MEDIA
DAN BERGESERNYA ISU KENAIKAN BBM
Oleh
Engkos *
Dua
minggu sudah kenaikan harga BBM berlaku, kenaikan harga-harga
melambung dengan serentak antara 20-50%. Inipun diiringi dengan
kelangkaan di beberapa jenis barang konsumsi yang sangat dibutuhkan
oleh masyarakat. Selain kenaikan harga dan kelangkaan, kenaikan
harga BBM juga telah memicu konflik horizontal antar masyarakat
sendiri, baik yang sengaja dibuat oleh rezim maupun imbas kenaikan
harga. Konflik horizontal yang muncul terlihat sangat jelas pada:
Pertama,
konflik yang muncul antara mayarakat miskin penerima BLT dengan
masyarakat miskin yang tidak menerima BLT atau dengan aparat desa.
Bahkan konflik ini di beberapa tempat sangat terbuka, dengan
ditunjukkan oleh penolakan banyak daerah menyalurkan BLT, yang
diwakili oleh Parade Nusantara dengan beberapa argumennya. Di
antaranya adalah aparat desa tidak dilibatkan dalam pendataan BLT
namun menerima imbasnya yakni masyarakat yang tidak menerima BLT
menjadi tidak tunduk pada aparat desa. Lebih ekstrim ada kelompok
massa dengan nama Gerakan Rakyat Miskin berdemonstrasi meminta BLT
akibat kenaikan harga BBM. Ini terjadi tidak lama setelah Jusuf Kalla
menyatakan yang menolak kenaikan harga BBM dan berdemonstrasi akan
berhadapan dengan orang miskin. Padahal dengan sangat jelas, semua
kelompok atau masyarakat yang menolak kenaikan harga BBM tidak
menolak adanya susbsidi buat orang miskin, termasuk BLT.
Kedua,
konflik muncul antar mahasiswa, dengan diluncurkannya program BKM
(Bantuan Khusus Mahasiswa) sebesar Rp. 500.000 per semester untuk 10%
mahasiswa Indonesia. Walaupun ini bisa diambil dan mahasiswa tetap
bergerak berdemonstrasi, tetapi banyak kelompok melihat ini bentuk
suap agar mahasiswa tidak berdemonstrasi menolak kenaikan BBM serta
lebih baik uang ini digunakan untuk kepentingan masyarakat kecil.
Ketiga,
kerusuhan dan konflik antara mahasiswa atau pengunjuk rasa dengan
aparat kepolisian. Ini akibat instruksi bagi aparat kepolisian untuk
Siaga 1 khusus Jabotabek. Bentrokan dengan kepolisian dan pengunjuk
rasa terjadi di banyak daerah, sehingga fokus tuntutan pembatalan
kenaikan harga BBM menjadi mengecil.
Keempat,
pengguna angkutan umum (yang mayoritas adalah pekerja-buruh pabrik,
PNS, pedagang) dengan pekerja transportasi, khususnya sopir angkutan
kota-angkot atau kondektur bis umum yang menaikan tarif setelah
adanya kenaikan harga BBM.
Kelima, pembeli
dengan penjual dagangan barang-barang kebutuhan pokok, karena memang
harga tidak bisa dikontrol karena banyaknya pengeluaran khusus
transportasi.
Masih
banyak imbas negatif yang terasa dalam kejadian-kajadian di
masyarakat akibat kenaikan harga BBM, walaupun itu semua secara sadar
dipahami oleh pemerintah akan terjadi. Namun imbas yang begitu
kompleks tersebut bukan dicari solusi dengan tidak menaikkan BBM dan
dicari jalan lain, melainkan dipaksakan dan dengan sadar pula
pemerintah membuat program-program “sogokan” agar tidak terjadi
penolakkan. Bahkan program yang cukup “represif dan massif”
adalah dengan memakai media cetak dan televisi untuk “memaksa”
masyarakat membenarkan kenaikan harga BBM.
Media Massa
Alat Memprovokasi Kesadaran Massa
Kita
menyadari sepenuhnya, bahwa media massa cetak dan televisi khususnya
adalah medianya pengusaha dan penguasa. Terutama media massa yang
hari ini mampu menjangkau dengan luas masyarakat, media massa yang
dibangun oleh organisasi massa/lembaga-lembaga biasanya lebih
terbatas segmennya. Nah, paska kenaikan harga BBM tanggal 24 Mei
2008, semua media massa dengan gencar memberitakan aksi-aksi
penolakan kebijakan pemerintah tersebut.
Namun
bila kita jeli melihatnya, media massa milik penguasa dan pengusaha
hanya memberitakan sisi aksi massa dan penolakannya. Tidak pernah
memberitakan dengan jelas dan terbuka apa jalan solusi yang
ditawarkan oleh aksi massa tersebut. Bahkan kecenderungan pemberitaan
yang diangkat dengan dominan adalah aksi-aksi yang berbuntut pada
kerusuhan, seperti di depan UKI dan UNAS pada malam pengumuman
kenaikan harga BBM. Kerusuhan dan penangkapan mahasiswa atau bentrok
dengan aparat kepolisian diberitakan secara besar-besaran, bahkan
sampai diadakan debat terbuka. Tetapi kenapa SBY-JK menaikkan harga
BBM dan jalan lain selain menaikkan BBM yang ditawarkan oleh
kelompok-kelompok yang menolak, tidak dimunculkan sama sekali.
Tentulah
ini sebuah upaya kesengajaan dari pemilik media massa tersebut,
karena bagaimanapun banyak wartawan dengan berani meliput aksi-aksi
massa dan mewawancarai para demontrans apa solusi yang ditawarkan.
Bahkan dengan tegas banyak wartawan menyatakan dirinya adalah bagian
dari pekerja tinta dan menjadi korban akan kenaikan harga BBM. Dan
kita akan menyatakan bahwa acara dan pemberitaan yang sengaja
dimunculkan di televisi atau koran untuk mengarahkan “informasi dan
cara pandang” masyarakat kepada apa yang diinginkan oleh pemerintah
dan pengusaha. Dengan informasi terus-menerus tentang ekses kerusuhan
dan argumen pemerintah tentang kenaikan harga BBM maka kesadaran
masyarakat akan terbentuk sesuai yang diinginkan oleh pemerintah.
Hasil dari acara dan pemberitaan ini adalah menyurutnya aksi-aksi
massa menolak kenaikan harga BBM dan membenarkan apa yang ditempuh
oleh pemerintah.
Di
media televisi kita akan dengan mudah menemukan acara untuk
menggeserkan isu kenaikan harga BBM ke arah pendukung kenaikan harga
BBM kepada konflik masyarakat dan kerusuhan ekses demontrasi. Bila
kita menyaksikan acara tersebut sangat jelas bagaimana pembawa acara
hanya mengarahkan pada ekses demonstrasi dan kegunaan BLT, tanpa mau
menanggapi pertanyaan kenapa BBM harus dinaikkan harganya. Atau
memberikan waktu yang cukup kepada para “penanggap
kritis” menawarkan
solusi atau
penjelasannya. Di waktu lainnya, berita-berita paska 1 Juni
didominasi oleh berita “kebrutalan” FPI di monas, dan liputan
ricuh pilkada di beberapa daerah. Bahwa itu penting diberitakan
tentulah pasti, tetapi berita penolakan kenaikan BBM atau aksi massa
AKKBB yang memperingati hari lahir Pancasila dengan mengkritisi sikap
pemerintah, juga harus dimuat secara jelas dan gamblang. Tapi
sebaliknya, kita dipertontonkan dengan dominasi berita klarifikasi
dari FPI yang tidak perlu dan itu tidak terjadi pada kasus UNAS dan
yang lainnya.
Jelas media-media
itu bukan milik rakyat, bukan milik kaum yang sedang berjuang. Tetapi
media pemerintah dan pengusaha, sehingga dijadikan alat propaganda
massif untuk menggiring informasi dan cara pandang masyarakat kepada
kepentingan pengusaha dan pemerintah.
Apa Yang Bisa
Kita Kerjakan?
Dengan
memahami kebutuhan penting akan media yang bisa dijangkau oleh
masyarakat luas, maka organisasi massa, organisasi politik dan
lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang pro pada gerakan rakyat dan
perubahan, sudah seharusnya menyatukan persepsi dan arah gerakannya
dan membuat program bersama melahirkan media koran dan televisi yang
bisa menjangkau masyarakat luas. Bahwa selama ini sudah banyak yang
membuat koran organisasi, tetap bisa diintegrasikan dengan koran
bersama. Selain itu harus dilakukan upaya pembangunan media televisi
yang juga bisa bersifat nasional. Tentu ini bukan pekerjaan mudah,
dibutuhkan banyak hal dikorbankan dan dikompromikan sesama organisasi
maupun lembaga-lembaga yang terlibat. Visi perubahan dan penyadaran
serta persatuan yang harus jadi pengikatnya. Kemasannya bisa
didiskusikan bersama dalam kerangka melawan dominasi media pengusaha
dan penguasa borjuis.
Di
sisi lain yang tidak boleh dilupakan dan harus dikerjakan adalah
terus
menjaga kesadaran masyarakat akan
bahaya dari sistem ekonomi neoliberalisme dan pemerintahan yang jadi
anteknya beserta kebijakannya. Dalam hal sekarang adalah menjaga
semangat perlawanan terhadap kenaikan harga BBM, yang masih cukup
tinggi dan besar namun tergeser isu dan beritanya oleh berita-berita
lainnya yang dengan sengaja diciptakan. Upaya aksi massa yang lebih
kreatif dan edukatif dengan mengikutkan masyarakat dalam aksi
penuntutan pembatalan kenaikan harga BBM dan menurunkan harga-harga
sembako. Apabila masyarakat terlibat dengan sadar dan serentak dengan
adanya tawaran solusi jangka pendek dan jangka panjang maka akan
terangkat juga isu dan beritanya, apalagi bila didukung media massa
milik gerakan.
* Penulis adalah
pekerja ter-PHK, tinggal
di
Sumedang, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat
dari Simpul Bandung.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).