Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org

SADAR

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 147 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


SI “DOLLY” YANG SEXY DAN SI “BONEK” YANG BERINGAS


Oleh Dimas *


Di masa lalu, ketika kita mendengar kata Surabaya, maka yang terlintas di benak kita adalah kota pahlawan atau pertempuran dahsyat 10 November antara arek-arek Suroboyo melawan penjajah Belanda. Tapi saat ini semua telah berubah, yang terlintas di benak saya tentang Surabaya adalah “Dolly” dan “Bonek.” Mungkin itu juga yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata Surabaya, mungkin…..?

Tapi sayangnya masyarakat umum sudah kadung menilai dengan konotasi buruk tentang “Dolly” dan “Bonek,” tempat pelacuran, perempuan nakal, haram, hidung belang, dan banyak lagi tentang “Dolly.” Sementara “Bonek” mendapat cap suporter brutal, suka tawuran dan lain sebagainya.

Jalan Dolly merupakan sebuah lokalisasi pelacuran di sudut kota Surabaya yang cukup terkenal di Nusantara, bahkan konon merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Tapi sayangnya, saya bukan akan bercerita tentang bagaimana cantik dan sexynya si “Dolly.” Jika anda ingin tahu lebih banyak tentang Si “Dolly” baiknya anda datang saja sendiri. Saya akan bercerita tentang COPI (baca: kopi) yang merupakan singkatan dari Comunitas Pemuda Independent. Entah mengapa mereka menggunakan huruf “C” dalam kata komunitas. Mereka adalah para pemuda yang tinggal di Jalan Dolly, yang kesehariannya banyak bergelut dengan dunia kriminalitas, pengangguran, ataupun dengan narkoba yang menurut pemerintah adalah barang haram. Namun begitu Si “Dolly” memberikan sebuah penghidupan bagi warga sekitar juga pemuda-pemuda di wilayah tersebut, katakanlah dengan menjadi tukang cuci, membuka usaha warung makan, tukang becak, penjaga parkir, dan lain-lain. Begitu asyiknya di Dolly dan aktivitas yang intensitasnya begitu cepat, seolah-olah membuat warga sekitar lupa akan persoalan-persoalan yang dialami di luar sana dan sebenarnya juga akan berdampak bagi mereka.

Ari, adalah salah satu kawan saya yang tinggal di Kawasan Dolly. Melihat keseharian pemuda di Dolly yang lebih sering menghabiskan waktu luangnya usai bekerja dengan mabuk-mabukan, dia mulai memasukan persoalan-persoalan yang menimpa masyarakat umum dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang banyak merugikan rakyat. Ditambah sedikit agitasi tentang apa yang harus dilakukan dalam mengatasi persoalan yang dia sampaikan, maka terdoronglah semangat pemuda-pemuda di kawasan Dolly tersebut untuk membuat sebuah organisasi. Pada saat momentum kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, adalah saat pertama kali COPI melakukan mobilisasi aksi untuk menolak rencana kenaikan harga BBM dengan bergabung bersama berbagai elemen rakyat di Surabaya.

Memang belum banyak jumlah pemuda yang terorganisir oleh KOPI, sampai saat ini baru sekitar 25 orang pemuda yang tergabung dalam KOPI. Tapi menurut Ari, kemungkinan pertambahan anggota KOPI masih bisa terus terjadi seiring dengan aktifitas KOPI yang semakin banyak. Tak hanya berdiskusi tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi dalam keseharian, dan mencoba membangun kekuatan ekonomi mereka secara mandiri seperti membuat usaha sablon, atau jasa membuat tattoo. Tapi juga mulai merambah pada kepedulian mereka terhadap lingkungan mereka. KOPI berencana membuat kampung hijau di kawasan Dolly, yang memang merupakan tempat padat penduduk. Dan bukan hal yang mustahil, suatu saat pengorganisiran ini akan sampai ke pengorganisiran Dolly-Dolly yang cantik dan sexy itu, toh mereka juga merupakan bagian dari sektor masyarakat yang tertindas dan terhisap oleh sistem ekonomi politik yang ada saat ini.

Lain Ari dengan “Dolly” nya, lain pula Andik. Yang sehari-hari aktif sebagai ketua induk sebuah serikat buruh. Mendengar buruh, sedikit banyak ingatan kita akan terbayang pula pada sosok Marsinah, seorang pejuang buruh di zaman orde baru yang dengan keberaniannya mengobarkan semangat perlawanan walau harus menanggung resiko mati. Andik adalah ketua SBK, Serikat Buruh Kerakyatan, sebuah serikat yang dideklarasikan satu tahun setelah meninggalnya Marsinah.

Dengan latar belakangnya yang seorang aktivis perburuhan, tak membuat dia terkungkung dalam dunia buruh dengan berbagai macam problematikanya. Sebagai seorang penggemar olah raga sepak bola yang sejati, maka sudah pasti dia juga merupakan pendukung klub Persebaya kebanggaan warga Surabaya. Biasa kita sebut mereka dengan nama Bonek yang kependekan dari Bondo Nekad, atau dalam artian bahasa keseharian adalah modal nekad. Memang di media banyak digambarkan bonek itu adalah suporter sepakbola yang terkenal brutal dan beringas. Mereka tak segan masuk ke lapangan untuk menyerang pemain lawan, wasit ataupun polisi saat tim kesayangan mereka kalah atau merasa dicurangi. Juga sering terjadi bentrokan dengan suporter dari klub lain. Tapi bagi seoarang Andik, Bonek lahir dari spirit para arek-arek Suroboyo ketika terjadi pertempuran sengit melawan penjajah Belanda pada 10 November 1945. Hanya bermodalkan bambu runcing dan keinginan besar untuk lepas dan merdeka dari kekangan kompeni, mereka berani mengorbankan nyawanya untuk sebuah tujuan mulia.

Untuk mengabarkan semangat itu, dia mulai merintis sebuah kelompok suporter Persebaya yang kemudian dia beri nama CUBA, Comunitas Bonek Agresif. Sekali lagi huruf “C” dalam kata komunitas, mungkin agar samar-samar seperti sebuah negri di Amerika Latin yang berhaluan Sosialis, dan terkenal dengan tokohnya Che Guevara. Sudah ratusan orang yang terjaring oleh CUBA yang dengan setia selalu datang ke Tambak Sari, stadion milik Persebaya.

Melalui CUBA dia berharap bisa mengabarkan sebuah cerita bahwa Bonek tidak identik dengan brutal dan beringas. Bagi dia kebrutalan dan keberingasan Bonek hanya belum terarah dengan rapi saja, tapi semangat persatuan dan solidaritas yang tinggi, keberanian yang nekad, adalah sebuah modal awal dari radikalisme yang terarah. Baginya, kerusuhan yang sering dilakukan oleh Bonek dalam beberapa pertandingan sepakbola punya faktor dan latar belakang yang memicu hal tersebut, maka tak pernah dia menyalahkan bonek dalam setiap aksinya. Seperti slogan yang dia tuliskan dalam bonekagresif.blogspot.com, “BONEK Nekad – Tak Bisa Disalahkan.”

Sebuah pengalaman menarik dan inspirasi semangat yang saya dapatkan dalam “kunjungan” ke Surabaya. Pengalaman dimana dalam melakukan pengorganisiran, kita tidak harus terpaku pada moment atau harus memulai pengorganisiran ketika ketika ada kasus. Pengalaman dimana dalam melakukan pengorganisiran tak harus terpaku pada sektor yang biasa kita geluti. Pengalaman dimana masih banyak sekali kelompok masyarakat yang harus kita organisir, jika kita ingin mencapai tujuan sebuah kesejahteraan dan masyarakat yang berkeadilan sosial.


* Penulis adalah anggota Jaringan Gerakan Mahasiswa, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).


 
webmaster@prakarsa-rakyat.org