PENGAJIAN
KOMUNITAS SEBAGAI UPAYA MENDEKATKAN AGAMA PADA PRAKTEK KEHIDUPAN
Oleh
Zaenal Abidin *
“
Agama itu untuk
menjawab problem kehidupan, Agama tidak terpisah dari tempat kerja,
dari kehidupan politik, negara dan sosial. Yang memisahkan agama dari
kehidupan nyata dalam masyarakat, sosial, politik dan ekonomi berarti
mengucilkan agama itu sendiri. Tentunya memiliki kepentingan, yakni
membodohi umat dan mendustakan agama untuk kepentingan dirinya
sendiri.”
Ustd.
Abdul Khodir (pengajar di beberapa pesantren dan pendiri pengajian
komunitas”Mutiara Hati”)
Pengajian
komunitas
Mungkin
kita sudah mendengar banyak pengajian-pengajian di
lingkungan-lingkungan kita, baik perkampungan maupun kost-kostan atau
rumah-rumah kontrakan. Pengajian dengan basis komunitas adalah
sebagai sebuah keharusan untuk mempertahankan dan mengembangkan
eksistensi agama, khususnya Islam. Bukan hanya dari Agama Islam saja
yang melakukan pengajian dengan basis komunitas. Di beberapa tempat
Agama Katholik juga melakukan persekutuan doa dalam mess-mess pabrik
atau kontrakan buruh.
Lalu,
apa yang membedakan pengajian komunitas yang mau diangkat dalam
tulisan ini? Pengajian atau sering disebut Majlis Ta’lim “Mutiara
Hati” adalah satu dari sekian pengajian komunitas di sekitar daerah
industri Rancaekek, Bandung. Ini adalah yang kesekian kalinya ada dan
mulai bertahan, sebelumnya telah ada Majlis Ta’lim Badrussalam yang
lahir di tengah perkampungan, Majlis Ta’lim Ranca Indah yang berada
di perumahan Ranca Endah Permai -warganya adalah mayoritas buruh
pabrik, tukang ojek, pedagang kaki lima, Majlis Ta’lim Permata
Hijau di tengah Komplek Perumahan Permata Hijau.
Beberapa
pengajian komunitas tersebut memang beragam dalam melakukan
kegiatannya, namun ada yang membedakan dari model pesantren yang ada
atau pengajian-pengajian yang dilakukan. Di antaranya adalah Pertama,
pengikut pengajian komunitas ini adalah warga di sekitar pemukiman
masyarakat, yang berbeda-beda suku, pekerjaan dan dasar awal agamanya
(NU, Muhamadiyah). Tempat untuk melakukan
pengajian tidak terpatok pada mesjid, tetapi di rumah atau kontrakan
yang bisa dipakai. Bahkan Pengajian “Mutiara Hati” diawali dari
garasi mobil pemilik kontrakan, sampai mendapatkan ruang untuk
melakukan pengajian rutin.
Kedua,
kegiatannya tidak terpaku pada mengaji kitab: baca, tulis Alquran,
atau mengkaji isinya tetapi dipadu dengan pengajian multikultural.
Pengajian ini melibatkan kelompok agama lainnya untuk membuat
kegiatan bersama. Bukan itu saja, pengajian setiap bulan ada satu
hari untuk berdiskusi dengan kelompok serikat buruh, berdiskusi
tentang kondisi sosial ekonomi yang sedang bergerak di negeri ini.
Agama
hanya dapat jalan kalau umatnya bergerak
menjalankannya. Tetapi saat ini banyak Ustad atau pemimpin agama
menutupi ayat-ayat
Alquran yang menyuruh kita berbuat kebajikan, menegakkan kebenaran
dan keadilan. Salah satu contoh di pabrik-pabrik banyak perempuan
muslimah dilarang memakai jilbab, yang lelaki muslim dilarang sholat
jumat dengan alasan kerjaan menumpuk, tetapi tokoh agama di dalam
perusahaan membenarkan perintah perusahaan tersebut dan lebih celaka
lagi kita diam saja. Belum lagi dengan sistem kerja kontrak yang
menerapkan upah murah yang tidak cukup untuk makan sehari 3 kali,
maka sudah melebihi bentuk perbudakan yang ada tatkala rassulllulah
memulai berdakwah melawan perbudakan. Saat ini dengan kenaikan harga
BBM, kita cuma mengeluh saja, padahal banyak kaum buruh menolak
dengan berbagai cara.
Bahkan
yang lebih memprihatinkan adalah ada organisasi yang mengaku Islam
dan memukuli kaum dhuafa lainnya yang berjuang menolak kenaikan harga
BBM. Itulah mengapa agama hanya dipakai untuk kepentingan kelompok
dan pribadi, yang disampaikan sepotong-sepotong. Ingat dalam
Alquranul karim diperintahkan, “Angkatlah pedangmu dan perangilah
bila melihat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.” Jelas dan
gamblang, maka kita harus benar menerapkannya dan melihat keadaan
kehidupan yang nyata ini. Mari belajar dengan baik, lihat, rasakan
kehidupan dan padukan dengan ajaran agama dengan benar pula, baik itu
di pabrik, di masyarakat, di tempat berdagang.
Nyata
sekarang, apa yang kita pelajari sangat relevan dengan apa yang
diperjuangkan serikat buruh. Pun dalam memilih pemimpin ke depan kita
harus belajar banyak, ternyata kita dibohongi dan selalu salah.
Karena kita lupa pada pegangan kita, yakni Alquralnur kharim dalam Al
qassas 5 menyebutkan, “Akan Aku angkat pemimpin dan pewaris di muka
bumi dari kaum yang tertindas.” Jelaslah bahwa kaum yang tertindas
adalah buruh, petani, nelayan, pengangguran, pedagang. Tentu itu
perlu proses, perlu perjuangan panjang untuk merubah nasib. Tapi kita
tidak sendiri, karena perjuangan merubah nasib itu adalah kewajiban
kita sebagai kaum, sekali lagi kaum.
Selain
dengan ceramah, belajar baca dan tulis Alquran serta mengkaji isi
Alquran dalam pengajian ini juga belajar bersama memainkan alat musik
qosidah dan koor.
Dalam belajar seni ini cukup unik,
karena para santri juga diajarkan lagu-lagu perjuangan yang selama
ini dinyanyikan oleh para demonstran. Pengajar lagu adalah pengurus
serikat buruh, sementara musik pengiringnya yang qosidah
diajarkan oleh salah satu ustad. Lagu-lagu yang diajarkan di
antaranya adalah Darah Juang, Lagu
Pembebasan dan Titik
Api. Penampilan santri dengan lagu-lagu ini cukup mengundang
banyak tanya, apalagi pertama kali tampil tahun 2003. Para ustad
senior marah-marah karena dianggap keluar jalur.
Ketiga,
para pendidik di pengajian komunitas ini lahir dari kesederhanaan,
namun tertempa ajaran agama dari pesantren-pesantren yang lumayan
besar di Jawa Tengah. Salah satu motor yang terus tanpa kenal lelah
bergerak membangun pengajian komunitas (sekitar 5 pengajian komunitas
didirikan) adalah Ustad Abdul Khodir. Selain memberikan pelajaran di
pengajian terutama mengkaji kitab, juga aktif dalam aksi-aksi
demonstrasi khususnya di Bandung bersama serikat buruh, seperti
setiap 1 Mei, aksi penolakan kenaikan BBM.
Selain
unik dalam kegiatannya karena tidak seperti pesantren atau pengajian
pada umumnya, serta ustadnya mau turun aksi, pendanaan dalam
pengajian ini juga murni dari anggota dengan kotak amal dan iuran per
bulan. Serta kegiatan rutin peringatan hari raya keagamaan selalu di
tengah masyarakat bersama serikat buruh dan organisasi pemuda.
Apa
yang mau dicapai oleh pengajian komunitas?
Dari
apa yang terekam, pengajian komunitas sangat sederhana dalam
menentukan capaiannya yakni agar agama tidak, khususnya Islam, tidak
“mengisolasikan dirinya” dari kehidupan nyata tetapi mampu
berperan sesuai dengan nilai kesejarahannya, lahir untuk melawan
ketidakadilan dan menjadi Rahmatan lil alamin bagi semua kaum.
Menghubungkan
pengajian komunitas dan gerakan rakyat
Potret
ini bisa menjadi inspirasi banyak organisasi massa dalam ranah
gerakan rakyat, yakni organisasi massa rakyat sudah harus banyak
masuk ke dalam komunitas masyarakat, dan khususnya keagamaan.
Tentunya ini membutuhkan syarat, komunitas yang dibangun atau yang
akan dimasuki memiliki kesamaan misi dan visi dalam perubahan tatanan
masyarakat ke depan.
Selain
membuka ruang pengorganisiran tetapi juga mempersempit ruang konflik
antar masyarakat atau mengurangi kekuatan-kekuatan yang dipakai
pengusaha maupun pemerintah untuk memukul kekuatan rakyat.
Ketelatenan dan ketelitian dalam membangun komunikasi serta menjaga
hubungan menjadi penting dan diperlukan untuk bisa menghubungkan agar
kekuatan ini menjadi bagian dalam gerakan massa.
Tulisan
ini adalah secuil fenomena, tetapi paling tidak bisa menjadi bahan
pertimbangan dalam melakukan pengorganisasian maupun melakukan
perjuangan. Karena musuh gerakan rakyat semakin banyak, dan kita
sangat miris saat yang menjadi aktor dalam memusuhi gerakan adalah
orang yang pernah dibesarkan dalam gerakan.
*
Penulis adalah Santri Pengajian Mutiara Hati, sekaligus anggota Forum
Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).