HARI
GINI, MASIH
PERCAYA
JANJI POLITIK ARTIS
KE
RAKYAT?
Oleh
Fitri *
“..hari
gini kalau tidak punya uang jangan berkecimpung di dunia politik..”
(ucapan
wakil bupati Tangerang,
Rano Karno di tayangan SILET RCTI 21 Mei 2008)
Di
tayangan infotainment itu diperlihatkan pula bagaimana hegemoni yang
menciptakan pencitraan di kesadaran orang banyak bahwa hanya yang
banyak uang lah yang bisa melenggang di percaturan politik Indonesia.
Baru-baru ini pula kita lihat di tayangan televisi beberapa artis
akan mengikuti jejak Rano Karno dan Dede Yusuf yang melenggang
menjadi bagian dari antek kapitalis. Keberhasilan 2 aktor film ini
dalam memenangkan kursi pemerintahan, menunjukan bahwa sebenarnya
kepercayaan rakyat terhadap kandidat yang berasal dari kalangan
birokrat dan militer semakin memudar dan cenderung untuk memilih
kandidat yang sama sekali belum masuk ajang pemilihan pemimpin
daerah, seperti yang terjadi di Jawa Barat. Tak akan lama lagi Saipul
Jamil (si penyanyi dangdut), Ikang Fauzi (seorang rocker dan
pengusaha), Wanda Hamidah segera menyusul. Hanya bermodalkan
ketenaran dan punya uang saja mereka, karena untuk pencalonan saja
-hanya sekedar mengambil formulir dibutuhkan biaya sebesar 15 juta-
begitu penuturan seorang artis yang akan mencalonkan menjadi walikota
Serang.
Pertanyaannya
adalah mengapa partai politik yang
ada sekarang menggunakan para artis untuk menjadi wakil-wakil rakyat
di parlemen ataupun menajadi pemimpin rakyat di daerah?
Masyarakat harus tahu bahwa cara “jualan artis” tersebut adalah
bagian dari strategi partai borjuis. Kemunculan artis sebagai calon
dalam berbagai pilkada tidak akan mensejahterakan rakyat, karena
mereka berasal dari lingkungan yang borjuis, glamour, dan bukan
berasal dari rakyat pekerja yang menderita tapi sebenarnya menopang
perekonomian Negara. Rakyat diajak untuk melupakan masalah yang
menimpa diri mereka karena disajikan seorang pemimpin yang berasal
dari kalangan entertainer. Padahal permasalahan
yang terjadi
tidak akan pernah selesai walaupun berganti pemimpin tetapi masih
berada di ranah sistem kekuasaan modal (kekuasannya kaum borjuis)
yang selama ini membelenggu rakyat.
Media
infotainment menyihir pikiran
rakyat pekerja yang menontonnya
(karena gak ada kerjaan dan semua TV melakukan hal
yang sama)
dan menjadi raung propaganda kapitalis, yang menyatakan bahwa uang
adalah segala-galanya. Pilkada dan menjelang pemilu 2009 lagi-lagi
rakyat harus ditipu agar tidak bangkit merebut kekuasaan. Maraknya
artis yang menjadi politisi adalah taktik yang sedang diuji
keefektifannya, tetapi sudah pasti tidak akan membawa perubahan bagi
kehidupan rakyat Indonesia. Sudah bukan saatnya rakyat menitipkan
agendanya ke tangan-tangan elit politik borjuasi, ke tangan-tangan
artis yang hanya bermodalkan ketenaran untuk merebut simpatik
masyarakat.
Penderitaan
rakyat hanya dijadikan untuk berkampanye elit politik borjuis.
Penderitaan rakyat hanya dijadikan rayuan gombal untuk meraih
kekuasaan negara, tapi ketika memerintah justru untuk menindas
rakyat. Apakah para artis akan menolong rakyat melalui partai-partai
borjuis? Jawabannya jelas, semua itu bualan saja dan sudah sering
didengar oleh rakyat. Dalam status sosial kemasyarakatan posisi artis
hari ini adalah sebagai kaki tangan kapitalis untuk mencekoki rakyat
dengan berbagai tayangan di media, baik melalui iklan, sinetron, dan
berbagai sandiwara lainnya yang membuat rakyat semakin hanyut dalam
khayalanya untuk pemenuhan ekonomi yang nyatanya kian hari semakin
mahal.
Yang
Tidak Dibicarakan Para Artis
Para
artis yang bermain di Pilkada sesuai pesanan para penguasa modal
tidak akan pernah bicara caranya melepaskan belenggu rakyat dari
kemiskinan dan penghisapan. Artis bicara hal-hal lain yang
mengalihkan perdebatan soal mengapa kehidupan rakyat diisi dengan
berbagai kebijakan yang terus menghisap darah rakyat. Ketidakpastian
kerja, upah murah, sistem kerja kontak dan outsourcing adalah bentuk
dari penindasan kaum kapitalis. Sekarang lihat, apakah Rano Karno
bicara bagaimana menghapus itu semua di Kabupaten Tangerang?
Dengan
masuknya para artis menjadi elit-elit politik dan kaki tangan
kapitalis jelas tidak akan menyelesaikan masalah. Rakyat bukan butuh
hiburan semu yang akan memanjakan nasib rakyat tapi sekaligus
dijadikan taruhan dalam perjudian kapitalisme. Nasib rakyat bukan
untuk spekulasi gerak modal yang diakumulasikan oleh pemilik modal.
Agar rakyat tidak digadaikan, tidak jadi taruhan, maka rakyat
pekerjalah yang harus berkuasa. Rakyat pekerja lah yang harus
memimpin dan merubah segala kebijakan yang anti rakyat yang selama
ini menjadi kebijakan pemerintah yang bertekuk lutut di bawah ketiak
kaum pemilik modal dan tidak bisa membawa rakyat ke taraf hidup yang
layak. Jangan biarkan perlawanan rakyat hari ini dimanfaatkan oleh
segilintir orang yang ingin menjadi pahlawan kesiangan di
tengah-tengah massa rakyat yang sedang mulai membangun kekuatan.
Ayo
bersatu lawan penjajahan bentuk baru, penjajahan kaum modal!
*
Penulis adalah anggota Federasi Serikat Pekerja Karawang (FSPEK), sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa
Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
**Siapa
saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian
dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna
harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa
Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian
atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat
atau www.prakarsa-rakyat.org).