| |
 |
Keanggotaan |
|
 |
|
|
|
|

Nasib Petambak Plasma Eks Dipasena Tak Pasti
| Tanggal : | 08 Feb 2010 |
| Sumber : | Kompas |
Prakarsa Rakyat,
Sabtu, 6 Februari 2010 | 04:11 WIB
Jakarta, Kompas - Nasib ribuan petani tambak plasma eks PT Dipasena kian terombang- ambing. Revitalisasi tambak yang dijanjikan tak pasti penyelesaiannya. Dibutuhkan intervensi pemerintah untuk menuntaskan persoalan itu.
Menurut Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu PT Aruna Wijaya Sakti Nafian Faiz di Lampung, Jumat (5/2), kemampuan PT Aruna Wijaya Sakti, anak perusahaan PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima), menyelesaikan revitalisasi tambak eks Dipasena diragukan.
Pasca-akuisisi aset Dipasena Citra Darmaja tahun 2007, PT CP Prima berkomitmen memperbaiki sarana dan prasarana tambak agar petambak plasma bisa segera membudidayakan udang dan produksi meningkat. Revitalisasi direncanakan di 16 blok tambak plasma di delapan desa di areal 16.250 hektar.
Namun, kata Nafian, hingga kini baru lima blok yang telah direvitalisasi. Revitalisasi tambak itu mundur dari jadwal semula, Agustus 2009 menjadi September 2011. Pada Oktober 2009, perusahaan bahkan meminta lagi pengunduran jadwal revitalisasi.
Padahal, saat ini petambak telah terbelenggu utang ratusan juta rupiah ke perusahaan untuk biaya operasional. Utang itu akan terus menumpuk jika revitalisasi tersendat dan petambak tak bisa secara optimal berproduksi karena kondisi sarana dan infrastruktur tambak merosot.
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengakui, CP Prima gagal merevitalisasi tambak udang terbesar di Asia Tenggara itu. ”Perlu jalan keluar dengan mengundang investor baru. Jangan sampai kita kehilangan peluang produksi saat dunia butuh udang,” katanya.
Penjualan aset eks Dipasena, menurut Fadel, tidak membutuhkan proses tender ulang, cukup perjanjian antarperusahaan. Saat ini ada investor dari Jepang yang tertarik mengelola tambak tersebut.
Corporate Communication Manager CP Prima Fajar Reksoprodjo menjelaskan, perusahaan terbuka membuka dialog dengan pemerintah sebagai regulator industri. Dia menjelaskan, menghadapi krisis keuangan global dan masa pemulihan akibat serangan virus, perusahaan harus ekstra hati-hati melakukan belanja modal. ”Sehingga, dilakukan penjadwalan ulang revitalisasi. Bukan berarti menghentikan revitalisasi,” tutur Fajar.
Dalam paparan publik, Desember 2009, CP Prima merilis, pendapatan perusahaan turun 13,7 persen dari Rp 6 triliun pada triwulan III-2008 menjadi Rp 5,18 triliun pada triwulan III-2009. Ini akibat krisis keuangan global, tudingan praktik pengapalan kembali (transshipment), dan serangan virus.
Namun, menurut Direktur Keuangan CP Prima Gunawan Taslim, meski pendapatan turun, pada triwulan III-2009 perseroan masih mencetak laba bersih Rp 23,77 miliar. (LKT)
[ Indeks | Versi Cetak | Kirim ke Teman ] |
|
 |
| Silahkan klik untuk mengetahui Agenda sesuai tanggal yang diinginkan | |
 |
|
|
| | |