2009:
SIAPA YANG INGIN BERGOLPUT?
Oleh
Eka Pangulimara H*
Cukup
mengejutkan! Belum lama ini ketua umum partai berlambang banteng
moncong putih, Megawati, anak Bung Karno. Yang juga mantan presiden
pertama di republik ini mengucapkan, "Orang-orang golput
seharusnya tidak boleh menjadi WNI, karena mereka menghancurkan
sistem dan tatanan demokrasi serta perundang-undangan di negara ini."
Ketika menjadi juru kampanye untuk pasangan calon gubernur dan wakil
gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu - Said Assagaff (RASA) pada
kampanye putaran terakhir di lapangan Merdeka, Ambon, Sabtu, 5 Juli
2008.
Tidak
boleh menjadi WNI? Menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta
perundang-undangan di negara ini? Jangan-jangan
Megawati sudah
melakukan diskriminasi melihat bangsa, dan Rakyat Indonesia, jika
terdapat suara politik yang berbeda? Perilaku semacam ini pernah
terjadi di masa Orba.
Apakah
benar di negara ini sudah betul-betul terbangun sistem dan tatanan
berdemokrasi? Meskipun kerangka demokrasi prosedural menunjukkan
berjalannya lembaga-lembaga penyelenggara pemilu, perundang-undangan,
akuntabel, transparan, dan partisipatif. Yang terpenting apa hasil
perubahan yang bisa dirasakan rakyat, di era transisi demokrasi,
setelah pemilu usai?
Bangsa
ini baru saja terlepas dari belenggu tirani orde baru. Itu saja.
Kebebasan berpikir dan berideologi, belum bisa dikatakan mau wujud
seutuhnya di negeri ini. Justru pernyataan bernada kecaman sekaliber
Megawati, berpretensi menyumbat kembali arus kebebasan menentukan
pilihan, dimana orang-orang yang golput, mau tidak mau, diakui
merupakan bagian ekspresi berdemokrasi.
Di
tingkat pabrik saja, kebebasan berserikat masih banyak yang
dihalang-halangi, dan mendapat intimidasi, hingga di-PHK secara
sepihak.
Jelas
sekali Megawati ceroboh, dan amat gegabah. Upaya mendulang suara,
malahan dipakai untuk menebar konflik. Utamanya para pemegang
otoritas secara demokratis untuk melakukan golput. Misalnya Gus Dur,
sudah mengeluarkan statement golput. Bedanya, Gus Dur bermaksud
mengancam. Lantaran konflik internal partainya, berindikasi
diintervensi pemerintahan SBY-JK.
Wapres
Jusuf Kalla pernah berucap bahwa, “Golput itu anti demokrasi,
apalagi kalau yang berteriak itu yang suka ngomong demokrasi.”
Ketua Umum Partai Golkar ini, telah kehilangan jejak sejarah, dimana
Golkar pernah menjadi kendaran politik Orde Baru. Faktanya, menjadi
bagian pemasung demokrasi di masa rejim otoritarian. Lalu demokrasi
yang dimaksud JK, menjadi milik siapa?
Menimbang
konstelasi politik dan ekonomi kekinian, pemilu akhir-akhir ini telah
mengisyaratkan sebuah restorasi kekuatan lama. Konsolidasi demokrasi
bergeser makin liberal, berpangku pada kekuatan modal.
Ancaman
neoliberalisme
Sekurang-kurangnya,
ada tiga masalah dalam negara, yang mengadopsi neoliberalisme sebagai
rumusan praktek bernegara. Pertama, sistem politik pemerintahan dan
partai politiknya. Paska tergulingnya Soeharto, arus besar
reformasi berhenti, dan berbelok arah.
Liberalisasi politik
menancapkan pada faktor permodalan, sebagai infrastruktur membangun
bangsa ini. Maka panggung politiknya, hanya mempertontonkan wajah
kaum pemodal. Hukum besi pemilik modal berlaku di sini, siapa yang
menggelontorkan miliaran rupiah, kans yang didapat
sejumlah
itu.
Kebanyakan
pengusaha, dan adanya relasi pemilik modal internasional
berkepentingan mengeruk sejumlah sumber daya di Indonesia. Aset
nasional dijuali. Minyak dikuasi Exxon Oil Mobil, hutan dibabati,
sampai pulau berpindah tangan, dan jutaan manusia dimobilisasi
mengais nafkah di negeri orang, menjadi TKI.
Kemudian
fenomena parpol. Bisa dipastikan, jelang pemilu seperti ini, banyak
parpol bermunculan bak cendawan di musim penghujan. Padahal tak
banyak yang dilakukan. Paling-paling, aktivitasnya
tak salah
kalau dibilang, hanya sebatas mesin pencetak suara. Seolah merasa
berada di sisi rakyat, parpol hanya terbiasa mengadakan pengobatan
massal, pembagian sembako plus kaos, dan kegiatan filantropi lainnya.
Setelah itu, menghilang dan sulit dimintai pertanggungjawabannya.
Eksistensi yang diperlihatkan tak jauh dari datangnya tahun kabisat.
Cuma selisih satu tahun pas pemilu saja.
Sewaktu-waktu, parpol
mendadak menghiasi lembaran media massa, tersebab pejabatnya setelah
terpilih terlibat skandal, korupsi, ataupun sang pandai bicara di
depan televisi, serta seminar ke seminar saja.
Yang
kedua, produk kebijakannya. Saat ini Indonesia, di bawah kekuasaan
SB-JK sudah tiga kali menaikkan harga BBM. Padahal kebutuhan yang
satu ini, jelas menyentuh semua lapisan sosial masyarakat, terlebih
rakyat mayoritas. Meningginya harga BBM di Indonesia, berdampak pada
harga kebutuhan pokok masyarakat. Seperti: sembako, biaya
transportasi, sewa kontrakan, dan masih banyak lagi. Apalagi
kebutuhan pokok rakyat di bidang pendidikan dan kesehatan. Sudah
banyak perguruan tinggi, dan rumah sakit negeri yang diprivatisasi.
Biaya untuk bersekolah, melahirkan, berobat, biaya pernikahan, hingga
tanah pemakaman pasti semakin mahal, dan tak terjangkau.
Masalah
ketiga, rakyat mayoritas yang dirugikan. Dalam hal ini, kaum buruh,
tani, nelayan, dan kaum miskin, akibat tekanan struktural yang
dilakukan negara. Meluasnya sistem kerja kontrak dan outsourcing, PHK
massal sejurus dengan menyempitnya lapangan pekerjaan, serta upah
murah sudah dialami kaum buruh Indonesia. Yang jauh dari
kesejahteraan atas hasil kerjanya. Begitu juga para petani yang
berhadapan dengan realitas ongkos produksi pertanian yang melangit,
sementara harga gabah rendah, dan minimnya peran negara meningkatkan
teknologisasi pertanian. Nelayan di pesisir harus berhenti melaut,
karena solar tak didapat. Penggusuran kaum miskin di kota,
berbarengan dengan proyek pengadaan gedung, pembangunan jalan, yang
diberi label harga untuk kaum kaya.
Payung
hukumnya disediakan, dengan empat kali amandemen UUD 1945, merubah
konsititusi negara, melegitimasi peran kaum pemodal menggenggam
sistem ekonomi dan politik. Begitulah penjajahan bentuk baru
-neoliberalisme- bekerja memarginalkan, membuat rakyat makin terasing
di negerinya sendiri.
Memaknai
golput
Pemilu
2009 sebentar lagi memang perlu memperoleh tanggapan politik rakyat.
Ujar-ujar tentang sikap golput, sebaiknya dipandang arif, dan menjadi
cermin ketidakpuasaan, serta kekecewaan rakyat atas problem yang
disampaikan penulis di atas.
Sedikitnya,
ada dua tolak ukur mengedepankan realitas golput sebagai pilihan.
Pertama, sama sekali tidak berpartisipasi masuk ke bilik-bilik suara.
Dan kedua, mencoblos lebih dari satu pilihan. Setidaknya kondisi ini
terjadi pada pemilu 2004 lalu. Yaitu sebanyak 34 juta (22,56%) dari
total jumlah calon pemilih, yaitu sebanyak 150 juta penduduk,
terbukti golput.
Perjalanannya,
golput bertambah manifes di sejumlah pilkadal yang terselenggara
secara nasional pula. Di antaranya, pada Pilgub Sulsel, sebanyak
1.596.825 (golput) dari total suara yang masuk 3.701.306. Pilgub
Jabar (golput 35, 7%), Pilgub DKI Jakarta (golput 36,2%), Pilgub
Banten (golput 39,28%), Pilgub Sumatera Utara (golput 41%). Pilgub
Sumbar (golput 35,70%), Pilbup Pati (golput mencapai 50%), Pilgub
Jawa Tengah (golput 45, 25%), dan Pilgub NTT (golput 20%).
Sebut
saja, Marselina (di NTT), salah seorang warga Kelurahan Sikumana,
Kupang. Menurut pengakuannya, “Para gubernur tidak memiliki
program pengentasan kemiskinan. Seharusnya, para calon gubernur
menawarkan program pembangunan yang cocok dengan kebutuhan warga”.
Ungkapan
Marselina nampak mewakili ekspresi kesadaran politik yang patut di
hargai dan dikembangkan. Jadi, golput bukanlah apatisme, golput tidak
sama dengan anti demokrasi, golput bukan barang mubazir, seperti yang
disayangkan Amien Rais, dan pemboroskan anggaran negara. Sebaliknya,
para pejabatlah yang sering melakukan pemborosan anggaran dengan
anggaran sidang sekaligus menginap di hotel mewah, tunjangan laptop,
mesin cuci, masih tak jera untuk ber-KKN di gedung dewan. Dan Amien
Rais pernah berada di gedung itu. Suara golput ialah menolak jendral
pelanggar HAM untuk kembali menduduki kekuasaan.
Golput
lebih memiliki moril politik secara kritis dalam menilai elit
politik, dan sistem pemerintahan yang hanya menghantarkan segelintir
orang-orang yang ber-vested interest. Dan kembali
paska pemilu
2009, berperilaku korup berjamaah, mengkonstitusionalkan sistem kerja
kontrak/outsourcing, dan upah murah. Menaikkan harga BBM, mencabut
subsidi, sembari menikmati kucuran hutang, dan modal asing. Tak
banyak harapan perubahan yang dicita-citakan di pemilu 2009.
Bersikap
golput, apabila dilakukan secara terbuka, dan terang-terangan menjadi
bagian pendidikan politik dari, dan untuk rakyat. Ke depan, dapat
menjadi kekuatan politik yang signifikan bagi perjuangan menentukan
nasib perubahan rakyat. Sekali lagi, golput merupakan solusi, untuk
bereaksi terhadap rejim yang sewenang-wenang, dan tidak pro rakyat,
pada saat pemilu mendatang ini.
Keterpurukan
belakangan ini, ibarat kapal yang sedang limbung. Benarkan ini perlu
diselamatkan? Sebelum kapal itu bertabrakan dengan batu karang
besar, sudah seharusnya kita periksa dulu siapa nahkoda dan awak
kapal itu. Bila sudah terbukti para koruptor dan pro kaum pemodal,
akan lebih baik jika kapal itu diambil alih kemudinya oleh para
penumpang. Dan, jika rakyat ingin bergolput di pemilu 2009?
Sebaiknya, golput sajalah!
*
Penulis adalah Pengurus Pusat Kongres Aliansi Serikat Buruh
Indonesia, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat
dari Simpul Jabodetabek.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).