KORUPSI DAN CARUT-MARUT KEPEMIMPINAN DAERAH
Oleh Hermawan*
Terkuaknya kasus korupsi yang menimpa pimpinan atau kepala daerah
mulai marak dengan segala tendensi, baik yang sungguh-sungguh
berniat membersihkan pemerintahan dari koruptor atau untuk
kepentingan politik tertentu. Contoh kasus seperti yang terjadi
dalam kasus korupsi yang menimpa Bupati Garut Drs. H. Agus Supriyadi
yang sampai saat ini mendekam dalam tahanan.
Masih kita ingat saat itu hampir tiap hari di bulan Agustus 2007
ratusan massa dari berbagai elemen mengepung bahkan sampai merusak
rumah dinas bupati. Yang agak “lucu” mayoritas massa digerakkan oleh
partai politik yang awalnya telah berhasil mendudukkan Agus sebagai
bupati. Dan Agus Supriyadi dalam statementnya mengatakan dia dijebak
oleh kawan-kawannya sendiri (Tribun Jabar, 18 November 2007) dalam
kasus ini. Berbarengan kasus tersebut Wakil Bupati H. Memo yang
seharusnya menjalankan roda pemerintahan tersandung oleh kasus
ijasah palsu, yang memaksanya berurusan dengan kepolisian dan
tanpaknya H. Memo tidak bisa mengelak lagi. Karena saksi-saksi yang
kuat terlebih pengakuan salah seorang anak buahnya yang mengurus
pembuatan ijasah tersebut telah bernyanyi.
Sesungguhnya apa yang terjadi? Lalu
bagaimana dengan masyarakat Garut sendiri ?
Menebar pesona, berebut kursi
Bisa ditebak kekosongan kekuasaan ini telah meramaikan situasi
politik di Garut. Partai-partai politik besar mulai menebar pesona
dan masing – masing merasa sebagai pahlawan yang telah menyingkap
kasus korupsi terbesar sepanjang sejarah di Kabupaten Garut. Jargon
perubahan pemerintah yang bersih anti korupsi terdengar setiap hari
bersandingan dengan calon yang diusung. Sedangkan kondisi ekonomi
sosial masyarakat sendiri terlihat tidak dihiraukan.
Bukan hanya dari partai politik yang berebut kursi bupati, tetapi
juga dari pengusaha mengajukan dan mengkampanyekan dirinya melalui
jalur calon independen. Kampanye-kampanye sudah gencar dilakukan,
baik parpol maupun calon independen dengan berbagai cara. Melalui
berbagai selebaran, forum keagamaan serta organisasi atau atas nama
Forum Masyarakat Independen Peduli Rakyat untuk Kesejahteraan yang
isinya tidak jauh berbeda tetapi memunculkan tokoh Independen non
partai yang akan ikut bertarung memperebutkan kursi.
Janji-janji pemerintahan bersih dan anti korupsi dari beberapa
partai, memang pada umumnya masyarakat sudah tidak peduli dengan
partai politik yang ada saat ini. Suatu sikap kritis dan bentuk
kesadaran nyata yang muncul dari benak masyarakat tetapi kesadaran
itu tidak terakomodir dalam wadah organisasi atau gerakan massa
yang memperjuangkan rakyat, tetapi malah ditangkap oleh janji-janji
calon independen, masyarakat seakan-akan terbius dan tidak berpikir
panjang bahwa bagaimanapun pengusaha/pemilik modal ataupun calon
independen ini bisa menjadi malapetaka bagi kehidupan masyarakat
nantinya.
Melalui banyak forum dan momen, para calon independen atau partai
menebar
pidato dan janji-janji muluknya. Akhirnya tersingkap sedikit demi
sedikit, saat ini mereka terus bergerilya mencari dukungan langsung
ke desa-desa. Dengan sangat percaya diri dan uang yang sangat
melimpah, menjadikan desa-desa ataupun kepala desa sebagai alat
pencari massa. Dengan rutin kepala desa diberikan dana untuk
memfasilitasi pertemuannya dengan warga desa sekaligus mengumpulkan
KTP sebagai syarat pendaftaran .
Persoalan korupsi seperti menjadi “batu loncatan” untuk meretas
tenar dan pura-pura memperjuangkan rakyat. Yang disayangkan,
organisasi massa seperti tidak bergerak melawan, artinya membongkar
apa yang terjadi sebaliknya. Seperti kasus korupsi harus terus
dibongkar dan kampanye terselubung tersebut ditindak tegas. Atau ada
yang mensinyalir beberapa organisasi massa melakukan aksi
penyelamatan diri bagi pimpinannya karena pernah menikmati uang
korupsi semasa Bupati Agus.
Penjualan sumber daya alam kepada pemilik modal
Yang menarik adalah dalam
tiap kesempatan selalu terungkapkan bahwa Garut menyimpan banyak
potensi sumber alam yang saat ini dijadikan mainan orang–orang yang
berkuasa tanpa memikirkan rakyatnya, janjinya adalah bahwa hasil
bumi dan potensi alam ini harus bisa membuat rakyat tidak lagi
susah mencari kerja. Namun solusi yang ditawarkan sebenarnya juga
tidak jauh beda dengan penguasa yang ada sekarang, yakni memanggil
investor asing untuk menguras sumber daya yang ada.
Padahal kasus-kasus sudah banyak bermunculan akibat hal tersebut,
seperti perampasan tanah. Sehingga Garut yang tanahnya
bergunung-gunung cocok dengan pertanian tetapi rakyatnya banyak yang
tidak punya sawah. Selain itu, banyak potensi kekayaan alam misalnya
perkebunan teh yang luas di Cikajang ,sumber batu pualam di Cisompet
yang belum tergarap (saat ini masih hangat dibicarakan karena akan
dibeli pengusaha Amerika), gas alam di Kamojang, ramai
diperjualbelikan kepada kapitalis. Proses pengambilan lahan dan
dampak lingkungan tidak diperhatikan.
Tugas organisasi rakyat
Kondisi ini menjadi potret Indonesia, di saat yang sama
organisasi-organisasi gerakan rakyat yang ada masih sibuk dengan
kegiatannya sendiri-sendiri dan masih terkotak-kotak tiap sektornya,
para pemodal tersebut lebih bisa bersatu berkonsentrasi dan
membaca memanfaatkan situasi dan kondisi masyarakat yang semakin
putus asa.
Maka pekerjaan rumah yang harus terus dilakukan oleh para aktivis
gerakan rakyat saat ini, harus masuk dan berani masuk ke pelosok
desa-desa untuk membangun semangat dan kesadaran yang lebih maju.
Karena sikap kritis dari pemuda, petani begitu menggebu tetapi masih
kurang dalam pengetahuan dan informasi.
* Penulis adalah Pemuda Desa Cisaat, Kadung Ngora-Garut, sekaligus
anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Bandung.