SI
“DOLLY” YANG SEXY DAN SI “BONEK” YANG BERINGAS
Oleh
Dimas *
Di
masa lalu, ketika kita mendengar kata Surabaya, maka yang terlintas
di benak kita adalah kota pahlawan atau pertempuran dahsyat 10
November antara arek-arek Suroboyo melawan penjajah Belanda. Tapi
saat ini semua telah berubah, yang terlintas di benak saya tentang
Surabaya adalah “Dolly” dan “Bonek.” Mungkin itu juga yang
terlintas di benak anda ketika mendengar kata Surabaya, mungkin…..?
Tapi
sayangnya masyarakat umum sudah kadung menilai dengan konotasi buruk
tentang “Dolly” dan “Bonek,” tempat pelacuran, perempuan
nakal, haram, hidung belang, dan banyak lagi tentang “Dolly.”
Sementara “Bonek” mendapat cap suporter brutal, suka tawuran dan
lain sebagainya.
Jalan
Dolly merupakan sebuah lokalisasi pelacuran di sudut kota Surabaya
yang cukup terkenal di Nusantara, bahkan konon merupakan yang
terbesar di Asia Tenggara. Tapi sayangnya, saya bukan akan bercerita
tentang bagaimana cantik dan sexynya si “Dolly.” Jika anda ingin
tahu lebih banyak tentang Si “Dolly” baiknya anda datang saja
sendiri. Saya akan bercerita tentang COPI (baca: kopi) yang
merupakan singkatan dari Comunitas Pemuda Independent. Entah mengapa
mereka menggunakan huruf “C” dalam kata komunitas. Mereka adalah
para pemuda yang tinggal di Jalan Dolly, yang kesehariannya banyak
bergelut dengan dunia kriminalitas, pengangguran, ataupun dengan
narkoba yang menurut pemerintah adalah barang haram. Namun begitu Si
“Dolly” memberikan sebuah penghidupan bagi warga sekitar juga
pemuda-pemuda di wilayah tersebut, katakanlah dengan menjadi tukang
cuci, membuka usaha warung makan, tukang becak, penjaga parkir, dan
lain-lain. Begitu asyiknya di Dolly dan aktivitas yang intensitasnya
begitu cepat, seolah-olah membuat warga sekitar lupa akan
persoalan-persoalan yang dialami di luar sana dan sebenarnya juga
akan berdampak bagi mereka.
Ari,
adalah salah satu kawan saya yang tinggal di Kawasan Dolly. Melihat
keseharian pemuda di Dolly yang lebih sering menghabiskan waktu
luangnya usai bekerja dengan mabuk-mabukan, dia mulai memasukan
persoalan-persoalan yang menimpa masyarakat umum dan
kebijakan-kebijakan pemerintah yang banyak merugikan rakyat. Ditambah
sedikit agitasi tentang apa yang harus dilakukan dalam
mengatasi persoalan yang dia sampaikan, maka terdoronglah semangat
pemuda-pemuda di kawasan Dolly tersebut untuk membuat sebuah
organisasi. Pada saat momentum kenaikan harga BBM beberapa waktu
lalu, adalah saat pertama kali COPI melakukan mobilisasi aksi untuk
menolak rencana kenaikan harga BBM dengan bergabung bersama berbagai
elemen rakyat di Surabaya.
Memang
belum banyak jumlah pemuda yang terorganisir oleh KOPI, sampai saat
ini baru sekitar 25 orang pemuda yang tergabung dalam KOPI. Tapi
menurut Ari, kemungkinan pertambahan anggota KOPI masih bisa terus
terjadi seiring dengan aktifitas KOPI yang semakin banyak. Tak hanya
berdiskusi tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam
keseharian, dan mencoba membangun kekuatan ekonomi mereka secara
mandiri seperti membuat usaha sablon, atau jasa membuat tattoo.
Tapi juga mulai merambah pada kepedulian mereka terhadap lingkungan
mereka. KOPI berencana membuat kampung hijau di kawasan Dolly, yang
memang merupakan tempat padat penduduk. Dan bukan hal yang mustahil,
suatu saat pengorganisiran ini akan sampai ke pengorganisiran
Dolly-Dolly yang cantik dan sexy itu, toh mereka juga merupakan
bagian dari sektor masyarakat yang tertindas dan terhisap oleh sistem
ekonomi politik yang ada saat ini.
Lain
Ari dengan “Dolly” nya, lain pula Andik. Yang sehari-hari aktif
sebagai ketua induk sebuah serikat buruh. Mendengar buruh, sedikit
banyak ingatan kita akan terbayang pula pada sosok Marsinah, seorang
pejuang buruh di zaman orde baru yang dengan keberaniannya
mengobarkan semangat perlawanan walau harus menanggung resiko mati.
Andik adalah ketua SBK, Serikat Buruh Kerakyatan, sebuah serikat yang
dideklarasikan satu tahun setelah meninggalnya Marsinah.
Dengan
latar belakangnya yang seorang aktivis perburuhan, tak membuat dia
terkungkung dalam dunia buruh dengan berbagai macam problematikanya.
Sebagai seorang penggemar olah raga sepak bola yang sejati, maka
sudah pasti dia juga merupakan pendukung klub Persebaya kebanggaan
warga Surabaya. Biasa kita sebut mereka dengan nama Bonek yang
kependekan dari Bondo Nekad, atau dalam artian
bahasa
keseharian adalah modal nekad. Memang di media banyak digambarkan
bonek itu adalah suporter sepakbola yang terkenal brutal dan
beringas. Mereka tak segan masuk ke lapangan untuk menyerang pemain
lawan, wasit ataupun polisi saat tim kesayangan mereka kalah atau
merasa dicurangi. Juga sering terjadi bentrokan dengan suporter dari
klub lain. Tapi bagi seoarang Andik, Bonek lahir dari spirit para
arek-arek Suroboyo ketika terjadi pertempuran sengit melawan penjajah
Belanda pada 10 November 1945. Hanya bermodalkan bambu runcing dan
keinginan besar untuk lepas dan merdeka dari kekangan kompeni, mereka
berani mengorbankan nyawanya untuk sebuah tujuan mulia.
Untuk
mengabarkan semangat itu, dia mulai merintis sebuah kelompok suporter
Persebaya yang kemudian dia beri nama CUBA, Comunitas Bonek Agresif.
Sekali lagi huruf “C” dalam kata komunitas, mungkin agar
samar-samar seperti sebuah negri di Amerika Latin yang berhaluan
Sosialis, dan terkenal dengan tokohnya Che Guevara. Sudah ratusan
orang yang terjaring oleh CUBA yang dengan setia selalu datang ke
Tambak Sari, stadion milik Persebaya.
Melalui
CUBA dia berharap bisa mengabarkan sebuah cerita bahwa Bonek tidak
identik dengan brutal dan beringas. Bagi dia kebrutalan dan
keberingasan Bonek hanya belum terarah dengan rapi saja, tapi
semangat persatuan dan solidaritas yang tinggi, keberanian yang
nekad, adalah sebuah modal awal dari radikalisme yang terarah.
Baginya, kerusuhan yang sering dilakukan oleh Bonek dalam beberapa
pertandingan sepakbola punya faktor dan latar belakang yang memicu
hal tersebut, maka tak pernah dia menyalahkan bonek dalam setiap
aksinya. Seperti slogan yang dia tuliskan dalam
bonekagresif.blogspot.com, “BONEK Nekad – Tak Bisa Disalahkan.”
Sebuah
pengalaman menarik dan inspirasi semangat yang saya dapatkan dalam
“kunjungan” ke Surabaya. Pengalaman dimana dalam melakukan
pengorganisiran, kita tidak harus terpaku pada moment
atau
harus memulai pengorganisiran ketika ketika ada kasus. Pengalaman
dimana dalam melakukan pengorganisiran tak harus terpaku pada sektor
yang biasa kita geluti. Pengalaman dimana masih banyak sekali
kelompok masyarakat yang harus kita organisir, jika kita ingin
mencapai tujuan sebuah kesejahteraan dan masyarakat yang berkeadilan
sosial.
*
Penulis adalah anggota Jaringan Gerakan Mahasiswa, sekaligus anggota
Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).