IKLAN
POLITIK, PEMBODOHAN KEPADA RAKYAT!
Oleh
Abdul Rojak *
Hari-hari
ke depan, selama 9 bulan nanti, bisa jadi menjadi hari-hari obral
janji bagi poitikus Indonesia karena selama 9 bulan itu, sejak 12
Juli 2008 sampai dengan 5 April 2009 akan disuguhkan di hadapan
rakyat masa panjang kampanye menuju Pemilu 2009. Sebuah paradoks yang
sangat kentara ketika dihadapkan pada kondisi Rakyat Indonesia yang
sangat miskin, bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan sangat minimal
seperti makan dengan ketersediaan kalori cukup.
Selama
9 bulan itu, semua ruangan, sepanjang jalan, sejauh mata memandang
dan ke arah manapun kaki kita melangkah bahkan ketika kita berangkat
tidurpun seakan tiada ruang kosong bagi iklan politik, kampanye
janji-janji politikus yang berjanji mensejahterakan rakyatnya.
Pemandangan ini, secara langsung atau tidak langsung pasti akan
menghegemoni kesadaran rakyat tentang pemilu 2009 sebagai pemilu yang
oleh rezim, operator politik, pimpinan parpol, calon-calon legislatif
dan calon presiden wajah baru apalagi wajah lama untuk mencekokkan
bahwa pemilu adalah “pintu ajaib” menuju
Indonesia baru.
Dengan melampauinya, maka otomatis kita akan sampai pada kondisi
Indonesia yang baru, Indonesia tanpa kemiskinan dan Indonesia yang
gemah ripah. Sementara perdebatan di luar pagar, kedai-kedai kopi,
angkutan kota yang macet, tukang ojek dan segenap rakyat yang lain
masih berkisar pada keraguan benarkah pemilu 2009 akan memberikan
solusi ? Seiring dengan itu, pilihan untuk tidak terlibat dalam
pemilu 2009 dengan golput misalnya menjadi wacana yang menarik.
Tulisan ini, dimaksudkan untuk mencoba mengutak-atik tentang
iklan politik dengan sebuah pertanyaan awal kenapa politikus begitu
tergoda untuk membelanjakan uang berlimpah (yang tidak jelas darimana
asal usulnya) untuk iklan politik.
Iklan
politik dan perputaran uang
Perputaran
uang yang terjadi dalam bisnis iklan politik sangat menggiurkan.
Misalnya saja seperti diungkapkan oleh Rizal
Mallarangeng, pendiri Jasa Konsultan Strategi dan Politik
Foxindonesia, “Biaya untuk menjangkau kesadaran publik melalui
media berkisar antara Rp 1–5 per kapita. Jika menggunakan pawai dan
acara-acara sejenisnya biaya membengkak menjadi Rp 1.000 – tak
terhingga per kapita. Senada dengan Rizal Subiakto, CEO Hotline
Advertising mengakui bahwa ketika menangani kampanye SBY-JK dia
menghabiskan dana sekitar Rp 30 miliar, sementara ketika kampanye
pasangan cagub DKI Fauzi Bowo menghabiskan dana sekitar Rp 20 M
dengan margin keuntungan bersih masuk kantong sekitar 20-30 %.
Fenomena itu masih akan berlanjut tahun 2008-2009 ini. Sebagai
perbandingan betapa besarnya biaya iklan politik itu, Subiakto
menjelaskan bahwa belanja Iklan Indonesia tahun 2007 adalah sekitar
40 triliun rupiah dan sekitar 10 triliun adalah belanja iklan
politik, tahun 2008/ 2009 akan meningkat 3 – 4 kali lipat lebih
besar. Coba hitung sendiri berapa total biayanya?
Sementara
Irfan Wachid, 25frame Indonesia Production mengatakan seorang
politikus nasional menghabiskan Rp 5-10 miliar/bulan untuk biaya
poles diri, poles senyum mematut penampilan di hadapan rakyat
pemilihnya, sementara di daerah bisa menghabiskan Rp 1-5 miliar per
bulan. Iklan-iklan seperti Soetrisno Bachir yang gencar misalnya
menghabiskan dana Rp 2 miliar. Bahkan kenyataan untuk Soetrisno
Bachir bisa jadi melebihi jumlah itu kalau kita bandingan dengan
kenyataan yang sebenarnya seperti yang banyak beredar di kalangan
milis politik bahwa iklan-ilkan, poster dan gambar Soetrisno ada juga
di hutan-hutan sepanjang perjalanan Jakarta ke Jawa Timur (!).
Fantastis.
Kemudian
bandingkan fenomena di atas dengan kemungkinan yang akan terjadi di
waktu mendatang. Fenomena pemilu di Indonesia menjadi ladang yang
menggiurkan bagi bisnis iklan politik dengan asumsi hitungan
minimalnya adalah di Indonesia ada 440 kabupaten dan 33 propinsi,
artinya dalam waktu 5 tahun akan ada 473 pilkada, belum lagi bila
ditambah dengan pemilu legislatif nasional dan lokal. Artinya dalam
setahun akan ada sekitar 100 kali pilkada. Kalau setiap pilkada
diikuti 3 pasangan calon maka akan ada 300 pasangan calon. Dan
seandainya setiap calon menghabiskan Rp 1 miliar untuk biaya iklan
politik, maka dalam setahun akan ada uang sekitar Rp 300 miliar yang
dihabiskan untuk iklan politik, ini adalah jumlah minimal karena pada
kenyataannya setiap pasangan calon pasti menghabiskan dana di atas Rp
1 miliar. Lalu bagaimana dengan iklan politik bagi parpol baru
peserta pemilu 2009 yang berjumlah 34 partai? Dengan hitungan minimal
bahwa 15-20 parpol yang membutuhkan sosialiasi untuk pemilu 2009,
coba hitung berapa uang yang berhamburan? Sekali lagi : Fantastis!
Lalu,
kenapa iklan politik menjadi sangat diminati bagi politikus? Data
survey seperti dilansir Kompas edisi Miggu 20 Juli 2008 ini bisa jadi
acuan bahwa model iklan dengan pemasangan bendera tingkat
efektivitasnya adalah 44,7 %, spanduk: 44,8 %, TV: 71,7 %, aksi
pengerahan massa: 71,2 % dan pawai atau karnawal: 70,9 %. Maka, para
politikus akan berebutan kesempatan untuk memanfaatkan slot iklan itu
semaksimal mungkin.
Data
di atas dan kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang tidak
bertentangan. Artinya bahwa pengakuan para praktisi periklanan itu
memang benar adanya. Arti lebih kongkrit lagi adalah bahwa para
politikus itu, akan melakukan upaya apapun sebagai usaha untuk
mempopulerkan dirinya di hadapan rakyat bahwa dia adalah pilihan
tepat bagi penyelesaian karut-marut politik tanah air, bahwa dirinya
adalah sosok ideal bagi keluarnya bangsa ini dari kekacauan dan
krisis.
Iklan
politik, jujurkah?
Pertanyaan
ini yang kemudian muncul ketika kita tahu betapa besarnya uang yang
berputar dalam lingkaran bisnis itu. Tetapi yang juga menjadi
pertanyaan penting bagi kita dan sebagian besar rakyat Indonesia saat
ini, benarkah mereka akan menjadi “ratu adil” yang muncul ke
permukaan menyelesaikan problematika rakyat ? Sebuah pertanyaan yang
sepertinya tidak akan kita temukan jawabannya karena pada dasarnya
iklan-iklan politik sifatnya tetap sebagai iklan, tujuan utama
memasarkan produknya saja, dengan target meningkatnya pencitraan yang
ujung-ujungnya penjualan (calon
legislatif, calon presiden)
meningkat. Perkara kualitas barang/produk bisa dipertanggungjawabkan
atau tidak adalah urutan ke sekian, atau bahkan tidak ada sama sekali
dalam daftar. Kalau ini yang terjadi, maka sebenarnya yang sedang
berlangsung adalah upaya-upaya iklan politik itu hanya pembodohan
bagi rakyat dengan biaya yang juga berasal dari rakyat. Kenapa
demikian? Karena biaya (uang) yang dikeluarkan untuk iklan-iklan
politik itu pastilah hasil “rampasan” dari rakyat juga dengan
berbagai modusnya dari yang paling halus sampai yang paling kasar
sekalipun.
Direktur
Eksekutif Reform Institue Yudi Latief menegaskan bahwa pesan-pesan
iklan politik kebanyakan dangkal, serba artifisial, dan tidak otentik
serta tidak nyambung dengan kebutuhan batin rakyat.
Kemudian
pendapat yang hampir sama diungkapkan oleh Ketua Badan pengurus Pusat
Oi (Orang Indonesia, organisasi Fans Clubnya Iwan Fals) meragukan
apakah dalam kehidupan sehari-hari para politikus itu seideal yang
dibicarakan media-media? Kalau tidak, maka sebenarnya bagi mereka
bisa menjadi bumerang.
Bahkan
sebenarnya yang terjadi kemudian adalah hukum pasar, saling klaim,
saling menjelekkan kompetitor dan saling berpropaganda keunggulan
dirinya dibanding yang lain. Inilah wajah kapitalisasi politik itu
sebenarnya, keuntungan bagi segelintir orang dengan mengorbankan
kepentingan publik yang lebih besar. Bahkan dalam kenyataannya,
iklan-iklan politik itu juga tidak mengindahkan etika. Sebagai contoh
saling serang antar calon presiden dengan pembunuhan karakter,
padahal dalam masa-masa orde baru mereka sama-sama duduk dalam satu
kabinet yang terbukti menindas rakyat.
Fenomena
saling mengunggulkan dirinya dan membunuh karakter kompetitor dengan
target “penjualan produk” dan keuntungan bagi dirinya sendiri
tanpa memberikan data, fakta, pendidikan yang jujur bagi rakyat
adalah keniscayaan yang selalu akan digulirkan sebagai watak dasar
kapitalisme, maka apa sebenarnya yang bisa kita harapkan dari
“politikus yang mengklaim dirinya calon pemimpin kita itu” kelak
ketika mereka benar-benar berkuasa? Sama saja, mereka akan menjadi
antek-antek kapitalis melanjutkan penindasan dan penghisapan
sebagaimana dipertontonkan rezim pendahulunya.
Apa
sikap kita?
Hidup
dalam pertarungan rimba tanpa hukum dengan aturan main siapa kuat dia
yang menang, siapa punya duit, dia raja tentu sangat menyesakkan bagi
kita sebagai rakyat tertindas. Tetapi, tetap saja kita harus tetap
bergerak melakukan upaya cerdas menyadarkan rakyat bahwa kondisi ini
harus segera diakhiri. Upaya-upaya maksimalis dalam kondisi serba
minimalis ini harus tetap digulirkan dengan tak lelah merangkul
kekuatan rakyat yang lain, mengajak duduk bersama dan berpikir
merumuskan langkah ke depan belajar dari kesalahan praktek di
lapangan untuk dijadikan sebagai teori pemandu yang baru tentu akan
menjadi upaya yang bisa kita lakukan.
Ini
adalah upaya yang tidak ringan, tetapi harus kita lakukan dengan
sebuah keyakinan bahwa kesatuan rakyat tertindas yang terdidik
terpimpin dan terorganisir akan mampu membuat perubahan. Sekali lagi
ini memang langkah berat tapi harus kita lakukan karena mesin politik
pembodohan tetap berjalan. Ketidakmautahuan mereka mendengar jeritan
penderitaan rakyat akan terus berlanjut. Maka kalau kita tidak
melakukan upaya, sudah dipastikan kitalah yang akan tergilas.
Dan
fenomena pemilu 2009, dengan segala iklan politik yang sudah kita
bahas di atas, sepertinya tidak boleh kita biarkan. Kabarkan kepada
rakyat bahwa proses pendahuluan pesta demokrasi saja sudah sangat
merugikan rakyat, apalagi ketika konstelasi politik sudah semakin
padat menjelang pilpres nanti? Hitungan sederhana perputaran uang
melalui iklan politik itu, sepertinya akan menjadi berita yang
membuat rakyat marah (baca: sadar) kalau bisa kita kemas dengan
bahasa yang mudah dipahami.
Coba
simak pendapat Ketua Badan Pengurus Pusat Oi berikut ketika
menanggapi janji kosong iklan politik itu, “Kami meragukan apakah
dalam kehidupan sehari-hari para politikus itu seideal yang
dibicarakan media-media? Kalau tidak, maka sebenarnya bagi mereka
bisa menjadi bumerang. Karena itu Oi tidak mengidamkan sosok yang
muluk-muluk. Yang terpenting para pemimpin itu mampu memenuhi
kebutuhan rakyat, bukan pelanggar HAM dan tidak suka berbohong.”
Syarat tidak
berbohong? Wah, ini yang susah......
Jadi?
Iklan politik dengan biaya tinggi dan sumber uang yang tidak jelas
itu ? Ah, itu hanya pembodohan rakyat saja..................
*
Penulis adalah buruh di PT.Plasindo, anggota
Perhimpunan Rakyat Pekerja-Karawang. Sekaligus
anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat
dari Simpul Jabodetabek.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).