MENGUKUR
TINGKAT KESADARAN
MASYARAKAT MISKIN DAN TERTINDAS
Oleh Hermawan *
Ketika saya
melewati sebuah pabrik garmen di wilayah industri Majalaya-Kabupaten
Bandung dan istirahat sejenak di depan gerbang, secara langsung dalam
pandangan pertama pabrik itu kelihatan diam dan sepi hanya terlihat
beberapa satpam dan mobil satu dua keluar masuk. Tetapi begitu jam
Istirahat tiba ribuan manusia berebut keluar dari gerbang dengan
bergegas, ternyata pandangan pertama yang kelihatan adalah salah. Di
dalam pabrik yang diam dan kelihatan sepi ternyata banyak sekali
manusia yang sibuk beraktivitas.
Kebetulan
di tempat saya beristirahat banyak juga buruh yang mengisi istirahat
kerja dengan duduk-duduk santai. Saya mulai bertanya kepada salah
satu dari mereka yang kalau tidak salah dengar namanya Jakub, “Pak,
jumlah yang bekerja di dalam pabrik berapa?“ Jakub langsung
menjawab, “Ya ada sekitar empat ribuan
mah.“
Saya bertanya lagi, “Berarti banyak sekali ya, Pak?“ Sebelum
dijawab saya sempat menebak dalam hati Jakub pasti menjawab begini,
“Ya, memang banyak.” Tetapi ternyata jawaban yang sudah saya duga
tersebut salah dan jawaban yang keluar sangat mencengangkan,
“Katingalina
we loba tapi aslina mah sepi asa dileuweung euweh sasaha euweuh
batur“
(kelihatannya banyak tetapi sebenarnya sepi kayak di hutan gak
ada
siapa-siapa,
gak ada
teman).
Saya
terdiam, kemudian mulai bertanya lagi, “Maksudnya apa, Pak?“
Jakub menjelaskan, “Kerja di dalam kan
banyak
orang tetapi begitu saya ada masalah dengan atasan yang kasar dan
membayar upah kami murah ternyata yang lain gak
ada yang tau
atau
pura-pura gak
tau. Jadi
ya sendirian aja rasanya di tempat yang banyak orang.“ Sangat
disayangkan saat itu waktu berjalan cepat sementara Jakub beserta
kawan-kawanya cuma mendapat setengah jam untuk istirahat. Mereka
meninggalkan saya dalam ketercengangan atau malah kebingungan.
Bagaimana
kondisi sebenarnya masyarakat miskin?
Sampai di rumah
kontrakan, saya mulai teringat dengan ucapan salah satu kawan dari
Gunung Halu-kabupaten Bandung Barat. Dia pernah bilang, “Jangan
hanya melihat yang kelihatan karena banyak sekali yang tidak
kelihatan di sekeliling yang kelihatan.” Kawan tersebut sudah lama
mengatakan itu dan sepertinya saya tidak pernah mau menanggapi karena
saya pikir itu adalah kebiasaan mistis dan takhayul yang memang
sangat dikenal di daerah Gunung Halu. Sungguh menyesal rasanya karena
waktu itu saya langsung menghakimi perkataan tersebut.
Obrolan yang
terjadi antara saya dengan jakub siang itu memang hanya sebatas
lingkup pabrik tetapi semua itu bisa juga menggambarkan kehidupan
masyarakat secara umum. Kita dengar ketika ada seorang bayi yang mati
karena kelaparan, saat itu mungkin si ibu bayi dan bayinya merasakan
kesunyian dan kesendirian di tengah banyaknya orang. Kita dengar
beberapa pedagang kecil yang menangis dan meratapi gerobaknya yang
dirusak saat itu. Dia merasa sendirian dan sunyi di tengah banyaknya
orang atau ketika petani penggarap yang terusir dari tanahnya karena
penggusuran tidak bisa berbuat apapun karena merasa sendiri.
Pertanyaanya,
siapa yang membuat bayi-bayi kelaparan, siapa yang membuat
gerobak-gerobak rusak dan tanah-tanah digusur? Akan sama jawabannya
dengan di pabrik tempat Jakub bekerja, ada masalah upah murah, jam
kerja panjang dan hilangnya kesejahteraan. Pasti ada kekuatan yang
membuat itu dan tidak mungkin itu terjadi begitu saja. Jika siang itu
Jakub menjelaskan yang menjadi sumber masalah adalah pemilik yang
serakah, tentu pula yang membuat kesengsaraan di masyarakat adalah
orang-orang serakah yang merasa memiliki negeri ini sehingga dengan
seenak sendiri menggusur tanah rakyat, merusak gerobak para pedagang
kecil serta menaikkan harga BBM.
Ketika sesama
orang miskin bertengkar, siapa yang salah?
Lalu
ke mana korban-korban yang lain? Kenapa mereka tidak saling peduli
dan kenapa pula mereka malah berantem
sendiri
memperebutkan minyak murah, beras murah dan saling bacok ketika
rebutan BLT, siapa yang salah? Kalau kita tanyakan pada polisi,
pastilah yang bacok-bacokan yang
salah, yang rebutan yang salah, karena mengganggu ketertiban umum.
Sepintas melihat itu adalah jawaban yang benar, tetapi yang tidak
kelihatan di situ adalah apa dan siapa yang membuat mereka berebut
dan saling bacok itulah sumber
masalah.
Jujur,
saya tidak akan pernah menyalahkan orang-orang miskin, yang berebut
dan bacok-bacokan
karena
ingin bertahan hidup. Salah satu kawan lagi dari Jakarta pernah
bilang bahwa orang miskin masih rendah kesadarannya. Pendapat yang
sering terdengar dan lazim tapi sebenarnya sangat salah karena hari
ini masyarakat benar-benar sadar telah tertindas buktinya adalah
banyak pemuda-pemuda lulus sekolah mengantri di pabrik karena sadar
tidak ada tempat untuk mendapatkan makan lagi di negeri ini sehingga
dengan keterpaksaan mereka masuk pabrik meski tahu akan dibayar
murah. Kemudian buruh-buruh yang sudah bekerja ingin keluar dari
pabrik karena sadar ada penindasan di dalam pabrik.
Masyarakat miskin
lainnya sadar bahwa susah mendapat tempat dan makan. Mereka tidak mau
lagi masuk pabrik karena semakin mahal biaya dan tetap sama
penindasannya, sehingga dengan kesadarannya telah ditindas. Tetapi
mereka merasa tidak ada teman dan sepi, maka banyak yang memutuskan
untuk pindah dari kehidupan di dunia (bunuh diri). Bagi saya itu
adalah dasar kesadaran yang telah dimiliki oleh masyarakat miskin.
Masalahnya kesadaran tersebut tidak terakomodir dan cenderung dibawa
ke arah yang kontra produktif artinya sadar telah ditindas tetapi
tidak mau melawan dari ketertindasan dan memilih lari.
Kelihatan sangat
jelas solusi yang mereka pilih adalah suatu kesalahan tetapi yang
tidak kelihatan di kasus ini adalah kenapa mereka memilih solusi itu?
Saya mencoba mengerti bagaimana cara mereka mencari solusi yang
tepat saat tingkat pendidikannya rendah bahkan ada yang sama sekali
tidak sekolah. Bagaimana mereka bisa berpikir mencari solusi saat
mereka semakin terpinggirkan dan kelaparan yang semakin tidak bisa
ditahan.
Keberpihakan
kepada rakyat miskin
Tetapi jika kita
kembali melihat yang kelihatan bahwa sebenarnya tidak semua orang di
Indonesia miskin dan tidak berpendidikan, tengoklah di kampus-kampus
banyak mahasiswa, tetapi ke mana mereka? Untuk apa mereka sekolah,
tentu itulah yang tidak kelihatan dan hanya mereka yang tahu.
Maksudnya, hari ini memang banyak kaum intelek yang tetap punya
pilihan untuk bersama rakyat miskin melawan penindasan. Tetapi berapa
jumlah mereka dan sampai kapan mereka-mereka ini bersama rakyat
miskin? Sampai tamat kuliah atau sampai mendapatkan tempat yang
nyaman? Saya tidak akan pernah mau mendengar jawaban dari pertanyaan
itu meskipun saya sendiri yang melontarkan pertanyaan itu karena
konsistensi dalam perjuangan tidak cukup hanya diucapkan. Wassalam.
“Siapa
yang tergetar hatinya melihat penindasan, maka kau adalah kawanku”
(Ernesto “Che”
Guevara)
*
Penulis adalah anggota Aliansi Buruh Menggugat-Bandung, sekaligus
anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.
**Siapa
saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian
dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna
harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa
Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian
atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat
atau www.prakarsa-rakyat.org).