BEGITU
ADAPTIFKAH MASYARAKAT KITA?
Oleh
Suprapto*
Menghadapi
kenaikan harga-harga kebutuhan hidup (sembako, transportasi) yang
begitu tajam akibat dinaikkannya harga BBM, ternyata kita menemukan
respon yang “datar-datar” saja di masyarakat. Respon dengan
aksi-aksi massa dengan tuntutan penolakan terhadap kenaikan BBM masih
belum signifikan. Dalam respon pun kita bisa bagi dalam 3 kategori,
yakni pertama,
aksi mandiri dari kehendak massa yang menolak kenaikan BBM. Ini
ditunjukkan dengan aksi petani bawa traktor turun ke jalan, sopir
angkot bagi selebaran. Aksi-aksi ini “terlihat” spontan dan reaktif
atas kebijakan kenaikan BBM sehingga berdiri sendiri di
sebuah daerah, seolah-olah tidak ada hubungannya dengan reaksi massa
di daerah lainnya. Ketulusan aksi ini terbukti dengan “belum bisa
menawarkan solusi,” namun kelangsungan aksi ini cukup bertahan
lama. Tentu ini karena kurangnya informasi mayarakat, namun inilah
sejatinya kekuatan ke depan yang bisa menjadi senjata perubahan,
karena ketulusan dalam menyuarakan kehendak.
Kedua,
aksi yang independen dari organisasi massa, artinya hampir sama
dengan butir pertama, tetapi ini lebih terorganisir dan terpimpin
dalam skala kekuatan organisasi tersebut. Aksi-aksi ini memberikan
uraian akan kenapa terjadi krisis, solusi jangka pendek dan jangka
panjang serta cara pencapaiannya yang didasarkan atas kekuatan massa
rakyat. Kategori pertama dan kedua bisa bertemu dan menjadi energi
perubahan yang luar biasa besar. Kekuatan ini memang bisa dikatakan
agak lamban dalam merespon kondisi, tetapi ini karena faktor teknis
saja.
Ketiga,
aksi-aksi yang diintervensi oleh elit politik borjuis demi
kepentingan pemilu 2009 atau pilkada. Ini bisa dilihat dari
keterlibatan tokoh/elit politik yang menawarkan solusi yang hanya
mengganti orang per orang dalam kabinet atau ganti presiden tetapi
tidak menawarkan solusi perubahan sistem. Aksi ini biasanya besar
tetapi hanya sebentar, karena pengaruh dari kekuatan uang dari elit
terebut. Butir 1 bisa berbarengan atau diklaim oleh butir 3 ini
karena kemampuan dan informasi dari kelompok butir 1 yang masih
lemah. Namun perlu diingat yang “rusak” dalam butir ini hanyalah
elit organisasi dan elit politik, karena massa tetap berjuang dengan
tulus. Kekuatan aksi model ini sangat lemah dan “tidak jadi apa
apa” bagi perubahan kondisi rakyat karena dia mengabdi pada
kepentingan elit.
Gambaran
itu bukan untuk mencaci atau sebagai keluhan, tetapi bisa jadi alat
untuk melihat kekuatan yang bersegi hari depan dalam gerakan rakyat
Indonesia dalam melakukan perubahan sejati. Secara kuantitas jumlah
aksi-aksi massa juga masih belum signifikan untuk membatalkan
kenaikan harga BBM. Sudah diperkirakan kenaikan harga BBM ini akan
berjalan “mulus-mulus saja,” karena faktor dan syarat untuk
menggagalkan kenaikan harga BBM tidak terpenuhi yakni kekuatan massa
besar dan merata di Indonesia untuk menolak kenaikan, sehingga
menghadirkan krisis politik dan sosial secara terpimpin dan
terorganisir. Selain itu juga telah direstuinya kenaikan ini secara
kelembagaan oleh DPR RI, yang mengaku sebagai wakil rakyat.
Aksi
massa untuk menolak tidak terjadi secara signifikan juga karena ada
suatu budaya
(pola pikir dan perilaku) dari
masyarakat Indonesia ini, di antaranya pertama,
adaptif, kata halus dari sebuah kepasrahan. Adaptif ini memiliki
beberapa bentuk nyata, yakni pasrah lalu bunuh diri. Ingat laporan
WHO tahun 2008 bulan Januari, angka bunuh diri di Indonesia melewati
Jepang dan nomor 1 di dunia dengan rata-rata 100 orang per hari
melakukan bunuh diri (dengan banyak variasinya) dengan alasan yang
dominan akibat himpitan ekonomi. Bentuk lainnya, pasrah tetapi
mengalami gangguan jiwa. Departemen Kesehatan RI dan WHO juga
melaporkan bahwa tingkat gangguan jiwa di Indonesia tertinggi di
dunia. Akibat utamanya adalah himpitan ekonomi. Kita bisa miris
melihat angka gangguan jiwa di Indonesia yang total 30% dari jumlah
penduduk mengalami gangguan jiwa dari stress sampai gila, artinya ada
66 juta jiwa dan dari jumlah itu 10% adalah gila.
Kedua,
melawan keadaan dengan menjarah (mencuri, mencopet), lihat tingkat
kejahatan kriminal juga meningkat tajam akibat himpitan ekonomi, baik
yang terncana maupun spontan. Namun walau demikan adapula
bentuk perlawanan yang positif dengan cara berusaha secara ekonomi
dan melakukan aksi massa dengan terlibat dalam organisasi massa
maupun politik untuk terus menerus melakukan perlawanan.
Budaya
ini tidak begitu saja lahir dan berkembang, tetapi lebih karena
dikondisikan oleh rezim borjuis dan intelektual pengikut setia
neoliberalisme dengan program-programnya. Budaya adaptif lahir karena
diberi mimpi oleh rezim dengan program BLT, P2KP, PNPM. Sehingga
sering kali konflik yang muncul adalah kondlik horizontal antar
masyarakat sendiri. Energinya terbuang bukan untuk melawan rezim,
inilah dosa paling besar dari intelektual kacung
neoliberalisme saat ini.
Program
lainnya yang melahirkan budaya adaptif dengan situasi sulit
perekonomian akibat ulah rezim neoliberalisme adalah acara-acara TV
dan acara humanis dari politisi maupun pemerintahan SBY-JK. Dari
acara TV, orang dicekoki dengan kuis-kuis berhadiah
besar
tanpa harus kerja keras, duduk di depan TV sambil menunggu seleberiti
tampil. Politisi dan SBY-JK dengan asyik membuat pesta seabad
kebangkitan nasional (yang harus diperdebatkan nilai kesejarahannya,
antara lahirnya budi utomo 1908 dengan lahirnya pergerakan rakyat
yang terorganisir melalui organisasi serikat buruh tahun 1905) di
Gelora Bung Karno yang menghabiskan miliaran rupiah di tengah
sakitnya bangsa ini menghadapi krisis.
Kenyataan
ini memang miris, tetapi kita memliki potensi besar dengan masih
cukupnya budaya melawan untuk dijadikan bahan bakar kekuatan
melakukan perubahan. Maka tugas yang harus dilakukan adalah
membangitkan semangat perubahan dan melawan kebijakan kenaikan harga
BBM dari massa rakyat dengan memberikan contoh perlawanan dari tempat
atau titik di mana massa berkumpul. Kader dan anggota dari organisasi
massa atau politik yang melandaskan pada kolektivisme dan kepentingan
rakyat harus turun dan berada bersama massa memberikan contoh
perlawanan dari yang paling sederhana. Karena massa yang terilusi
serta pasrah membutuhkan contoh yang mudah ditiru.
Selain
itu, aksi massa yang terpimpin dan independen, bebas dari intervensi
elit sangat dibutuhkan dalam skala nasional untuk bisa jadi motor
penggerak perlawanan secara serentak dalam skala nasional. Bila ini
terjadi secara terus-menerus dan terjaga maka masa depan bangsa ini
masih cerah, walaupun kenaikan harga BBM terjadi tetapi perlawanan
jangka panjang untuk sebuah perubahan ada di depan mata.
*
Penulis adalah Buruh PT Kahatex Cimahi, Koordinator Aliansi Buruh
Menggugat (ABM) Bandung Raya. Sekaligus anggota Forum Belajar
Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.
**
Siapa saja
dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau
seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan
mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus
mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat.
Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau
seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau
www.prakarsa-rakyat.org).