PHOBIA
ISU BBM
Oleh
Fredy Wansyah*
Kenaikan
harga BBM tidak mengenal kompromi bagi masyarakat miskin untuk
menambah kemiskinan. Kanaikan tersebut yang jatuh pada akhir Mei lalu
diikuti oleh naiknya harga-harga kebutuhan bahan pokok lainnya.
Mengapa harga-harga bahan pokok harus mengikuti alur harga BBM?
Mobilitas suatu barang di dalamnya yang berperan penting adalah bahan
bakar minyak. Kendaraan sebagai materi yang tidak bernyawa tidak akan
berpindah tanpa adanya bahan bakar. Paska klimaks Revolusi Inggris
segala kendaraan (angkutan) diintensifkan sebagai alat mobilitas
suatu barang.
Beberapa
hari paska pengumuman harga BBM oleh pemerintah, pedagang-pedagang
kaki lima dan sopir-sopir angkutan dipaksa untuk menyeimbangkan
pengeluaran dengan pendapatan. Hasilnya harga-harga kebutuhan bahan
pokok dan tarif angkutan melonjak rata-rata 20% - 50%. Harga beras
misalnya dari Rp 4.500 menjadi Rp 5.500 serta harga tarif angkutan
berubah dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000.
Seorang
pedagang nasi goreng di daerah Jatinangor menyerukan bahwa pemerintah
tidak konsisten terhadap janjinya, “Sudah capek saya
sama
pemerintah kayak gitu,”
tuturnya. Bahkan ia menambahi
bahwa saat ini masih takut terhadap kenaikan BBM kembali. Sebelum
kenaikan BBM, pedagang tersebut dapat mencukupi kebutuhannya dengan
satu orang anak, namun setelah kenaikan harga BBM ia harus mencari
tambahan melalui kerja sampingan setelah berdagang nasi goreng.
Hal
serupa juga diikuti oleh pedagang putu bambu di kawasan Kampus
Jatinangor yang tidak mengetahui rencana kenaikan harga BBM jika
harga bahan bakar dunia terus melonjak yang kini telah berada di
level $130 per barel. Seperti ketakutan yang ada dalam benaknya jika
isu tersebut benar-benar terjadi. Putu bambu yang dijualnya hanya Rp
1.000 per tiga buah, seharinya dapat terjual sekitar 150 – 200 buah
dengan pendapatan sekitar Rp 50.000 – Rp 67.000. Jika laba yang
didapatnya sebelum kenaikan harga BBM Rp 15.000 – Rp 25.000, namun
setelah kenaikan harga BBM laba tersebut menurun menjadi Rp 10.000 –
Rp 13.000 hal tersebut juga dikarenakan penjualan yang menurun.
Pedagang
putu bambu tersebut juga mengeluhkan BLT yang ditawarkan oleh
pemerintah, karena pemerintah tidak mendata secara serius terhadap
masyarakat miskin. “Bayangkan, Mas, saya mau makan
apa kalau
pendapatan cuma sepuluh ribu. Belum untuk uang
sekolah anak.
Padahal gubernur dulu waktu kampanye janji membuat sekolah gratis,
tapi mana?” ujarnya.
Apa
yang dirasakan oleh kedua pedagang tersebut merupakan sample
dari Masyarakat Indonesia. Masyarakat tidak sedikit yang berprofesi
sebagai pedagang. Jika kenaikan harga BBM akan terulang kembali yang
diakibatkan melonjaknya harga minyak dunia, maka keharusan menaikkan
harga-harga dagangan harus dilakukan. Hal ini akan mengakibatkan
menurunnya penjualan dagangannya yang menjadikan pendapatan pun ikut
menurun. Bayangan ke depan pedagang-pedagang tersebut terhadap
kenaikan harga BBM berikutnya menjadi phobia,
ironisnya
aplikasi phobia tersebut dapat berakibat fatal.
Seperti di
media televisi beberapa hari paska kenaikan harga BBM, seorang
pedagang bunuh diri karena masalah ekonomi.
Mengenai
demo-demo yang dilakukan oleh mahasiswa, kedua pedagang tersebut
menyepakatinya. “Demo kayak gitu kan untuk
masyarakat juga,
Mas,” kata pedagang nasi goreng.
Tetapi sangat disayangkan
jika implikasi demo-demo tersebut berupa tindakan anarkis.
Tindakan-tindakan anarkis mahasiswa tersebut menambah phobia
masyarakat. Kekerasan mahasiswa dalam demo merekonstruksi masyarakat
bahwa demo berkonotasi negatif.
Klimaks
dari kemarahan mahasiswa terjadi pada tanggal 24 Juni di depan gedung
MPR dengan tindakan anarkis. Pembakaran ban, pelemparan batu terhadap
polisi, dan reaksi polisi menjadikan suasana demo merupakan ketakutan
tersembunyi masyarakat. Meski sebagian masyarakat juga menyetujui
tindakan mahasiswa tersebut, namun di sisi lain dari masyarakat yang
tidak menginginkan adanya kekerasan menjadikan aksi tersebut menambah
beban pikiran. Para orang tua yang memiliki anak berkuliah di
sekitar Pulau Jawa, menjadikan hal tersebut menambah beban serta
halusinasi phobiaisasi. Ketakutan terhadap anaknya
menjadi
pelaku aksi-aksi tersebut yang berujung pada kematian. Hal ini tidak
terlepas dari traumaistik tragedi Mei ’98.
Tekanan
terhadap pemerintah dari mahasiswa tersebut belum juga menemukan
titik pencerahan. Sebaliknya, pemerintah berani mengalihkan isu
kenaikan harga BBM. Kedua pedagang tersebut mengutarakan hal yang
sama, yakni, “Kapan
pemerintah mau
nurutin masyarakat?”
*
Penulis adalah anggota Front Demokratik Bandung, sekaligus anggota
Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).