Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org

SADAR

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 125 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


BEGITU ADAPTIFKAH MASYARAKAT KITA?



Oleh Suprapto*



Menghadapi kenaikan harga-harga kebutuhan hidup (sembako, transportasi) yang begitu tajam akibat dinaikkannya harga BBM, ternyata kita menemukan respon yang “datar-datar” saja di masyarakat. Respon dengan aksi-aksi massa dengan tuntutan penolakan terhadap kenaikan BBM masih belum signifikan. Dalam respon pun kita bisa bagi dalam 3 kategori, yakni pertama, aksi mandiri dari kehendak massa yang menolak kenaikan BBM. Ini ditunjukkan dengan aksi petani bawa traktor turun ke jalan, sopir angkot bagi selebaran. Aksi-aksi ini “terlihat” spontan dan reaktif atas kebijakan kenaikan BBM sehingga berdiri sendiri di sebuah daerah, seolah-olah tidak ada hubungannya dengan reaksi massa di daerah lainnya. Ketulusan aksi ini terbukti dengan “belum bisa menawarkan solusi,” namun kelangsungan aksi ini cukup bertahan lama. Tentu ini karena kurangnya informasi mayarakat, namun inilah sejatinya kekuatan ke depan yang bisa menjadi senjata perubahan, karena ketulusan dalam menyuarakan kehendak.


Kedua, aksi yang independen dari organisasi massa, artinya hampir sama dengan butir pertama, tetapi ini lebih terorganisir dan terpimpin dalam skala kekuatan organisasi tersebut. Aksi-aksi ini memberikan uraian akan kenapa terjadi krisis, solusi jangka pendek dan jangka panjang serta cara pencapaiannya yang didasarkan atas kekuatan massa rakyat. Kategori pertama dan kedua bisa bertemu dan menjadi energi perubahan yang luar biasa besar. Kekuatan ini memang bisa dikatakan agak lamban dalam merespon kondisi, tetapi ini karena faktor teknis saja.


Ketiga, aksi-aksi yang diintervensi oleh elit politik borjuis demi kepentingan pemilu 2009 atau pilkada. Ini bisa dilihat dari keterlibatan tokoh/elit politik yang menawarkan solusi yang hanya mengganti orang per orang dalam kabinet atau ganti presiden tetapi tidak menawarkan solusi perubahan sistem. Aksi ini biasanya besar tetapi hanya sebentar, karena pengaruh dari kekuatan uang dari elit terebut. Butir 1 bisa berbarengan atau diklaim oleh butir 3 ini karena kemampuan dan informasi dari kelompok butir 1 yang masih lemah. Namun perlu diingat yang “rusak” dalam butir ini hanyalah elit organisasi dan elit politik, karena massa tetap berjuang dengan tulus. Kekuatan aksi model ini sangat lemah dan “tidak jadi apa apa” bagi perubahan kondisi rakyat karena dia mengabdi pada kepentingan elit.


Gambaran itu bukan untuk mencaci atau sebagai keluhan, tetapi bisa jadi alat untuk melihat kekuatan yang bersegi hari depan dalam gerakan rakyat Indonesia dalam melakukan perubahan sejati. Secara kuantitas jumlah aksi-aksi massa juga masih belum signifikan untuk membatalkan kenaikan harga BBM. Sudah diperkirakan kenaikan harga BBM ini akan berjalan “mulus-mulus saja,” karena faktor dan syarat untuk menggagalkan kenaikan harga BBM tidak terpenuhi yakni kekuatan massa besar dan merata di Indonesia untuk menolak kenaikan, sehingga menghadirkan krisis politik dan sosial secara terpimpin dan terorganisir. Selain itu juga telah direstuinya kenaikan ini secara kelembagaan oleh DPR RI, yang mengaku sebagai wakil rakyat.


Aksi massa untuk menolak tidak terjadi secara signifikan juga karena ada suatu budaya (pola pikir dan perilaku) dari masyarakat Indonesia ini, di antaranya pertama, adaptif, kata halus dari sebuah kepasrahan. Adaptif ini memiliki beberapa bentuk nyata, yakni pasrah lalu bunuh diri. Ingat laporan WHO tahun 2008 bulan Januari, angka bunuh diri di Indonesia melewati Jepang dan nomor 1 di dunia dengan rata-rata 100 orang per hari melakukan bunuh diri (dengan banyak variasinya) dengan alasan yang dominan akibat himpitan ekonomi. Bentuk lainnya, pasrah tetapi mengalami gangguan jiwa. Departemen Kesehatan RI dan WHO juga melaporkan bahwa tingkat gangguan jiwa di Indonesia tertinggi di dunia. Akibat utamanya adalah himpitan ekonomi. Kita bisa miris melihat angka gangguan jiwa di Indonesia yang total 30% dari jumlah penduduk mengalami gangguan jiwa dari stress sampai gila, artinya ada 66 juta jiwa dan dari jumlah itu 10% adalah gila.


Kedua, melawan keadaan dengan menjarah (mencuri, mencopet), lihat tingkat kejahatan kriminal juga meningkat tajam akibat himpitan ekonomi, baik yang terncana maupun spontan. Namun walau demikan adapula bentuk perlawanan yang positif dengan cara berusaha secara ekonomi dan melakukan aksi massa dengan terlibat dalam organisasi massa maupun politik untuk terus menerus melakukan perlawanan.


Budaya ini tidak begitu saja lahir dan berkembang, tetapi lebih karena dikondisikan oleh rezim borjuis dan intelektual pengikut setia neoliberalisme dengan program-programnya. Budaya adaptif lahir karena diberi mimpi oleh rezim dengan program BLT, P2KP, PNPM. Sehingga sering kali konflik yang muncul adalah kondlik horizontal antar masyarakat sendiri. Energinya terbuang bukan untuk melawan rezim, inilah dosa paling besar dari intelektual kacung neoliberalisme saat ini.


Program lainnya yang melahirkan budaya adaptif dengan situasi sulit perekonomian akibat ulah rezim neoliberalisme adalah acara-acara TV dan acara humanis dari politisi maupun pemerintahan SBY-JK. Dari acara TV, orang dicekoki dengan kuis-kuis berhadiah besar tanpa harus kerja keras, duduk di depan TV sambil menunggu seleberiti tampil. Politisi dan SBY-JK dengan asyik membuat pesta seabad kebangkitan nasional (yang harus diperdebatkan nilai kesejarahannya, antara lahirnya budi utomo 1908 dengan lahirnya pergerakan rakyat yang terorganisir melalui organisasi serikat buruh tahun 1905) di Gelora Bung Karno yang menghabiskan miliaran rupiah di tengah sakitnya bangsa ini menghadapi krisis.


Kenyataan ini memang miris, tetapi kita memliki potensi besar dengan masih cukupnya budaya melawan untuk dijadikan bahan bakar kekuatan melakukan perubahan. Maka tugas yang harus dilakukan adalah membangitkan semangat perubahan dan melawan kebijakan kenaikan harga BBM dari massa rakyat dengan memberikan contoh perlawanan dari tempat atau titik di mana massa berkumpul. Kader dan anggota dari organisasi massa atau politik yang melandaskan pada kolektivisme dan kepentingan rakyat harus turun dan berada bersama massa memberikan contoh perlawanan dari yang paling sederhana. Karena massa yang terilusi serta pasrah membutuhkan contoh yang mudah ditiru.


Selain itu, aksi massa yang terpimpin dan independen, bebas dari intervensi elit sangat dibutuhkan dalam skala nasional untuk bisa jadi motor penggerak perlawanan secara serentak dalam skala nasional. Bila ini terjadi secara terus-menerus dan terjaga maka masa depan bangsa ini masih cerah, walaupun kenaikan harga BBM terjadi tetapi perlawanan jangka panjang untuk sebuah perubahan ada di depan mata.



* Penulis adalah Buruh PT Kahatex Cimahi, Koordinator Aliansi Buruh Menggugat (ABM) Bandung Raya. Sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.


** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).





 
webmaster@prakarsa-rakyat.org