SEHATKAH
JIWA KITA?
Oleh
Dwi Feriyati*
Hasil
survey Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tingkat gangguan
kesehatan jiwa orang di Indonesia tinggi dan di atas rata-rata
gangguan kesehatan jiwa didunia. Ini ditunjukkan dengan data yang
dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI: (1) Rata-rata 40 dari
100.000 orang di Indonesia melakukan bunuh diri, sementara rata-rata
dunia menunjukkan 15,1 dari 100.000 orang; (2) Rata-rata orang bunuh
diri di Indonesia adalah 136 orang per-hari atau 48.000 orang bunuh
diri per tahun; (3) Satu dari empat orang di Indonesia mengalami
gangguan kesehatan jiwa; (4) Penderita gangguan jiwa di Indonesia,
hanya 0,5 % saja yang dirawat di RS Jiwa.
Problem
gangguan kesehatan jiwa adalah ancaman bagi semua manusia di dunia
dan merupakan dampak sistem ekonomi, politik dan sosial yang terjadi
di masyarakat. Problem ini ada seiring dengan perkembangan manusia
itu sendiri dan menguat sejak persaingan antar individu dilembagakan
(kapitalisme).
Gangguan
jiwa bisa terjadi karena banyak sebab, di antaranya adalah tidak
tercapainya tujuan hidup (harapan-harapan), dikucilkan oleh
masyarakat karena banyak hal seperti menderita sakit dan kondisi
ekonomi yang miskin. Juga diakibatkan oleh tuntutan dari keluarga
yang tidak sesuai degan bakat atau keinginan, adanya tekanan ekonomi
dan sosial serta banyak sebab lainnya.
Lingkungan
sosial yang terbentuk kita pahami adalah hasil bentukan dari sistem
ekonomi dan dibuat oleh kekuasaan politik dari kepentingan ekonomi
tersebut. Sistem ekonomi kapitalistik dunia yang mengedepankan
persaingan, komersialisme dan kepemilikkan privat yang besar. Dari
sinilah sumber-sumber penyakit kejiwaan tumbuh berkembang seiring
dengan kerasnya persaingan dan ketidaksiapan jiwa sesorang menerima
kekalahan, tersingkirkan dan menderita sendirian.
Sistem
kapitalisme yang telah terlembagakan dengan baik secara internasional
dan nasional, juga menciptakan perangkat-perangat di tingkat lokal.
Perangkat yang digunakan yakni hukum, budaya-tradisi dan sistem
sosial, dimana posisi seperti ini menempatkan kelas pekerja menjadi
lemah sehingga penyakit akan mudah hinggap di jiwa. Dari penderita
gangguan kesehatan jiwa, perempuan menempati jumlah terbesar.
Beberapa survey, menyatakan bahwa perempuan di era kebijakan pasar
bebas menanggung beban ganda. Sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus
sebagai pencari nafkah. Inilah strukturisasi budaya dan sosial dari
kapitalisme.
Lalu,
bagaimana mengenal gangguan jiwa sejak dini dalam diri kita?
Sangatlah penting memperhatikan gejala akan penyakit kesehatan jiwa
tersebut. Nah, kita sadari sandaran kekuatan pokok untuk kita bekerja
dan bertahan hidup adalah diri kita sendiri, maka kesehatan adalah
hal utama yang harus diperhatikan. Untuk itu kita harus mengenali
gejala dari penyakit kejiwaan, yakni psikis: sering
pusing
kepala sebelah, susah tidur, daya tangkap kurang, sering lupa, tidak
bisa menyesuaikan diri; psikologis: rendah diri,
merasa tidak
berguna (selalu salah dan kalah), merasa terkucil, susah berkawan.
Persoalan
sosial adalah persoalan kelompok kepentingan, bukan individu.
Walaupun diawali oleh kebutuhan individu dalam mencari dan
menjalankan hidupnya, seperti juga persoalan ekonomi. Maka, selain
mengenali gejala penyakit juga harus kita usahakan mencari
pencegahannya. Baik secara individu maupun secara kelompok/kolektif.
Pencegahan yang bisa dilakukan secara individu, di antaranya adalah
(1) Mengenal diri sendiri, posisi dan lingkungan sosial kita; (2)
Mengerti kebutuhan pribadi-keluarga dan mengukur kemampuan; (3)
Memahami tradisi dan budaya lingkungan kita; (4) Menetapkan
orientasi hidup dan menentukan kelompok lingkungan yang satu tujuan,
untuk kita bisa masuk ke dalamnya; (5) Memperkuat daya analisa, cara
bergaul dan hidup sederhana sesuai kebutuhan.
Selain
itu organisasi massa sudah seharusnya melihat problem tersebut
sebagai ancaman secara internal dalam membangun kekuatan kelas
pekerja saat ini. Perilaku dalam orang berorganisasi dengan berbagai
alasan juga akan mengalami gangguan jiwa karena problem-problem yang
dihadapi. Cara orang melampiaskan gangguan jiwanya bermacam-macam,
dan ini menjadi potensi penghancuran organisasi dari dalam. Nah
karena merupakan ancaman, maka harus ada upaya konkrit membuat
program yang mampu menjawab hal tersebut, di antaranya adalah (1)
Membuat ruang sosial geraknya terbuka dan diterima masyarakat luas;
(2) Membuat program peningkatan kualitas anggota dan lingkungan
sekitar; (3) Membangun interaksi sosial dengan masyarakat dengan
organisasi secara dinamis; (4) Membangun mekanisme yang luwes dan
ruang demokrasi internal yang cukup; (5) Membangun sistem
kolektivitas dalam kerja dan ruang sosial.
Mencegah
dan membuat program mengatasi persoalan kesehatan jiwa adalah bagian
besar dalam perjuangan melawan sistem kapitalisme internasional.
Karena bagian inilah yang akan membuka ruang kesadaran lebih dan
menjadikan orang memahami sistem yang menindas serta akan bergrak
berjuang secara bersama.
Nah,
yang terlupakan oleh para pengurus kelompok, organissi massa atau
yang menyebut dirinya aktivis, seringkali melupakan olahraga fisik.
Karena salah satu pencegahan utama dari gangguan kesehatan jiwa
adalah kebugaran fisik. Seperti pepatah, Men sana in corpore
sano,
dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, bagaimanapun merubah
sistem dan membangun kekuasaan politik, sosial dan budaya perlu
kekuatan. Dan revolusi butuh kebugaran fisik dan jiwa.
*
Penulis adalah guru di Klinik Camar Jakarta, sekaligus anggota Forum
Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
**Siapa
saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian
dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna
harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa
Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian
atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat
atau www.prakarsa-rakyat.org).