PEREMPUAN-PEREMPUAN
TANGGUH DI ISTANA:
CERITA
PERJUANGAN BURUH PEREMPUAN DALAM MENUNTUT HAK
Oleh
Kembang Fajar*
Mendengar
kata “Istana,” maka yang akan terbayang di benak kita adalah satu
bangunan megah sebuah simbol kekuasaan. Bukan, bukan itu yang
dimaksud “Istana” dalam tulisan ini. Melainkan sebuah nama pabrik
PT. Istana Magnoliatama, di kawasan Kapuk Indah Jakarta Utara. Pabrik
yang dimiliki oleh sorang pribumi bernama Andreas Sulaiman yang telah
melakukan PHK atas 460 orang buruhnya yang sebagaian besar adalah
perempuan pada bulan Juli tahun lalu.
Alasan
penutupan pabrik sendiri tidak tersebut dengan jelas, karena memang
tidak melibatkan buruh dan terkesan mendadak. Namun para buruh tidak
begitu saja menerima keputusan perusahaan atas keputusanya. Berbagai
aksi penolakan terus mereka lakukan, dan pengaduan ke lembaga negara
terkait (Disnaker) juga sudah mereka tempuh. Hanya dengan imbalan 2,5
kali gaji, mereka diminta menandatangani surat perjanjian pengunduran
diri, tak terkecuali bagi buruh yang sudah bekerja sampai dengan 24
tahun.
Menduduki
pabrik adalah jalan yang mereka pilih untuk bisa bertahan dan
menuntut haknya agar dapat dipekerjakan kembali dan diberikan upah
selama proses, sesuai dengan UU yang berlaku. Usaha menduduki pabrik
ini tentu mendapat perlawanan dari pihak perusahaan, mulai dari cara
kekerasan dengan mendatangkan preman bayaran untuk mengusir mereka
sampai dengan pemutusan listrik dan air di pabrik.
Kurang
lebih tersisa 100 buruh perempuan yang sudah selama 8 bulan, tak
kenal lelah terus memperjuangkan apa yang mereka yakini adalah benar.
Menghidupi perjuangan mereka dengan mengamen di jalan untuk biaya
makan mereka selama bertahan di pabrik, mendapatkan caci maki dari
sesama buruh yang berada di pabrik sekitar mereka juga menjadi suara
keseharian yang mereka dengar. “Halah, ngapain tidur malem-malem
di pabrik kurang kerjaan aja. Udah terima aja………”
Di
tengah perjuangan, mereka juga tak melupakan ibadah. Bahkan mereka
juga menggelar Shalat Idul Fitri di pabrik tersebut, demi menjaga
agar aset-aset dan dokumen pabrik tidak dibawa pergi oleh pemilik,
yang akan berimbas karena mereka tak lagi punya nilai tawar.
Ditemani
dua orang teman saya, satu seorang fotografer dan satu seorang
aktivis HAM. Satu hari sebelum perayaan hari perempuan sedunia,
tepatnya tanggal 7 Maret kami berkunjung ke Istana, dan mendengar
cerita tangguh permpuan-perempuan di sana dalam memperjuangkan
kebenaran yang mereka yakini. Sebuah pelajaran atas sebuah nama
perjuangan kami dapat di sana, sebuah applaus riuh kami
salutkan atas perjuangan mereka, dari cerita keseharian mereka dalam
bertahan untuk meraih kemenangan.
Adalah
Sriatun, seorang ibu satu anak yang sudah bekerja selama 11 tahun,
dan sekarang anaknya dititipkan ke orang tuanya di kampung halamanya.
Yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya, baik suaminya
ataupun orang tuanya untuk terus bertahan dan berjuang menuntut
hakanya. Ingin tahu sejauh mana akhir dari cerita perjuangannya.
Dengan meneteskan air mata dan sesekali berhenti bercerita sambil
mengusap air matanya, Hera bercerita tentang apa yang dia lakukan. Ia
sempat berjualan gorengan untuk menutupi kebutuhan hidup
sehari-harinya yang tek cukup hanya dengan mengandalkan pemasukan
dari suaminya yang juga seorang buruh. Namun sayang, usaha
berjualannya terhenti lantaran melonjaknya harga kebutuhan pokok
belakangan ini.
Berbeda
lagi dengan Endar, perempuan berusia 34 tahun ini kadang sering
bertanya dalam hati tentang nasibnya, dan membayangkan kapan selesai
kasusnya ini. Tapi, lamunan itu tak membuatnya patah arang dengan
mundur dalam langkah perjuanganya. Suaminya adalah salah satu faktor
yang menguatkan langkahnya, dan untuk itu dia harus rela berpisah
dengan suaminya yang akan membuka usaha di Palembang agar dapat
menghidupi anaknya dan terus mendukung perjuangan istrinya.
Sementara
Turyati, harus rela mendekam selama satu minggu bersama 4 orang
temanya di dalam pabrik dan tak berkesempatan untuk bertemu dangan
calon suaminya. Mereka terkurung di dalam pabrik, ketika berusaha
mempertahankan agar dokumen pabrik tidak diambil oleh pihak
perusahaan yang menyuruh 5 orang preman bayaran. Sempat hendak
dipukul dengan sebuah kursi kayu oleh preman tersebut, Turyati tak
mundur. Dan baru keluar dari pabrik pada tanggal 7 Agustus 2007,
sementara dia akan menikah pada tangal 13 Agustus 2007.
Begitu
banyak pengalaman pahit yang mereka rasakan dalam langkah perjuangan
mereka. Terus dipertanyakan oleh keluarganya bahkan harus berbohong
agar bisa tetap berjuang, seperti yang dialami oleh Mbak Tri yang
kebetulan suaminya juga bekerja di pabrik tersebut. Mereka berbohong
kepada orang tuanya, bahwa telah bekerja kembali di tempat yang lain
agar tidak dirong-rong untuk mundur dari perjuangan mereka.
Namun
sebuah perasaan bangga juga berada di pundak mereka, atas apa yang
telah mereka lakukan dan mereka yakini benar. Jalan panjang masih
harus mereka tempuh untuk sebuah kata kemenangan, kerikil dan tembok
besar akan mereka dapati dalam perjalanan itu, sebuah catatan sejarah
dan cerita menarik akan menjadi dongeng di malam hari bagi anak cucu
mereka kelak di kemudian hari. Sebuah inspirasi akan mereka torehkan
bagi kaumnya, kaum perempuan. Dan kita tak boleh hanya menunggu akhir
dari cerita mereka, sembari memberikan rasa kasihan atas kondisi
mereka. Banyak hal yang bisa kita lakukan dan kita upayakan untuk
mendukung perjuangan mereka.
Dengan
sebuah pertanyaan, saya akhiri cerita dan pengalaman saya ini. “Apa
yang anda bisa lakukan untuk perjuangan mereka?”
*Penulis
adalah Karyawan Swasta di Jakarta, sekaligus anggota Forum Belajar
Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
**Siapa
saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian
dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna
harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa
Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian
atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat
atau www.prakarsa-rakyat.org).