MENGAMEN,
SEBUAH PILIHANKAH?
Oleh Zai*
Seorang
pengamen telah menjadi idola Indonesia saat ini. Benarkah? Pandangan
orang atau rakyat Indonesia terhadap pengamen adalah
sekelompok pengangguran yang inginnya enak saja
tanpa mau
bekerja keras. Pengamen sering kali dilihat atau dipandang mayoritas
masyarakat Indonesia sebelah mata tanpa adanya pandangan atau
tinjauan dari sisi lain si pengamen.
Saat
ini, mengamen adalah sebuah pekerjaan yang sering dipandang hina atau
tidak kreatif. Padahal mengamen membutuhkan modal tersendiri,
terutama mental yang kuat dari cibiran dan pandangan buruk
orang-orang di sekitarnya. Selain mental, kemampuan suara dan
memainkan alat musik, penting untuk menunjang dalam melakukan
pekerjaan, yang sebenarnya adalah lebih banyak terpaksa dari pada
pilihan. Kita akan menemukan jawaban “lebih baik mengamen dari pada
mencuri” dari banyak pengamen bila kita menanyakan mengapa
mengamen?
Masyarakat
tidak melihat apa penyebab, atau kenapa sampai-sampai orang mengamen?
Menurut pandangan saya pengamen bisa disebabkan oleh faktor utama
karena sulitnya ekonomi. Kita bisa melihat fakta yang memaparkan,
mengapa orang memilih menjadi pengamen:
Pertama,
mengamen bukan suatu keinginan, karena faktor ekonomi negeri tercinta
ini yang tak kunjung membaik akhirmya ada istilah di pengamen bahwa
lebih baik mengamen dari pada mencuri.
Bahwa di Indonesia jumlah kemiskinan mencapai 65% dari penduduk
Indonesia menurut data yang dirillis Bank Dunia awal tahun 2008, dan
menurut pemerintah Indonesia mencapai 45% dari penduduk Indonesia,
ini menunjukan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia teramat banyak.
Kedua,
menurut survey yang dilakukan sebuah lembaga masyarakat menyebutkan
bahwa di Indonesia setiap tahunya menghasilkan lulusan 12 juta orang
sampai dengan 14 juta orang di setiap tahunnya, sedangkan lowongan
pekerjaan hanya mampu menampung sekitar 5% dari jumlah lulusannya,
jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 41 juta orang di tahun
2008. Banyaknya pengangguran mendorong orang untuk mencari pekerjaan
yang paling mungkin didapatkan, salah satunya pilihan yang bisa
didapat adalah mengamen.
Ketiga,
mahalnya pendidikan. Bagi seorang kuli bangunan atau buruh pabrik
yang upahnya rendah, jangankan untuk menyekolahkan anaknya, untuk
makan sehari-hari saja masih kurang. Maka pilihannya yang dengan
terpaksa melibatkan anak untuk ikut bekerja apapun yang penting
menghasilkan uang dan bisa membiayai hidup. Pun kalau sekolah,
pastilah tidak bisa tinggi karena biaya mahal.
Keempat,
pernah di suatu waktu saya membaca surat kabar bahwa pemerintah
mengalokasikan dana untuk menanggulangi pengangguran dan pemberdayaan
anak jalanan serta pengamen dan PKL dengan dibuatnya panti sosial
dengan alokasi dana 10% dari APBD pos dinas pendidikan atau dinas
tenaga kerja. Dengan program memberikan skill atau
keterampilan khusus, tapi karena berbagai hal yang tidak bisa
diketahui oleh umum, selanjutnya dana tersebut menguap entah ke mana
larinya.
Alasan
itulah yang membuat kita bisa manarik kesimpulan bahwa pengamen
bukanlah pekerjaan yang mereka inginkan. Mengamen adalah sebuah
solusi untuk menutupi kebutuhan sehari-hari yang semakin hari semakin
membengkak.
Di
kota-kota besar terutama di kota asal kelahiranku, Bandung
diperkirakan jumlah pengamen saat ini mencapai kurang lebih 800
orang, yang terdiri dari pengamen bis kota, prapatan dan rumahan.
Pengamen bis kota biasanya beroperasi di bis-bis, baik itu antar kota
atau dalam kota, pengamen prapatan mengamen di prapatan menunggu
lampu merah menyala dan pengamen rumahan mereka berkeliling ke rumah
peduduk. Antara pengamen-pengamen yang disebutkan di atas
masing-masing mempunyai wilayah-wilayah sendiri, artinya pengamen bis
tidak bisa ngamen di prapatan dan sebaliknya.
Kalaupun dia
mau pindah ngamen harus ijin kepada orang yang
dianggap paling
disegani di wilayah mereka. Itulah etika yang tidak tertulis di
antara pengamen.
Mengamen
bukan tidak ada tantangan atau hambatan, bahkan begitu banyak. Selain
pandangan yang kurang bagus, cacian dan hinaan juga panas, debu dan
yang akan berakibat pada kesehatan para pengamen. Namun ini sering
tidak dihiraukan. Selain pada fisik, jalanan juga membentuk karakter
atau watak kepribadian atau perilaku para pengamen. Mayoritas
pengamen memiliki watak liar, bebas dan semaunya (sering disebut
liberal), padahal tidak sedikit pula yang awalanya sangat pemalu,
sopan dan tertutup. Keadaan jalanan yang keras dan penuh kompetisi
telah merubah watak dan karakter mereka.
Watak
inilah, yang membedakan dengan kaum pekerja yang bisa disiplin dan
tanggung jawab. Watak bebas, lebih disebabkan karena himpitan hidup
yang berat sehingga harus dilupakan dengan cara apapun, karena
kemampun menjawabnya lemah. Maka ada pula prengamen atau anak jalanan
yang melarikan diri pada narkoba, seks bebas dan hal negatif lainnya.
Disadari atau tidak orang luar hanya bisa menyalahkan padahal inilah
hasil produk pembangunan bersistem kapitalistik. Namun banyak hal
positif yang didapat dari tempaan jalanan ini, yakni solidaritas
antar kawan dan mentalitas yang kuat terbangun.
Banyak
juga masyarakat yang mengatakan mengapa tidak ikutan lomba nyanyi,
idol atau yang lainnya? Jawabnya
sederhana, ruang kompetisi
untuk membuat orang tenar karena seni tidaklah mengangkat dan
menyelesaikan persoalan utama mengapa orang mengamen. Banyak pengamen
memiliki kemampuan bagus, tetapi bila tidak memiliki relasi dan
kesempatan maka tetap saja akan terpinggirkan.
Kompetisi
seni bagi sistem yang berjalan sekarang hanyalah alat promosi bagi
produk-produk dan akan menjadi lahan produk baru bila melahirkan
pemain seni baru. Untuk bisa berkompetisi pengamen harus menguasai
teknik-teknik yang itu disediakan di sekolah-sekolah seni. Atau
membutuhkan waktu khusus berlatih, sementara pengamen mengejar agar
mendapatkan penghasilan yang cukup dari pada berlatih yang belum
tentu menghasilkan uang. Walaupun ada contoh pengamen dapat jadi idol
atau masuk final pada kompetisi, itu tidak lebih hanya mempromosikan
wajah manis kapitalisme yang juga memberi jalan bagi si miskin. Dan
itu hanya satu-dua saja tidak lebih dan tidak member solusi sulitnya
lapangan pekerjaan.
Maka
langkah kecil dengan membentuk komunitas seni jalanan adalah upaya
yang sederhana memperbaiki watak serta kualitas berkesenian pengamen.
Ini masih jauh dari upaya merubah bangsa ini, tetapi ini lebih baik
daripada mengikuti arus yang dibangun kapitalisme di ranah seni.
Apalagi seni budaya atau sastra adalah alat untuk mempengaruhi
pikiran paling mudah. Maka komunitas seni juga memajukan kualitas
dari pada isi seni yang mengangkat realisme sosial, bukan seni yang
membangun mimpi-mimpi.
*
Penulis adalah anggota Kelompok Pengamen Jalanan dan Komunitas Sastra
Pinggir. Sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat
dari Simpul Bandung.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).