INDONESIA
PASKA KENAIKAN HARGA BBM
Oleh
Muhammad Haedir *
Kondisi
negara belakangan ini sedang dirundung nasib yang buruk. Kenaikan
harga BBM dunia hingga 130 US$/barel sangat berpengaruh
kepada sistem perekonomian Indonesia. Hal ini wajar, karena sistem
perekonomian yang diterapkan merupakan sistem ekonomi yang sangat
tergantung pada sistem ekonomi luar negeri, dalam hal ini sistem
ekonomi neo-liberal (globalisasi).
Adalah
sebuah sistem yang
sangat mendewakan sistem pasar di atas segalanya. Yang terjadi
adalah sistem-sistem ekonomi kita akan diseret pada satu kepentingan
yaitu keuntungan besar bagi tuan-tuan kapitalis di negara-negara
dunia pertama dan kemiskinan bagi rakyat di negeri sendiri. Bagaimana
tidak, sudah lebih dari seminggu subsidi bahan bakar
dicabut, perlawanan rakyat tidak berhenti dalam melakukan penolakan
terhadap kebijakan tersebut. Ini pertanda bahwa akibat kebijakan
tersebut, rakyat yang selain harus menanggung beban diakibatkan
kenaikan harga pangan internasional, akan semakin terjerumus ke
jurang kemiskinan.
Sebenarnya
masih banyak
tindakan-tindakan yang harus diambil dalam menangani persoalan
kenaikan harga minyak dunia, tidak harus dengan mencabut subsidi.
Akan tetapi pemerintah sepertinya tidak mau tahu akan hal itu.
Kebijakan yang paling bisa diambil adalah dengan melakukan pemotongan
pada gaji departemen dan para anggota dewan, dan dialihkan untuk
menutupi subsidi, atau dengan memberdayakan teknologi energi yang
belakangan ini banyak ditemukan oleh rakyat sendiri sebagai solusi
penghematan terhadap BBM. Atau bisa juga dengan mengembangkan
teknologi biodiesel.
Sayang
sekali pemerintah
sepertinya tidak mau peduli terhadap solusi-solusi tersebut dan
mencoba bermain api dengan mencabut subsidi paling vital dalam
kehidupan produksi masyarakat. Belajar dari sejarah pencabutan
subsidi tahap kedua pada tahun 2005 kemarin, pemerintah bukannya
memotong tunjangan para anggota dewan dan departemen, yang ada malah
sebaliknya pemerintah malah menaikkan tunjangan para anggota dewan.
Paska
kenaikan harga BBM, di media-media diberitakan terjadi kenaikan harga
bahan pokok yang disebabkan oleh naiknya biaya produksi. Hal ini akan
memukul mundur kondisi perekonomian rakyat ke jurang kemiskinan yang
semakin dalam. Kampanye pemerintah di media-mediapun semakin
mengilusi rakyat aga rakyat mau menerima begitu saja keputusan
pemerintah tersebut, seolah kehidupan rakyat akan baik-baik saja
paska kenaikan harga BBM. Seakan-akan dengan kenaikan harga itu
mereka tidak akan kelaparan, mereka tidak akan resah, mereka tidak
akan menderita penyakit kemiskinan yang disebut busung lapar.
Pemerintahpun
menyalurkan
Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai alat untuk semakin mengilusi
rakyat agar tidak melawan. Bagaimana tidak, di tengah-tengah
kenaikan semua harga kebutuhan pokok mereka seolah tertolong dengan
adanya BLT. Padahal kebijakan tersebut tidak lebih dari alat untuk
menyogok rakyat agar tidak berontak, jika menemukan harga kebutuhan
mereka sudah naik di pasar.
Dalam
keterpurukan rakyat pasca
kenaikan harga BBM ini, para politisi busuk yang kita tahu juga harus
ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan negeri ini, malah sibuk
mencari muka.
Mereka
seolah tidak tahu malu sambil menyembunyian kebusukan-kebusukannya
dan menganggap
merekalah yang paling bersih dan
tidak bernoda dalam keputusan pemerintahan SBY-JK yang menaikkan
harga BBM. Padahal kita tahu bahwa merekalah sebenarnya benalu yang
menghambat kemajuan bangsa ini selama sepuluh tahun reformasi.
Sementara
itu, gerakan dalam
melakukan penolakan kebijakan tersebut, belum menuai hasil yang
maksimal hingga hari ini. Hal ini diakibatkan oleh karena belum
turut sertanya seluruh kekuatan rakyat dalam melakukan gerakan
menolak kebijakan tersebut. Masyarakat malah diilusi dan
dimobilisasi ke tempat-tempat penerimaan BLT.
Sebuah
solusi alternatif pun
cenderung tenggelam dalam setiap isu, akibatnya para politisi
busuklah yang kemudian menuai kemenangan propaganda dalam setiap
kampanye-kempanye anti kenaikan harga BBM. Hal ini terjadi karena
tidak adanya gerakan yang terus- menerus mengkonsolidasikan diri
dalam mengkampanyekan sebuah alternatif baru yang mesti diambil dalam
setiap krisis yang terjadi di negeri ini.
Justru
yang mencuat ke permukaan adalah cap brutalisme dari kelompok
gerakan, padahal yang melakukan hal tersebut adalah aparat negara
sendiri yang selalu menganggap bahwa kelompok gerakan, dalam
melakukan penolakan terhadap kenaikan harga BBM, selalu bertindak
brutal. Hal ini sebenarnya merupakan bentuk propaganda hitam dari
pemerintah terhadap kelompok gerakan agar rakyat tidak ikut-ikutan
dalam melakukan tindakan brutal bersama kelompok gerakan tersebut.
Belajar
dari sejarah, saat
kelompok buruh berkehendak untuk melakukan aksi mogok pada Hari Buruh
Internasional Satu Mei lalu, mereka selalu dicap bahwa mereka akan
melakukan tindakan-tindakan anarki. Namun kita bisa lihat sendiri,
aksi May Day berjalan dengan tertib sehingga anggapan pemerintahpun
tidak terbukti. Hanya dengan aksi yang terorganisir, gerakan tidak
akan terpancing oleh provokasi dari aparatus negara.
Selain
itu, tugas dari gerakan
adalah bagaimana menemukan sebuah format gerakan dalam mengusung isu
menolak kenaikan harga BBM. Format ini penting agar mampu mencuatkan
sebuah program alternatif sebagai sebuah antitesa dari program yang
ditawarkan oleh para politisi busuk yang sudah pasti tidak akan mau
melepaskan diri dari kekuatan modal internasional.
*
Penulis adalah Sekretaris Kota,
Perhimpunan Rakyat
Pekerja (PRP) Komite Kota Makassar, sekaligus anggota Forum Belajar
Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Sulawesi Selatan.
**
Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan
sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama
untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial
pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal
Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan
sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal
Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).