
Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jawa Timur.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).