Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org

SADAR

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 131 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


PENGAJIAN KOMUNITAS SEBAGAI UPAYA MENDEKATKAN AGAMA PADA PRAKTEK KEHIDUPAN


Oleh Zaenal Abidin *


Agama itu untuk menjawab problem kehidupan, Agama tidak terpisah dari tempat kerja, dari kehidupan politik, negara dan sosial. Yang memisahkan agama dari kehidupan nyata dalam masyarakat, sosial, politik dan ekonomi berarti mengucilkan agama itu sendiri. Tentunya memiliki kepentingan, yakni membodohi umat dan mendustakan agama untuk kepentingan dirinya sendiri.”

Ustd. Abdul Khodir (pengajar di beberapa pesantren dan pendiri pengajian komunitas”Mutiara Hati”)


Pengajian komunitas

Mungkin kita sudah mendengar banyak pengajian-pengajian di lingkungan-lingkungan kita, baik perkampungan maupun kost-kostan atau rumah-rumah kontrakan. Pengajian dengan basis komunitas adalah sebagai sebuah keharusan untuk mempertahankan dan mengembangkan eksistensi agama, khususnya Islam. Bukan hanya dari Agama Islam saja yang melakukan pengajian dengan basis komunitas. Di beberapa tempat Agama Katholik juga melakukan persekutuan doa dalam mess-mess pabrik atau kontrakan buruh.


Lalu, apa yang membedakan pengajian komunitas yang mau diangkat dalam tulisan ini? Pengajian atau sering disebut Majlis Ta’lim “Mutiara Hati” adalah satu dari sekian pengajian komunitas di sekitar daerah industri Rancaekek, Bandung. Ini adalah yang kesekian kalinya ada dan mulai bertahan, sebelumnya telah ada Majlis Ta’lim Badrussalam yang lahir di tengah perkampungan, Majlis Ta’lim Ranca Indah yang berada di perumahan Ranca Endah Permai -warganya adalah mayoritas buruh pabrik, tukang ojek, pedagang kaki lima, Majlis Ta’lim Permata Hijau di tengah Komplek Perumahan Permata Hijau.


Beberapa pengajian komunitas tersebut memang beragam dalam melakukan kegiatannya, namun ada yang membedakan dari model pesantren yang ada atau pengajian-pengajian yang dilakukan. Di antaranya adalah Pertama, pengikut pengajian komunitas ini adalah warga di sekitar pemukiman masyarakat, yang berbeda-beda suku, pekerjaan dan dasar awal agamanya (NU, Muhamadiyah). Tempat untuk melakukan pengajian tidak terpatok pada mesjid, tetapi di rumah atau kontrakan yang bisa dipakai. Bahkan Pengajian “Mutiara Hati” diawali dari garasi mobil pemilik kontrakan, sampai mendapatkan ruang untuk melakukan pengajian rutin.


Kedua, kegiatannya tidak terpaku pada mengaji kitab: baca, tulis Alquran, atau mengkaji isinya tetapi dipadu dengan pengajian multikultural. Pengajian ini melibatkan kelompok agama lainnya untuk membuat kegiatan bersama. Bukan itu saja, pengajian setiap bulan ada satu hari untuk berdiskusi dengan kelompok serikat buruh, berdiskusi tentang kondisi sosial ekonomi yang sedang bergerak di negeri ini.


Agama hanya dapat jalan kalau umatnya bergerak menjalankannya. Tetapi saat ini banyak Ustad atau pemimpin agama menutupi ayat-ayat Alquran yang menyuruh kita berbuat kebajikan, menegakkan kebenaran dan keadilan. Salah satu contoh di pabrik-pabrik banyak perempuan muslimah dilarang memakai jilbab, yang lelaki muslim dilarang sholat jumat dengan alasan kerjaan menumpuk, tetapi tokoh agama di dalam perusahaan membenarkan perintah perusahaan tersebut dan lebih celaka lagi kita diam saja. Belum lagi dengan sistem kerja kontrak yang menerapkan upah murah yang tidak cukup untuk makan sehari 3 kali, maka sudah melebihi bentuk perbudakan yang ada tatkala rassulllulah memulai berdakwah melawan perbudakan. Saat ini dengan kenaikan harga BBM, kita cuma mengeluh saja, padahal banyak kaum buruh menolak dengan berbagai cara.


Bahkan yang lebih memprihatinkan adalah ada organisasi yang mengaku Islam dan memukuli kaum dhuafa lainnya yang berjuang menolak kenaikan harga BBM. Itulah mengapa agama hanya dipakai untuk kepentingan kelompok dan pribadi, yang disampaikan sepotong-sepotong. Ingat dalam Alquranul karim diperintahkan, “Angkatlah pedangmu dan perangilah bila melihat ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.” Jelas dan gamblang, maka kita harus benar menerapkannya dan melihat keadaan kehidupan yang nyata ini. Mari belajar dengan baik, lihat, rasakan kehidupan dan padukan dengan ajaran agama dengan benar pula, baik itu di pabrik, di masyarakat, di tempat berdagang.


Nyata sekarang, apa yang kita pelajari sangat relevan dengan apa yang diperjuangkan serikat buruh. Pun dalam memilih pemimpin ke depan kita harus belajar banyak, ternyata kita dibohongi dan selalu salah. Karena kita lupa pada pegangan kita, yakni Alquralnur kharim dalam Al qassas 5 menyebutkan, “Akan Aku angkat pemimpin dan pewaris di muka bumi dari kaum yang tertindas.” Jelaslah bahwa kaum yang tertindas adalah buruh, petani, nelayan, pengangguran, pedagang. Tentu itu perlu proses, perlu perjuangan panjang untuk merubah nasib. Tapi kita tidak sendiri, karena perjuangan merubah nasib itu adalah kewajiban kita sebagai kaum, sekali lagi kaum.


Selain dengan ceramah, belajar baca dan tulis Alquran serta mengkaji isi Alquran dalam pengajian ini juga belajar bersama memainkan alat musik qosidah dan koor. Dalam belajar seni ini cukup unik, karena para santri juga diajarkan lagu-lagu perjuangan yang selama ini dinyanyikan oleh para demonstran. Pengajar lagu adalah pengurus serikat buruh, sementara musik pengiringnya yang qosidah diajarkan oleh salah satu ustad. Lagu-lagu yang diajarkan di antaranya adalah Darah Juang, Lagu Pembebasan dan Titik Api. Penampilan santri dengan lagu-lagu ini cukup mengundang banyak tanya, apalagi pertama kali tampil tahun 2003. Para ustad senior marah-marah karena dianggap keluar jalur.

Ketiga, para pendidik di pengajian komunitas ini lahir dari kesederhanaan, namun tertempa ajaran agama dari pesantren-pesantren yang lumayan besar di Jawa Tengah. Salah satu motor yang terus tanpa kenal lelah bergerak membangun pengajian komunitas (sekitar 5 pengajian komunitas didirikan) adalah Ustad Abdul Khodir. Selain memberikan pelajaran di pengajian terutama mengkaji kitab, juga aktif dalam aksi-aksi demonstrasi khususnya di Bandung bersama serikat buruh, seperti setiap 1 Mei, aksi penolakan kenaikan BBM.


Selain unik dalam kegiatannya karena tidak seperti pesantren atau pengajian pada umumnya, serta ustadnya mau turun aksi, pendanaan dalam pengajian ini juga murni dari anggota dengan kotak amal dan iuran per bulan. Serta kegiatan rutin peringatan hari raya keagamaan selalu di tengah masyarakat bersama serikat buruh dan organisasi pemuda.

Apa yang mau dicapai oleh pengajian komunitas?

Dari apa yang terekam, pengajian komunitas sangat sederhana dalam menentukan capaiannya yakni agar agama tidak, khususnya Islam, tidak “mengisolasikan dirinya” dari kehidupan nyata tetapi mampu berperan sesuai dengan nilai kesejarahannya, lahir untuk melawan ketidakadilan dan menjadi Rahmatan lil alamin bagi semua kaum.


Menghubungkan pengajian komunitas dan gerakan rakyat

Potret ini bisa menjadi inspirasi banyak organisasi massa dalam ranah gerakan rakyat, yakni organisasi massa rakyat sudah harus banyak masuk ke dalam komunitas masyarakat, dan khususnya keagamaan. Tentunya ini membutuhkan syarat, komunitas yang dibangun atau yang akan dimasuki memiliki kesamaan misi dan visi dalam perubahan tatanan masyarakat ke depan.


Selain membuka ruang pengorganisiran tetapi juga mempersempit ruang konflik antar masyarakat atau mengurangi kekuatan-kekuatan yang dipakai pengusaha maupun pemerintah untuk memukul kekuatan rakyat. Ketelatenan dan ketelitian dalam membangun komunikasi serta menjaga hubungan menjadi penting dan diperlukan untuk bisa menghubungkan agar kekuatan ini menjadi bagian dalam gerakan massa.


Tulisan ini adalah secuil fenomena, tetapi paling tidak bisa menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan pengorganisasian maupun melakukan perjuangan. Karena musuh gerakan rakyat semakin banyak, dan kita sangat miris saat yang menjadi aktor dalam memusuhi gerakan adalah orang yang pernah dibesarkan dalam gerakan.



* Penulis adalah Santri Pengajian Mutiara Hati, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.


** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).




 
webmaster@prakarsa-rakyat.org