PEREMPUAN DAN JEJAK EKOLOGI
YANG DITINGGALKAN
Oleh
Khalisah Khalid*
Ada
survey singkat terhadap 10 orang perempuan yang tinggal di Jakarta,
terkait dengan jejak ekologi yang ditinggalkan dari sebuah pola
konsumsi yang setiap harinya dilakukan. Survey ini berdasarkan atas
pertanyaan yang sederhana, berapa sering mereka berbelanja untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dimana kecendrungan mereka
berbelanja. Hasilnya tidak mengejutkan, perempuan di kota lebih dari
3 (tiga) kali berbelanja setiap bulannya di pusat perbelanjaan.
Survey ini kita juga bisa melihat jejak ekologi yang ditinggalkan
oleh perempuan untuk pemenuhan pola konsumsinya.
Dalam
hitungan jejak ekologi (ecological
footprint), kita
bisa menilai sejauhmana tingkat konsumsi kita mempengaruhi kualitas
lingkungan hidup kita dan tentu saja berapa besar kemudian korban
yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan hidup yang bersumber
dari pola konsumsi. Hitungan jejak ekologi ini memang cara
menghitung dengan cepat dan relatif akurat untuk perseorangan yang
bisa dihitung perbulan atau pertahun, dan tentu saja ini bisa
diterapkan dimana saja termasuk di Indonesia yang tingkat kerusakan
ekologinya begitu tinggi. Hasil dari hitungan ecological
footprint kita
mungkin akan sangat mengagetkan, tapi hitungan ini sekaligus bisa
menjadi “alat” bagi kita untuk mulai mengurangi tingkat
konsumerisme dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan
ini juga hendak mengajak kita untuk melihat, bahwa jejak ekologi yang
ditinggalkan oleh perempuan, bukan hanya menyisakan persoalan
lingkungan hidup, tetapi bahkan berkontribusi besar atas proses
kekerasan yang dialami oleh perempuan di belahan bumi lain yang
mungkin tidak pernah terbayang di benak perempuan yang ada di kota.
Tulisan ini hendak membawa kita (perempuan) yang tinggal di kota,
untuk mulai membangun kepekaan terhadap perempuan yang tinggal di
pedesaan.
Mari
hitung tingkat konsumsi kita sebagai perempuan, yang mengkonsumsi
lebih banyak tissue
baik untuk menghapus keringat, kebutuhan di toilet, sampai menghapus
makeup
wajah. Apakah kita pernah berhitung, berapa banyak kemudian konsumsi
kertas kita telah ikut menyumbangkan laju kerusakan hutan yang hingga
kini mencapai 3,8 juta hektar pertahun. Pernahkah kita juga
menghitung tingkat konsumsi terhadap tissue yang berasal dari hutan
akasia, telah ikut menyumbangkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh
perusahaan pulp and paper di Sumatera Utara terhadap perempuan yang
tinggal di Porsea Sumatera Utara.
Kita
juga sangat konsumtif terhadap kebutuhan mandi seperti sabun dan
shampoo dengan berbagai aroma dan kemasannya, hingga kita tidak
menyadari bahwa sabun dan shampoo itu dihasilkan dari minyak sawit
(CPO) dari perkebunan besar kelapa sawit yang sangat tidak ramah
lingkungan karena menggunakan pestisida dan insektisida pada masa
pemupukan. Bahkan, banyak industri besar perkebunan sawit
memperkerjakan buruh perempuannya dibidang pemupukan yang notabene
itu beracun dan sangat berbahaya bagi kesehatan perempuan. Belum lagi
tingkat diskriminasi dan kekerasan yang dialami oleh buruh perempuan
di industri perkebunan besar kelapa sawit seperti yang dialami oleh
buruh perempuan di Riau dengan satu perusahaan perkebunan kelapa
sawit.
Fakta
ini mungkin memang sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh
perempuan di perkotaan, karena kita berpikir bahwa semua pemenuhan
kebutuhan kita tidak ada relasi sama sekali dengan pola produksi
yang dibangun oleh industri yang tidak pernah menghitung dampak
ekologi yang ditimbulkan dari hasil produknya. Sesungguhnya budaya
konsumtif yang dibangun oleh sistem kapitalisme tidaklah berdiri
sendiri, karena ini terkait erat dengan kebijakan ekonomi politik
yang dibangun dan diskenariokan sebagai sebuah papan reklame yang
mengiklankan gaya hidup masyarakat perkotaan. Sistem kapitalisme
menciptakan tata kuasa, tata konsumsi dan tata produksi berada di
genggaman pemilik modal, dan menjadikan perempuan sebagai target
utama dalam pemasaran produk yang dihasilkan.
Seorang
teman perempuan pernah mengingatkan kepada saya, untuk tidak menerima
pemberian emas sebagai bentuk ungkapan cinta, karena emas ternyata
bukan lagi menjadi logam mulia. Emas yang sering menjadi ukuran
strata sosial atau kelas bagi perempuan, ternyata telah menjadi logam
penindasan bagi perempuan yang menjadi korban industri pertambangan
emas. Bahkan emas yang sangat disukai oleh perempuan, setiap gramnya
menghasilkan tidak kurang 2,1 ton limbah batuan dan lumpur tailing
yang dibuang. Ditambah 5,8 kilogram emisi beracun, 260 gram timbal,
6,1 gram merkuri dan 3 gram sianida. Semua limbah-limbah yang
dihasilkan untuk memenuhi hasrat kita terhadap perhiasan emas,
ternyata berandil besar terhadap lingkungan, khususnya perempuan yang
lebih rentan dan spesifik terkena resiko dampak limbah terhadap alat
reproduksinya.
Suara
dari perempuan untuk perempuan, menjadi sebuah langkah nyata menuju
keberlanjutan kehidupan yang lebih adil. Mari merubah gaya hidup,
suara perempuan untuk kehidupan. Vote for Life, setidaknya itu
dimulai bertepatan dengan peringatan hari perempuan Internasional
yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2008.
*Penulis
adalah Kepala Divisi Kampanye WALHI Jakarta, tergabung dalam Gender
Working Group Friends of the Earth Internasional (FOE), sekaligus
anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul
Jabodetabek.