TAHUN
AJARAN BARU, (AWAL) KESENGSARAAN BARU
Oleh
Sarwo Raras *
“Dalam
setahun, orang tua murid minimal harus menyediakan biaya pendidikan
sejuta rupiah...”
Penggalan
kalimat di atas, saya baca secara sepintas di Harian Kompas 3 hari
yang lalu. Dan ketika saya mulai membuat tulisan ini, adalah tepat 4
hari dua orang anak saya memasuki hari sekolah yang baru. Si sulung,
masuk kelas 4 SD sedangkan si bungsu memasuki hari barunya di TK.
Kemudian apa hubungan antara keduanya?
Jawabnya saya yakin
dirasakan hampir sebagian besar orang tua yang menyekolahkan
anak-anaknya: kepusingan!
Sebulan
yang lalu, mungkin menjadi hari yang membahagiakan bagi saya, ketika
melihat nilai raport anak saya yang lumayan bagus dan naik kelas 4,
sementara si bungsu mendapatkan sekolah barunya. Ada semacam “hiburan
kecil” atas kelelahan menyiapkan hari-hari panjang sekolahnya,
sepertinya terbayar jerih payah. Namun, suasana itu rasanya tidak
bertahan lama karena biasanya ketika anak-anak liburan sekolah,
jantung saya terasa dipacu secara paksa lebih kencang saja. apalagi
kalau bukan karena kepusingan memikirkan biaya sekolah anak-anak
dalam tahun ajaran baru. Artinya, memasuki tahun ajaran baru pastilah
dihadapkan pada kondisi yang sangat dilematis dan benar-benar sulit.
Pengalaman
tahun-tahun sebelumnya mengajarkan pada ibu muda seperti saya untuk
menghitung lagi berapa nilai rupiah yang harus saya siapkan untuk
menutup kebutuhan sekolah anak-anak. Jumlahnya cukup besar untuk
ukuran saya yang bersuamikan buruh dengan penghasilan sangat
pas-pasan, bukan karena suami malas bekerja tetapi memang upahnya
sangat rendah. Ini realita tanpa bermaksud mengabaikan nasihat orang
tua saya dulu: pandai-pandailah bersyukur. Tetapi menceritakan
kondisi yang sebenarnya sebenarnya juga bukan sesuatu yang salah
karena sesungguhnya hampir sebagian besar orang tua yang lain juga
mengalami hal yang kurang lebih sama.
Petikan
kalimat dari koran yang saya baca, terbukti tidak tepat, karena
ternyata saya harus menyediakan uang yang jauh lebih besar, bukan
sejuta rupiah. Tetapi lebih besar lagi. Hitung saja misalnya
pengeluaran nyata yang saya alami: uang pendaftaran anak bungsu masuk
TK mencapai 475.000 rupiah untuk keperluan seragam, uang gedung, uang
pendaftaran. itu belum termasuk kebutuhan sekolah lainnya semisal
buku tulis, sepatu, tas dan lain-lain. Kemudian untuk si sulung, uang
yang harus saya keluarkan juga tak kalah besar. seragam barunya saja
mencapai 150.000 rupiah, juga buku dan alat tulis tak kurang dari
100.000 rupiah. Tiba-tiba saya terhenyak ketika sepulang sekolah tadi
siang si sulung menyerahkan daftar buku paket dan Lembar Kerja Siswa
(LKS) dan “kewajiban” membeli alat praktek musik pianika sebesar
500.000-an rupiah. Duh, sepertinya tidak ada
kesempatan untuk
bernafas. Belum lagi uang jemputan sekolah sebesar 130.000 rupiah.
Berapa total semuanya? Kurang lebih 1.355.000 rupiah bukan dalam
setahun, tetapi dalam waktu hanya sekitar seminggu saja.
Tapi
perlu diingat, pengeluaran itu belum seberapa karena masih akan
ditambah lagi “proyekisasi” yang dilakukan oleh guru dan kepala
Sekolah untuk berbagai hal. Sebut saja misalnya pengadaan buku paket
dan LKS. Pilihannya bukan kualitas tapi semata-mata pada tingginya
bonus atas nama diskon dari penerbit yang menggiurkan sampai 35%
seandainya kepala sekolah berhasil menggolkan buku
dari
penerbit tertentu. Ini adalah ironis. Lengkaplah kepusingan para
orang tua.
Quo
Vadis Pendidikan Indonesia ?
Saat
ini semangat semua orang adalah otonomi. Tetapi pemaknaannya manjdi
sangat keliru. Otonomi dipahami sebagai “kekuasaan” semata.
Jadilah gairah otonomi yang didengungkan terhadap lembaga pendidikan,
urusan sekolah di Indonesia semakin runyam dan mengkhawatirkan.
Otonomi dalam praktik cenderung menjadi komersialisasi pendidikan.
Padahal, mahalnya uang sekolah tidak diimbangi oleh perbaikan
kualitas pendidikan.
Nampak
jelas sekali bahwa slogan bangsa hanyalah utopis. Menjadi semakin
ironis jika selama ini kerap menyatakan ambisinya untuk dunia
pendidikan di negeri ini. Dalam konstitusi negara yang sudah
diamandemen dengan “penuh nafsu” oleh para wakil rakyat terhormat
misalnya, disebutkan seperlima bagian dari seluruh APBN diperuntukkan
bagi pendidikan. Belum lagi produk perundangan selanjutnya yang
mengesankan intervensi sedemikian jauh, seolah-olah negara begitu
memperhatikan perlunya mencerdaskan bangsa.
Nyatanya,
apa yang tertuang dalam konstitusi negara belum terlihat dampaknya.
Banyak sekolah-sekolah yang butuh bantuan, namun tidak ada perhatian
pemerintah sehingga tamatlah kelangsungannya. Hal ini tidak hanya
terjadi di pelosok, tetapi di ibu kota pun beberapa bangunan sekolah
roboh. Sebaliknya, ada juga sekolah-sekolah yang berani memasang
’harga’ begitu tinggi sehingga masyarakat yang berpenghasilan
pas-pasan pasti tidak berani
mendaftarkan anaknya.
Ekspresi
demikian muncul dalam jajak pendapat Kompas. Kali ini, tidak kurang
dari 42 persen responden berpendapat, biaya sekolah di SD saat ini
sangat mahal. Hanya 18 persen saja yang menganggap biaya di SD saat
ini tergolong murah. Artinya ada 82 persen yang lain menyatakan bahwa
pendidikan mahal. Untuk biaya di sekolah menengah, 45 persen
responden menganggap biaya di SMP saat ini mahal dan 51 persen
menganggap biaya di SMU saat ini mahal. Hanya 12 persen responden
yang masih menganggap biaya sekolah di SMP murah dan sembilan persen
biaya di SMU murah.
Inilah
kondisi yang sebenarnya terjadi, bahwa negara memang tidak memiliki
perhatian yang serius terhadap dunia pendidikan kita. Meskipun sudah
diatur dalam konstitusi bahwa 20 % APBN adalah untuk pendidikan,
namun presiden justru malah menjadi orang pertama yang melanggar hal
itu dengan mengingkari ketentuan anggaran pendidikan 20 % tersebut,
alasannya akan dilaksanakan secara bertahap, tetapi tidak jelas
bagaimana caranya dan kapan?
Apa
Solusinya?
Berbicara
solusi, hari ini tentu menjadi barang yang mahal dan langka, sama
mahal dan langkanya dengan BBM yang sudah dulu terjadi. Lebih sama
lagi dengan mahal dan langkanya tanggung jawab negara atas
permasalahan rakyatnya. Letak solusi itu ternyata ada pada political
will dari pemerintah. Konsistensi pemerintah dalam
menjalankan
amanat konstitusi menjadi kuncinya. Tetapi mungkinkah kita berharap
banyak?
Saya,
kadang-kadang mendiskusikan dengan ibu-ibu yang lain di lingkungan
tempat tinggal saya tentang kondisi ini. Dan kesimpulannya,
sebenarnya pemerintah mampu membuat biaya pendidikan ini menjadi
murah bahkan gratis sekalipun. Sekali lagi, kuncinya adalah
keberanian pemerintah membuat keputusan politik atas hal ini.
Katakanlah, dari penyelamatan uang negara yang dikorupsi saja kita
bisa menutup biaya pendidikan yang sangat tinggi itu. Ini tentu upaya
tidak mudah yang lagi-lagi membutuhkan keseriusan pemerintah. Tentu
saja upaya ini harus dibarengi dengan upaya-upaya politis lainnya,
misalnya saja menyusun regulasi pendidikan yang benar-benar berpihak
pada rakyat, bukan justru mengejar kepentingan sesuai dengan tuntutan
pasar alias kapitalisasi pendidikan. Karena kapitalisasi dan
komersialisasi pendidikan hari ini justru sudah memangkas
hak politik dan sipil mereka yang miskin. Pilihan politik maupun
sipil, dengan begitu hanya terbuka bagi mereka yang berkecukupan.
Karena itu, perluasan lingkup kebebasan tidak sekedar berkisar
seputar kebebasan demokratis, melainkan juga syarat-syarat
aksentuasinya seperti fasilitas ekonomi, kesempatan sosial dan
perlindungan sosial.
Tetapi
pertanyaannya yang selalu mengganjal di hati saya adalah mungkinkah
hal itu akan berhasil kalau ternyata pemerintah yang kita harapkan
mampu membuat terobosan itu juga kerepotan mengurus dirinya sendiri?
Kalau bukan karena sibuk menyusun anggaran untuk kampanye menjelang
pemilu 2009, tentu sedang sibuk menyelamatkan dirinya dari terjangan
badai KPK yang hari ini sedang manjadi amuk bagi sebagian besar
anggota DPR.
Ah,
rasanya orang tua seperti saya, harus mengubur jauh-jauh mimpi untuk
melihat anak-anak dapat bersekolah dengan kesempatan yang luas, biaya
murah dan mencapai jenjang yang lebih tinggi. Terkuburnya mimpi saya
dan para orang tua yang lain hari ini, pada waktunya nanti akan
menuju terkuburnya mimpi bangsa ini mencapai taraf yang lebih maju.
Betapa tidak? Anak-anak yang kelak akan memimpin negeri ini, hari ini
dibiarkan bodoh.
Mari
kita renungkan, benarkah tahun ajaran baru ini adalah awal
kesengsaraan baru?
*
Penulis seorang ibu rumah tangga tinggal di Karawang, sekaligus
anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul
Jabodetabek.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).