SELAMATKAN
ANAK-ANAK DARI BUSUNG LAPAR!
Oleh
Lefidus Malau *
Anak-Anak
Kelaparan
Kelaparan
yang mengakibatkan gizi buruk dan kurang gizi seperti yang diderita
anak-anak di NTB, NTT, Papua, Lampung dan berbagai wilayah lainnya
bukanlah kejadian yang tiba-tiba muncul di Indonesia. Berbagai
survei, penelitian dan berita media selalu mengulang laporan yang
mengungkap kondisi bayi dan anak balita yang menderita kelaparan di
berbagai wilayah . Tengoklah data BPS tahun 1999, yang menyebutkan
bahwa dari total 19.941.528 anak balita yang menderita gizi buruk dan
kurang gizi ada sebesar 5.256.587 anak Balita (BPS, Susenas
1989-2000). Pada tahun 1999, dikabarkan tentang ribuan bayi dan anak
balita menderita gizi buruk di Sumatera Barat. Entah berapa yang
menderita busung lapar atau marasmus kwarshiorkor.
Kematian
akibat busung lapar juga bukan kejadian yang baru.
Penelitian
untuk menyusun desertasi yang dilakukan dr. Saptawati Bardosono Msc
tentang status gizi balita di tiga daerah miskin di Indonesia
(pedesaan Alor-Rote di NTT, Banggai di Sulawesi Tengah dan kawasan
miskin) dari Januari 1999-Januari 2001 menggambarkan buruknya status
gizi anak-anak di Indonesia (Kompas, 21 Februari 2003). Perbandingan
antara temuan penelitian tersebut dengan kondisi anak-anak berbagai
negara yang dikenal sebagai wilayah bencana di bumi ini sangat
mengejutkan. Prevalensi wasting (kurus/rendahnya
berat badan
terhadap tinggi badan) di semua daerah penelitian melebihi 20 persen.
Kondisi ini jauh lebih buruk dari keadaan di Afrika Barat (16 persen)
dan Asia Tengah bagian Selatan (15 persen) pada tahun 1996. Menurut
WHO, angka kematian akan meningkat secara nyata jika prevalensi
wasting lebih dari persen (5%).
Tingkat
keparahan stunting (pendek/rendahnya tinggi badan
terhadap
usia) di semua daerah penelitian (tahun 1999-2000) lebih tinggi
dibanding kondisi Kongo saat devaluasi mata uang Afrika tahun 1994.
Prevalensi stunting anak balita di
pedesaan Alor-Rote (48
persen) menyamai prevalensi stunting di Afrika
Timur (48
persen) dan melebihi Asia Tengah bagian Selatan (44 persen) pada
tahun 2000. Keadaan Alor-Rote lebih buruk dari setelah kekeringan
tahun 1983-1985. Prevalensi stunting kawasan miskin
26 persen
dan Banggai (Sulawesi Tengah) 28 persen. Stunting
meningkatkan
angka kematian, menurunkan fungsi kognisi dan intelektual serta
meningkatkan resiko penyakit degeneratif seperti diabetes dan tekanan
darah tinggi. Selanjutnya, prevalensi Anemia anak balita di Alor-Rote
(75 persen) mirip Asia Tengah bagian Selatan. Sedangkan Banggai (52
persen) mirip Afrika Barat (56 persen) dan (68 persen) polanya antara
Afrika Timur dan Asia Tengah Bagian Selatan. Anemia berkait erat
dengan proporsi angka kesakitan anak (infeksi saluran pernafasan,
demam, diare) akibat rendahnya asupan makanan sebagai sumber zat
besi.
Survei
Pemantauan Status Gizi dan Kesehatan (Nutrition &
Health
Surveillance System) oleh Helen Keller Foundation selama
1998-2002 menunjukkan kenyataan tentang 10 juta anak balita yang
berusia enam bulan hingga lima tahun – setengah dari populasi anak
balita di Indonesia -- menanggung resiko kekurangan Vitamin A.
Disebutkan, makanan anak-anak tersebut sehari-hari di bawah angka
kecukupan Vitamin A yang ditetapkan untuk anak balita, yaitu 350-460
Retino Ekivalen per hari (Kompas, 30 Juli 2003). Anak-anak yang tidak
dicukupi kebutuhan Vitamin A akan mengalami gangguan kesehatan mata,
kemampuan penglihatan, maupun kekebalan tubuhnya. Laporan survei itu
lebih jauh menyatakan bahwa sebagian anak-anak balita itu menderita
penyakit mata dalam stadium lanjut akibat kekurangan Vitamin A,
sehingga tidak dapat disembuhkan. Anak-anak balita tersebut mengalami
kerusakan bola mata dari keratomalasia (sebagian
dari hitam
mata melunak seperti bubur), ulaserasi kornea
(seluruh bagian
hitam mata melunak seperti bubur) hingga kondisi parah xeroftalmia
scars (bola mata mengecil dan mengempis).
Selamatkan
Anak-Anak
Berbagai
literatur menyatakan bahwa keberadaan wasting, stunting
dan
anemia akibat kekurangan asupan makanan yang bergizi pada bayi dan
anak balita adalah bagian dari lingkaran setan kemiskinan dan
penyakit infeksi. Kemiskinan mengakibatkan rendahnya tingkat
pendidikan orang tua, buruknya lingkungan perumahan dan tidak adanya
akses terhadap air minum dan sanitasi. Juga keterbatasan akses
terhadap kebutuhan dasar lain dan pelayanan sosial termasuk pangan,
kesehatan dan pendidikan.
Ada
sebuah postulasi bahwa keberadaan orang lapar apalagi bayi dan anak
balita busung lapar merupakan pengujian utama terhadap adil dan
efektifnya sistem sosial dan ekonomi di sebuah negara. Demikian
mendasar fungsinya, sehingga melalui sistem pangan masyarakat
(produksi - distribusi - konsumsi) dapat dipakai sebagai jendela
untuk memahami sebuah masyarakat. Kelaparan yang diderita bayi dan
anak balita di jelas menunjukkan tidak adil dan efektifnya sistem
sosial dan ekonomi negara Republik Indonesia.
.
Negara
bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan ini. Akan tetapi,
bertahun-tahun sudah anak-anak kelaparan dan belum pernah DPR
membentuk Panitia Khusus (Pansus) Kasus Anak Busung Lapar atau
Panitia Kerja (Panja) untuk Anak-anak Kelaparan. Kita tidak dapat
mengharapkan para anggota DPR yang terus sibuk dengan Mukernas, rapat
partai, kunjungan kerja, Pilkada dan Pemilu untuk tertarik mengurus
soal anak busung lapar. Kita juga sangat sulit membayangkan
administrasi pemerintah bekerja dalam kerangka organisasi yang
terpadu bergerak cepat mengatasi soal busung lapar. Advokasi masalah
ini pada tingkat kebijakan adalah penting. Menuntut
pertanggungjawaban negara adalah sebuah keharusan. Akan tetapi,
jutaan anak-anak yang menderita lapar tidak dapat menunggu. Sebelum
tiba pada penyelesaian di tataran politik nasional, banyak anak yang
menjadi cacat (mental dan fisik) dan meninggal dalam penantian.
Jutaan anak-anak tidak dapat menunggu dibentuknya Pansus atau Panja
atau Tim Pencari Fakta (TPF) Kematian Anak Balita Akibat Busung Lapar
atau BAKORNAS Penangulangan Busung Lapar. Harus ada tindakan, sekecil
atau sesederhana apapun, untuk dapat menolong anak-anak yang
menderita kelaparan.
Promosi
Sayuran Hijau
Salah
satu cara untuk membantu menyelamatkan bayi dan anak balita dari
kekurangan gizi adalah dengan mempromosikan sayuran daun hijau.
Sayuran daun hijau sudah dikenal sebagai penghasil utama dari segala
macam vitamin, mineral dan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Prof.
Dr. Poorwo Soedarmo, perumus slogan “Empat Sehat Lima Sempurna,”
dan kawan-kawannya telah membuat sebuah daftar sederhana sayuran
hijau khas Indonesia yang dapat ditanam dengan mudah: bayam,
beluntas, enceng padi, gelang, gedi, gendola, genjer, jotang, kabak,
kacang panjang, kaki kuda, krokot, kangkung, katuk, kemangi, kelor,
labu-labuan, leunca, mangkokan, melinjo, mengkudu, paku sayur,
pepaya, sawi putih, selada air, sesawi, singkong, turi, talas, ubi
jalar dan yute.
Sayuran
daun hijau sangat perlu untuk ibu-ibu yang sedang mengandung dan
menysui. Dengan demikian anak dalam kandungan mendapat pasokan gizi
yang baik yang memungkinkan pertumbuhan janin di dalam rahim. Dengan
memakan sayuran daun hijau, Ibu yang sedang menyusui telah memberikan
makanan yang bergizi pada anaknya melalui ASI. Sayuran daun hijau
juga harus segera diberikan pada bayi begitu ia membutuhkan makanan
tambahan di luar ASI. Semangkuk bubur yang dicampur dua genggam
sayuran daun hijau dan sepotong tahu atau tempe cukup memadai sebagai
sarapan anak-anak yang telah tumbuh gigi. Sepiring nasi dengan
sayuran daun hijau yang diolah menjadi kuluban, urap, pecel atau
tumis dapat mempertahankan daya hidup dan pertumbuhan anak balita.
Kandungan gizi sayuran daun hijau telah terbukti ribuan tahun
mempertahankan hidup komunitas yang berpantang memakan daging seperti
para pendeta Budha. Kaum vegetarian yang terus berkembang bisa
bekerja seperti sama produktifnya dengan mereka yang memakan daging.
Otonomi
Nutrisi
Untuk
mendapatkan bahan makanan, terutama sayuran daun hijau, di daerah
pedesaan adalah dengan melakukan otonomi nutrisi. Artinya, penduduk
pedesaan, khususnya petani miskin dengan tanah terbatas harus
mengutamakan tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarganya
secara langsung. Setelah makanan keluarga terpenuhi barulah dapat
diusahakan produk pertanian yang akan diniagakan.
Untuk
sebagian penduduk pedesaan, persoalan dapat diselesaikan melalui
penggunaan rasional ruang yang ada, sesempit apapun adanya. Penduduk
pedesaan dapat secara berkelanjutan memenuhi kebutuhan bagian penting
dari kebutuhan gizi dengan sayuran daun hijau yang dihasilkan secara
langsung di sekitar rumah. Berbagai proyek telah menunjukkan bahwa
tanpa bahan-bahan dari luar dan dengan biaya yang sangat rendah.
Tanah seluas 40 meter persegi dapat menghasilkan pangan untuk
mencukupi kebutuhan anggota keluarga (5 orang) akan mineral dan
Vitamin serta 18 % dari jumlah total protein yang dibutuhkan seperti
yang disarankan WHO. Luas tanah kurang dari 100 meter persegi adalah
sangat relevan dengan keadaan penduduk pedesaan di kebun organik
keluarga.
Untuk
kawasan perkotaan, model yang diterapkan oleh warga Kampung
Banjarsari, Kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan bisa dijadikan contoh
(Kompas, 4 Juni 2005). Warga di kampung tersebut, tepatnya RW 08,
berhasil menata dan menciptakan lingkungan tempat tinggal yang hijau,
sejuk dan nyaman dengan cara yang sangat kreatif. Di sekitar rumah
masing-masing, warga menanam beragam tumbuhan. tanaman produktif,
tanaman pelindung, tanaman hias dan tanaman yang berkhasiat obat.
Karena tidak ada lahan untuk menanam tumbuhan, warga Kampung
Banjarsari menggunakan media pot untuk menanam tanaman. Pot-pot yang
digunakan bervariasi dan banyak menggunakan barang bekas seperti
bekas drum sampai bekas air mineral kemasan gelas. Ribuan tanaman pot
ditata sehingga membentuk rerimbunan tanaman.
Usaha
seperti itu tidak membutuhkan biaya besar. Di Kampung Banjarsari,
petugas RW bekerjasama dengan dinas pertanian untuk mendapatkan
bibit-bibit tanaman yang murah. Dana untuk membeli bibit dikumpulkan
dari iuran warga. Inisiatif tersebut dapat dikembangkan untuk
menghasilkan sayuran daun hijau. Untuk memperkaya jenis tanaman di
kebun organik keluarga, bibit bisa didapatkan dengan berburu tanaman
atau saling tukar bibit antara warga.
Penutup
Sayangnya,
tulisan ini kemungkinan besar tidak bisa dibaca oleh kelompok
masyarakat yang sedang dirundung kelaparan: keluarga-keluarga yang
sedang menatap anak-anak mereka yang tergolek lunglai. Para pembaca
tulisan ini, diharapkan dapat membantu sesuai dengan kesempatan dan
kemampuan masing-masing. Para guru sekolah maupun guru agama adalah
kelompok yang paling diharapkan menjadi pendorong bagi keluarga para
murid-murid untuk mengenal dan menghargai sayuran daun hijau sebagai
sumber gizi yang utama. Guru dapat meluangkan sedikit waktu di sela
pelajaran untuk bertanya tentang apa saja yang dimakan para murid dan
sekaligus memperkenalkan khasiat sayuran daun hijau dan bagaimana
cara bercocok tanam.
Para
ketua RT dan ketua RW yang sangat mengenal warga dan wilayahnya
sangat penting dalam gerakan memakan sayuran hijau untuk menekan
kasus kurang gizi dan gizi buruk. Pertemuan-pertemuan warga dapat
diisi dengan mengenal berbagai sayuran daun hijau dan manfaatnya bagi
tubuh.
Urun
pikiran di antara para pembaca untuk menolong bayi dan anak balita
dari kekurangan gizi akan mengembangkan berbagai kegiatan. Sambil
bekerja kreatif untuk menolong bayi dan anak balita, kita tetap harus
membangun kekuatan untuk menuntut negara bertanggung jawab atas
kelaparan yang dialami jutaan bayi dan anak balita di Indonesia.
*
Penulis adalah bapak rumah tangga, tinggal di Depok dan anggota
simpul JKB. Sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat
dari Simpul Jabodetabek.
**Siapa
saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian
dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna
harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa
Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian
atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat
atau www.prakarsa-rakyat.org).