| |
 |
Keanggotaan |
|
 |
|
|
|
|

Dibutuhkan, Pemimpin yang Paham Rakyat
| Tanggal : | 08 Feb 2010 |
| Sumber : | Kompas |
Prakarsa Rakyat,
Sabtu, 6 Februari 2010 | 02:48 WIB
Jakarta, Kompas - Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang bisa memahami dan dipahami oleh masyarakat. Dua mantan presiden yang bisa melakukan kedua hal itu adalah Soekarno dan Abdurrahman Wahid.
Hal itu dikemukakan politisi PDI-P, Budiman Sudjatmiko, dalam peringatan 40 hari wafatnya mantan Presiden Abdurrahman Wahid dan salah satu pendiri Unika Atma Jaya, Frans Seda, dengan tema Membangun Ekonomi, Menata Pluralitas, Menghidupi Demokrasi untuk Indonesia Sejahtera yang diselenggarakan Unika Atma Jaya, Jumat (5/2). Pembicara lain yang hadir adalah Ketua PBNU Masdar Mas’udi dan Sekretaris Eksekutif Komisi Hak KWI Benny Susetyo Pr.
Dalam acara itu hadir pula putri Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid), yang memberikan testimoni tentang Gus Dur semasa hidupnya. Adapun putri Frans Seda, Erry Seda, diwakili oleh Pembantu Rektor III Atma Jaya Yohanes Temaluru.
”Hanya dua mantan pemimpin yang bisa memahami dan dipahami oleh rakyatnya, yaitu Gus Dur dan Soekarno. Gus Dur bisa memakai bahasa petani, tetapi juga bisa rileks ketika bertemu dengan para pemimpin negara. Pemimpin seperti inilah yang kita butuhkan,” katanya.
Menurut Budiman, tidak ada gunanya apabila seorang pemimpin yang mempunyai pergaulan luas dan cerdas, tetapi tak dipahami oleh masyarakatnya. ”Nah, bagaimana supaya sosok-sosok seperti Frans Seda dan Gus Dur bisa tetap ada di tengah-tengah kita. Apakah dengan mengubah sistem pendidikan? Saya kira bukan cuma tanggung jawab bidang pendidikan, tetapi parpol juga harus mencarinya,” ungkapnya.
Yenny Wahid mengenang Gus Dur sebagai sosok yang memperjuangkan demokrasi yang bukan hanya sekadar tataran prosedural, tetapi juga bagaimana substansi demokrasi itu terwujud. ”Gus Dur selalu menganggap bahwa perbedaan adalah suatu rahmat bagi masyarakat. Sedangkan pada bidang ekonomi, Gus Dur mencita-citakan Indonesia seperti India yang memproduksi sendiri semua kebutuhannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Benny mengungkapkan, Gus Dur dan Frans Seda adalah dua tokoh yang bisa mengubah perspektif masyarakat. ”Gus Dur bisa mengubah NU lama mengakui Pancasila. Gus Dur juga menjadi agen perubahan ilmu-ilmu modern dalam pesantren,” kata Benny.
Ia mengatakan, Frans Seda juga melakukan hal yang sama. ”Frans Seda menyatakan, sistem ekonomi yang dijalankan harus jalan tengah, bukan kapitalisme dan bukan marxisme. Yang penting bagi Frans Seda adalah bagaimana menyejahterakan masyarakat,” katanya. (SIE)
[ Indeks | Versi Cetak | Kirim ke Teman ] |
|
 |
| Silahkan klik untuk mengetahui Agenda sesuai tanggal yang diinginkan | |
 |
|
|
| | |