10
TAHUN SETELAH TRAGEDI MEI: KOMUNITAS DI KLENDER KEMBALI MENJADI
KORBAN
Oleh
Nurita Siagian *
Kebakaran
terjadi pada Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 12.00 WIB di Klender, Jakarta.
Peristiwa itu mau tak mau memicu kembali kenangan akan peristiwa
(tragedi kerusuhan) Mei 98 di tempat yang sama. Bila dulu anggota
keluarga mereka hilang bersama api yang membakar pusat pertokoan
Jogja-Klender, kini sedikitnya 150 rumah mereka habis dilalap si
“jago merah.” Dalam tempo sehari saja, 150 kepala keluarga telah
kehilangan tempat tinggalnya karena menjadi korban kebakaran hebat
tersebut.
Dalam
peristiwa kebakaran di Klender tersebut juga terdapat 10 keluarga
korban Tragedi Mei’98. Mereka kembali harus menanggung kerugian dan
kesedihan yang amat dalam, sama halnya seperti 10 tahun silam. Betapa
tidak, belum lagi air mata kering karena harus menahan beban dan
bekas luka dari peristiwa 10 tahun lalu, yang sampai saat ini
kasusnya tidak kunjung diadili secara tuntas, mereka harus dihadapkan
pada kenyataan pahit kembali dengan kehilangan tempat tinggal mereka
satu-satunya.
Negara
Yang Selalu (Sengaja) Teledor
Korban
dari kebakaran amat banyak karena sulitnya memadamkan api di
perumahan padat penduduk tersebut, akibatnya api cepat menyebar jadi
kebakaran. Petugas pemadam kebakaran terlihat sangat kesulitan untuk
menjangkau lokasi kebakaran karena harus melewati jalan-jalan kecil
di perumahan padat tersebut. Namun ketika upaya pemadaman sedang
dilakukan oleh petugas pemadaman kebakaran sedang berlangsung, suatu
kejanggalan pun kemudian terjadi. Tiba-tiba sebuah helikopter
kepolisian terbang rendah tepat di atas kobaran api. Putaran
baling-baling helikopter tersebut tentu saja mempercepat penyebaran
api ke daerah pemukiman penduduk sekitar kebakaran. Kobaran api pun
semakin membesar ketika helikopter tersebut berhenti tepat di atas
lokasi kebakaran. Rumah-rumah penduduk yang tadinya tidak terjilat
api pun akhirnya turut menjadi korban kebakaran.
Apakah
ini sebuah kesengajaan? Tidak ada yang tahu, yang jelas akibat angin
yang disebabkan oleh baling-baling helikopter tersebut menyebabkan
semakin meluasnya daerah kobaran api di perumahan Klender. Jika ini
sebuah kesengajaan, maka korban dan keluarga korban tragedi Mei’98
kembali menjadi korban dari kebiadaban Negara. Negara yang selalu
(sengaja) teledor bertanggung jawab pada rakyat yang miskin dan lemah
secara politik -- seperti yang terjadi pada tragedi Mei 10 tahun yang
lalu, ketika rakyat tanpa perlindungan keselamatan dan justru dituduh
sebagai perusuh.
Korban
dan Bantuan
Karena
peristiwa tersebut menyebabkan mereka kembali harus merelakan
hartanya yang paling berharga, yaitu tempat berteduhnya mereka selama
ini. Untuk saat ini, mereka pun masih bertahan di puing-puing rumah
mereka sebelumnya. Pilihan tersebut tentunya sangatlah berbahaya,
karena bisa saja sewaktu-waktu dinding pembatas rumah yang masih
berdiri dapat roboh seketika dan menimpa mereka. Namun sebagian lagi
memilih untuk tinggal di tenda pengungsian. Kondisi di tenda
pengungsian pun sama seperti tenda pengungsian lainnya di daerah
bencana alam, yaitu jauh dari kondisi yang layak dan memadai. Para
korban terpaksa harus berhimpit-himpitan karena sangat padatnya
korban yang mengungsi ke tenda pengungsian. Kondisi yang tidak sehat
di tenda pengungsian menyebabkan rentannya para korban terhadap
berbagai macam penyakit. Fasilitas yang mereka terima di tenda
pengungsian sangat sederhana dan ala kadarnya.
Telah
ada bantuan berupa pakaian, obat-obatan, dan bahan makanan tetapi itu
semua belum cukup untuk menutupi semua kebutuhan mereka yang begitu
besar. Mereka masih membutuhkan bantuan dan pertolongan. Mereka tidak
hanya membutuhkan batuan berupa materil, tetapi mereka juga
membutuhkan bantuan moral berupa dorongan, dan spirit agar goncangan
jiwa yang mereka rasakan dapat lebih ringan terasa. Mereka
membutuhkan kita sebagai teman mereka. Kita yang mau dan rela memberi
perhatian lebih kepada mereka. Menemani mereka, memberi dorongan dan
motivasi, agar batin mereka kuat menghadapi semua akibat dari
kejadian ini dan tidak merasa bahwa mereka sendirian dalam perjuangan
untuk perubahan dan keadilan.
* Penulis adalah
anggota IKOHI Jakarta, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama
Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
**Siapa
saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian
dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna
harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa
Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian
atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat
atau www.prakarsa-rakyat.org).