BYAAR
PET…….., RAKYAT JUGA YANG JADI KORBAN!
Oleh
Khamid Istakhori *
Byaaaar
pet……… Demikian ungkapan sangat populer untuk menggambarkan
kondisi perlistrikan di Indonesia. Tiba-tiba mati tanpa pemberitahuan
atau Listrik masih juga belum nyala meskipun sebenarnya jadual
pemadaman sudah lewat.
Suasana
itu nyata sekali sebagai dampak dari pemadaman bergilir yang
dilakukan oleh PLN itu saat ini menjadi sebuah kenyataan yang tak
terbantahkan. PLN, sebagai pihak yag bertanggung jawab mengurus
tersedianya pasokan listrik bagi masyarakat dalam kondisi yang
meradang akibat ketidakmampuan mengelola sumber energi listrik.
Akibatnya sudah dapat diduga pula, PLN akhirnya menuai badai kritikan
dan protes yang berkepangnjangan dari masyarakat. Mulai tuduhan tidak
mampu mengelola sumber daya dan energi yang sebenarnya berlimpah
hingga tudingan bahwa birokrasi PLN korup menunjukkan kebenaran bahwa
memang perusahaan negara ini (sebagaimana perusahaan negara yang
lain) memang gagal dan tidak mempu melayani publik, rakyatnya
sendiri. Dan pemadaman begiliran itu, adalah akibat yang hari ini
harus kita rasakan.
Permasalahan
kembali menjadi lebih rumit, alih-alih segera memperbaiki kinerja
yang memang amburadul, pemerintah malah membuat
alasan-alasan
yang terkesan hanya sebagai upaya untuk menyelamatkan muka sendiri
tetapi tetap saja permasalahan utamanya tak penah terselesaikan.
Alasan utamanya adalah krisis energi, sehingga ujung-ujungnya
pasti rakyat yang harus setiap hari mendengarkan wejangan bijak yang
sejatinya tak bijak tentang bagaimana melakukan penghematan,
celakanya lagi disertai ancaman kalau tak berhasil berhemat sesuai
dengan skema tawaran negara maka akan dihukum dengan kenaikan biaya
pembayaran rekening listik yang jauh lebih tinggi.
Indonesia
Krisis Energi, Benarkah ?
Ini
adalah pertanyaan klasik ketika kita membicarakan energi, mulai dari
sumber daya energi minyak (baca : BBM) yang kekacauannya sudah sangat
parah terlebih melihat kepanikan pemerintah membuat argumen sesat
untuk melegitimasi kenaikan harga BBM yang jauh melebihi analisa akal
sehat, sekarang argumen-argumen dangkal berikutnya disodorkan
pemerintah ketika sumber energi listrik tak tersedia dengan cukup
untuk kehidupan rakyatnya, maka berbagai tawaran dan solusi sepihak
dipaksakan oleh pemerintah. Sungguh sebuah solusi yang anarkis.
Listrik,
seharusnya bukan menjadi masalah yang mengkhawatirkan seandainya
pemerintah benar-benar mengelola melalui cara-cara yang berkeadilan.
Benar-benar dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyatnya sesuai
dengan amanah konstitusi negara. Negara benar-benar menguasai hajat
hidup orang banyak ini dengan “satu tujuan utamanya”
mensejahterakan rakyatnya. Sama seperti ketika negara gagal mengelola
minyak, padahal Indonesia adalah negara sangat kaya minyak dengan
cadangan yang belimpah, bahkan melampaui cadangan yang dimiliki Arab
Saudi. Kenapa Indonesia “krisis” minyak? Nyata-nyata diakibatkan
karena salah kelola sehingga kita harus membeli minyak sendiri dengan
harga yang sangat mahal. Maka, demikian pula dengan energi listrik,
karena pengelolaan yang serampangan maka kini “krisis listrik”
harus kita tuai sebagai akibatnya. Sama seperti minyak, kita juga
dipaksa untuk membeli listrik dengan harga yang jauh melebihi harga
normalnya karena banyak hal: kepengelolaan yang tidak efisien, dampak
pengusaan swasta terhadap pegelolaan sumber energi listrik (baca
privatisasi) dan juga tentu saja karena kebijakan-kebijakan
perlistrikan yang hanya melayani kepentingan modal asing dan
diperparah dengan perilaku birokrasi kita yang korup. Lengkap sudah
alasan itu menjadi jawaban, bukan semata-mata kenapa listrik jadi
mahal tetapi juga kenapa pasokannya tidak optimal untuk kehidupan
rakyatnya.
“…….
Kami ini serba salah. Untuk produksi listrik kami harus membeli bahan
balar minyak dengan standar harga industri. Sementara bahan bakar gas
tak tersedia karena justru dijual kepada Jepang dan Malaysia. Kemudia
ketika kami memilih bahan bakar batubara, masalah kembali muncul
karena kami tersandung kebijakan yang ruwet mulai dari suplai, stok
di depo dan berbagai kesulitan lain. Dan sekarang kami dijebak dalam
permainan politik yang dihembuskan negara bahwa kenaikan harga
listrik adalah kamauan PLN……,“ kata salah seorang Pengurus
Serikat Pekerja PLN dalam aksi “Tolak Kenaikan BBM.” “Padahal,
kalau negara membuat kebijakan dan memerintahkan agar kami menjual
listrik gratis kepada masyarakat pasti akan kami lakukan.”
Ungkapan
kalimat kekesalan di atas setidaknya menjadi bukti bagi kita semua,
bahwa sebenarnya memang pemerintah hanya akan mencari “menang
sendiri” dengan melemparkan segala jenis kesalahan pada pihak lain.
Lebih tegas, pesan yang kita terima adalah bahwa sejatinya pemerintah
dalam posisi tidak memiliki kedaulatan untuk mengatur hidupnya demi
kemakmuran rakyatnya. Tidak ada kemauan politik untuk mengambil
keputusan berani. Sama kejadiannya ketika kita membahas karut-marut
pengelolaan BBM. Bukan krisis energi yang terjadi, tetapi sebenarya
adalah krisis keyakinan politik, krisis dan ketidakpercayaan pada
kekuatan diri sendiri. Itu yang sebenarnya terjadi.
Rakyat
Juga yang jadi Korban !
"Panasonic
Lighting yang berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur, terpaksa merugi Rp 4
miliar akibat pemadaman tidak terjadwal," kata John Manopo,
Ketua Asosiasi Perlistrikan Indoesia memberikan keterangan.
Media
massa mencatat, setidaknya selama Mei – Juni 2008, Perusahaan
Jepang mengalami kerugian hingga 48 miliar rupiah akibat pemadaman
bergilir tersebut. Dalam catatan Aperlindo, ujar John, perusahaan itu
berkapasitas 25 juta unit lampu hemat energi per tahun. Sekitar 80%
produksi perusahaan itu dialokasikan untuk ekspor dengan harga jual
US$ 2/unit. "Dengan adanya pemadaman tidak berjadwal, Panasonic
Lighting mengaku kewalahan memenuhi order ekspor. Saat terjadi
pemadaman listrik, pekerja Panasonic Lighting terpaksa masuk jam
15.00 WIB. Ini mengganggu kinerja perusahaan," ucapnya. Menurut
John, pemadaman listrik bergilir itu membuat pengusaha Jepang berniat
merelokasi usahanya ke China. Ancaman hengkangnya pengusaha Jepang
itu turut membuat pemerintah, mempercepat rencana penghematan listrik
di dalam negeri. Salah satu opsinya adalah adanya kebijakan yang
melarang industri beroperasi saat beban puncak PLN pukul 17.00-22.00
WIB. "Operasional industri pada waktu itu akan digeser ke
Sabtu-Minggu," kata Dirjen ILMTA Depperin Ansari Bukhari, usai
rapat internal di Gedung Depperin.
"Selain
mengurangi subsidi listrik, penghematan konsumsi listrik juga akan
menghindari pemadaman listrik bergilir yang merugikan industri kecil
dan menengah," ujar Menteri Perindustrian Fahmi Idris setelah
rapat terbatas di Kantor Wakil Presiden. Selain Fahmi, rapat juga
diikuti Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati, Menteri ESDM
Purnomo Yusgiantoro, Dirut PLN Fahmi Mochtar, Ketua Tim Percepatan
Pembangunan Pembangkit Listrik 10 Ribu MW Yogo Pratomo, dan Ketua Tim
Pelaksana Penghematan Listrik Eddie Widiono. Ujung-ujungnya,
subsidi untuk rakyat lagi yang harus dipangkas.
Apakah
masalah selesai? Sikap cepat pemerintah untuk merespon ancaman
pengusaha Jepang dengan menerbitkan SKB 5 menteri yang mengatur dan
menggeser jam kerja pada Sabtu-Minggu atau pada hari libur,
setidaknya menunjukkan 2 hal, pertama
bahwa pemerintah selalu panik
dengan ancaman relokasi yang
selalu jadi ancaman pengusaha-pengusaha asing. Kedua,
satu-satunya kebisaan dan kebiasaan pemerintah untuk menjawab ancaman
itu adalah dengan mengorbankan rakyatnya dalam hal ini buruh.
Secara
sederhana, penggeseran jam kerja pada hari libur, Sabtu dan Minggu
dapat dipastikan akan membuat kerugian sosial yang sangat tinggi pada
buruh. Kenapa? Alasan sederhananya, buruh kehilangan waktu
berharganya untuk kehidupan sosialnya bermasyarakat dan juga
menjalankan kemerdekaannya untuk menjalankan serikat karena sebagian
besar buruh anggota serikat memanfaatkan waktu istrirahat mingguannya
untuk agenda-agenda serikat buruhnya. Kerugian lain adalah,
perusahaan tidak akan mau memberikan fasilitas lebih kepada buruh
berkaitan dengan upah dan upah lembur. “Bagaimana kami akan
membayar upah lembur, sementara kami juga mengalami kerugian akibat
pemadaman listrik ini,” demikian kilah pengusaha.
Artinya?
Tetap saja, selama pemerintah tidak mempunyai keberanian mengelola
sumber daya energi secara berdikari dan dimulai dengan keputusan
politik yang berani untuk semata-semata berpihak kepada kepentingan
rakyatnya, maka sudah dapat dipastikan kondisi ini akan terus
berlanjut dan menjadi lebih buruk.
Ya,
Indonesia tidak krisis energi, tetapi sejatinya krisis politik untuk
bersikap berani di hadapan kaum modal yang agenda utamanya memang
melemahkan peran negara untuk kemudian sebesar-besarnya menghisap
rakyatnya….
Byar
pet! byaaar pet pet pet!
*
Penulis adalah anggota Federasi Serikat Pekerja Karawang (FSPEK),
sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul
Jabodetabek.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).