Buletin Elektronik www.Prakarsa-Rakyat.org

SADAR

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 118 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


 

SEHATKAH JIWA KITA?


Oleh Dwi Feriyati*


Hasil survey Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tingkat gangguan kesehatan jiwa orang di Indonesia tinggi dan di atas rata-rata gangguan kesehatan jiwa didunia. Ini ditunjukkan dengan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI: (1) Rata-rata 40 dari 100.000 orang di Indonesia melakukan bunuh diri, sementara rata-rata dunia menunjukkan 15,1 dari 100.000 orang; (2) Rata-rata orang bunuh diri di Indonesia adalah 136 orang per-hari atau 48.000 orang bunuh diri per tahun; (3) Satu dari empat orang di Indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa; (4) Penderita gangguan jiwa di Indonesia, hanya 0,5 % saja yang dirawat di RS Jiwa.


Problem gangguan kesehatan jiwa adalah ancaman bagi semua manusia di dunia dan merupakan dampak sistem ekonomi, politik dan sosial yang terjadi di masyarakat. Problem ini ada seiring dengan perkembangan manusia itu sendiri dan menguat sejak persaingan antar individu dilembagakan (kapitalisme).


Gangguan jiwa bisa terjadi karena banyak sebab, di antaranya adalah tidak tercapainya tujuan hidup (harapan-harapan), dikucilkan oleh masyarakat karena banyak hal seperti menderita sakit dan kondisi ekonomi yang miskin. Juga diakibatkan oleh tuntutan dari keluarga yang tidak sesuai degan bakat atau keinginan, adanya tekanan ekonomi dan sosial serta banyak sebab lainnya.


Lingkungan sosial yang terbentuk kita pahami adalah hasil bentukan dari sistem ekonomi dan dibuat oleh kekuasaan politik dari kepentingan ekonomi tersebut. Sistem ekonomi kapitalistik dunia yang mengedepankan persaingan, komersialisme dan kepemilikkan privat yang besar. Dari sinilah sumber-sumber penyakit kejiwaan tumbuh berkembang seiring dengan kerasnya persaingan dan ketidaksiapan jiwa sesorang menerima kekalahan, tersingkirkan dan menderita sendirian.


Sistem kapitalisme yang telah terlembagakan dengan baik secara internasional dan nasional, juga menciptakan perangkat-perangat di tingkat lokal. Perangkat yang digunakan yakni hukum, budaya-tradisi dan sistem sosial, dimana posisi seperti ini menempatkan kelas pekerja menjadi lemah sehingga penyakit akan mudah hinggap di jiwa. Dari penderita gangguan kesehatan jiwa, perempuan menempati jumlah terbesar. Beberapa survey, menyatakan bahwa perempuan di era kebijakan pasar bebas menanggung beban ganda. Sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai pencari nafkah. Inilah strukturisasi budaya dan sosial dari kapitalisme.

Lalu, bagaimana mengenal gangguan jiwa sejak dini dalam diri kita? Sangatlah penting memperhatikan gejala akan penyakit kesehatan jiwa tersebut. Nah, kita sadari sandaran kekuatan pokok untuk kita bekerja dan bertahan hidup adalah diri kita sendiri, maka kesehatan adalah hal utama yang harus diperhatikan. Untuk itu kita harus mengenali gejala dari penyakit kejiwaan, yakni psikis: sering pusing kepala sebelah, susah tidur, daya tangkap kurang, sering lupa, tidak bisa menyesuaikan diri; psikologis: rendah diri, merasa tidak berguna (selalu salah dan kalah), merasa terkucil, susah berkawan.


Persoalan sosial adalah persoalan kelompok kepentingan, bukan individu. Walaupun diawali oleh kebutuhan individu dalam mencari dan menjalankan hidupnya, seperti juga persoalan ekonomi. Maka, selain mengenali gejala penyakit juga harus kita usahakan mencari pencegahannya. Baik secara individu maupun secara kelompok/kolektif. Pencegahan yang bisa dilakukan secara individu, di antaranya adalah (1) Mengenal diri sendiri, posisi dan lingkungan sosial kita; (2) Mengerti kebutuhan pribadi-keluarga dan mengukur kemampuan; (3) Memahami tradisi dan budaya lingkungan kita; (4) Menetapkan orientasi hidup dan menentukan kelompok lingkungan yang satu tujuan, untuk kita bisa masuk ke dalamnya; (5) Memperkuat daya analisa, cara bergaul dan hidup sederhana sesuai kebutuhan.


Selain itu organisasi massa sudah seharusnya melihat problem tersebut sebagai ancaman secara internal dalam membangun kekuatan kelas pekerja saat ini. Perilaku dalam orang berorganisasi dengan berbagai alasan juga akan mengalami gangguan jiwa karena problem-problem yang dihadapi. Cara orang melampiaskan gangguan jiwanya bermacam-macam, dan ini menjadi potensi penghancuran organisasi dari dalam. Nah karena merupakan ancaman, maka harus ada upaya konkrit membuat program yang mampu menjawab hal tersebut, di antaranya adalah (1) Membuat ruang sosial geraknya terbuka dan diterima masyarakat luas; (2) Membuat program peningkatan kualitas anggota dan lingkungan sekitar; (3) Membangun interaksi sosial dengan masyarakat dengan organisasi secara dinamis; (4) Membangun mekanisme yang luwes dan ruang demokrasi internal yang cukup; (5) Membangun sistem kolektivitas dalam kerja dan ruang sosial.


Mencegah dan membuat program mengatasi persoalan kesehatan jiwa adalah bagian besar dalam perjuangan melawan sistem kapitalisme internasional. Karena bagian inilah yang akan membuka ruang kesadaran lebih dan menjadikan orang memahami sistem yang menindas serta akan bergrak berjuang secara bersama.


Nah, yang terlupakan oleh para pengurus kelompok, organissi massa atau yang menyebut dirinya aktivis, seringkali melupakan olahraga fisik. Karena salah satu pencegahan utama dari gangguan kesehatan jiwa adalah kebugaran fisik. Seperti pepatah, Men sana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, bagaimanapun merubah sistem dan membangun kekuasaan politik, sosial dan budaya perlu kekuatan. Dan revolusi butuh kebugaran fisik dan jiwa.


* Penulis adalah guru di Klinik Camar Jakarta, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.


**Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).

 

 

 

 

 
webmaster@prakarsa-rakyat.org