DG
BASSE DAN BLBI
Oleh
Nasution Camang *
Alangkah
indahnya angka-angka BPS ini: Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun
2005 mencapai 5,6 persen. Di 2006, meskipun trendnya turun tapi masih
bisa tumbuh 5,5 persen. Lantas tahun 2007, naik cukup lumayan, 6,32
persen.
Duhai
indah angka-angka BPS ini: Tingkat kemiskinan di Indonesia tahun
2005 tinggal 15,9 persen, turun 8,2 persen jika dibanding tahun 1998
yang berkisar 24,1 persen. Per maret 2007 tinggal 37,17 juta jiwa,
turun 2,13 juta (5,4 persen) dibanding kondisi pada Maret 2006
sebesar 39,30 juta.
Di
atas kertas, angka itu sungguh menyejukkan. Bahwa capaian pertumbuhan
ekonomi telah menurunkan angka kemiskinan. Wajar jika angka-angka itu
menjadi pujaan SBY-JK, sampai-sampai dia harus grasa-grusu
menampik angka 49,5 persen buatan Bank Dunia.
"Sejak
dulu kita menggunakan BPS, sehingga kalaupun ada yang menggunakan
data Bank Dunia sama saja tidak benarnya," tegasnya kepada media
massa, pertengahan Desember 2007 lalu, untuk menampik data yang
dikeluarkan Wiranto.
Begitulah,
angka statistik acapkali menjadi kosmetik politik untuk mendandani
wajah bopeng penyelenggaraan negara. Tak jadi soal jika angka itu
mendekati fakta sosial. Tapi coba tengok judul berita di Harian
Fajar, edisi 1 Maret 2008: Kelaparan, Ibu Hamil Meninggal.
Ibu
hamil yang tinggal di jalan Dg Tata I Blok 5, itu bernama Dg Basse
(35), isteri seorang pengayuh becak, Basri (40). Dia meninggal
bersama jabang bayi dan anak ketiganya, Bahir (5). Meninggal karena
tiga hari tak makan! Meninggal, karena tak punya uang untuk makan! Aco
(4), anak bungsunya, hampir saja turut sang Ibu jika tetangga tak
segera membopongnya ke Rumah Sakit.
Cerita
Dg Basse, sesungguhnya mewakili kisah lirih jutaan keluarga miskin
di Indonesia. Simak saja, "Setiap hari ada 10 orang miskin
meninggal," ungkap Sujana Royat, Deputi Menko Kesra Bidang
Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, seperti dikutip Mercusuar (19
Nov 2005). Lantas, apa yang terbaca dari angka-angka di atas jika
disandingkan dengan nasib Dg Basse?
Sebuah
fakta tentang paradoks pertumbuhan. Artinya, pertumbuhan itu bukan
milik orang-orang miskin yang mendambakan perubahan sektor riil.
Pertumbuhan itu hanya milik segelintir orang-orang kaya yang
berkubang di sektor finansial. Celakanya, rekayasa pembangunan
ekonomi Indonesia, sepertinya memang disengajakan untuk pro pada
segelintir orang-orang kaya. Adalah tuan-tuan IMF yang menitahkan,
dan baginda-baginda kita di Jakarta tunduk tak berdaya.
Bayangkan,
hanya untuk menyelamatkan bank-banknya 48 konglomerat dari
kebangkrutan, sang baginda tak sungkan-sungkan kucurkan bantuan Rp
158,9 triliun. Lantas bagaimana dengan rakyat miskin? Per 2005, APBN
hanya menganggarkan Rp 4,750 triliun untuk skema Bantuan Langsung
Tunai (BLT). Ini untuk 19.341.264 rumah tangga miskin.
Yang
menyakitkan, dari total dana bantuan itu, sekitar Rp 86,9 triliun
menjadi misterius, mengendap entah kemana (Rp 84,4 triliun untuk BLBI
dan Rp 2,139 triliun untuk BLT). Bandingkan dengan angka Rp 2,610
triliun yang benar-benar sampai ke 19 jutaan rumah tangga miskin.
Jadi,
benarlah Francois Noel Babeuf (1760-1797). Jurnalis Prancis yang
revolusionis ini pernah bilang, "Orang yang berhasil memperoleh
terlalu banyak hanya akan menyebabkan orang lain kekurangan."
Dan untuk Indonesia di 2007, orang lain itu adalah 45,7 juta jiwa
penduduk miskin, jika merujuk pada perkiraan LIPI.
Kalau
kemudian pemerintah pernah menargetkan akan menurunkan angka
kemiskinan di bawah 5 persen pada 19 tahun ke depan, terhitung sejak
tahun 2007, kita memang patut meyakini. Mengapa? Karena kasus Dg
Basse dan data Sujana Royat, telah cukup bagi kita untuk
menyimpulkan, bahwa salah satu faktor penyebab turunnya angka
kemiskinan adalah kematian orang-orang miskin. Dan jika melihat trend
lonjakan harga kebutuhan pokok yang kian liar, maka kisah lirih Dg
Basse bakal sering terdengar.
Kalau
kemudian menjelang Pemilu 2009, SBY-JK telah meningkatkan anggaran
pengurangan kemiskinan dari Rp 42 triliun tahun 2006, menjadi Rp 51
triliun tahun 2007 yang digelontorkan melalui skema Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), boleh saja kita simpatik. Tapi jika
belajar dari penyelewangan BLT dan BLBI yang perkaranya terus
menggantung, maka saya masih yakin, bukan keberhasilan PNPM itu yang
menurunkan kemiskinan, tapi penyelewengan dan salah urusnya yang akan
sukses mengurangi kemiskinan.
Lho..
kok?! Ya, karena penyelewengan dan salah urus itulah yang akan
menyebabkan banyak penduduk miskin mati kelaparan seperti Dg Basse.
Sekali lagi, "Orang yang berhasil memperoleh terlalu banyak
hanya akan menyebabkan orang lain kekurangan," kata Francois
Noel Babeuf.
*
Penulis adalah Direktur Eksekutif Yayasan Merah Putih, sekaligus
anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Sulawesi
Tengah.
**Siapa
saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian
dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna
harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa
Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian
atau seluruh m ateri harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa
Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).