| |||||||||||
|
Imigran Tertahan di Pelabuhan
Prakarsa Rakyat, Sabtu, 6 Februari 2010 | 03:09 WIB Cilegon, Kompas - Hingga Jumat (5/2) sore ratusan imigran asal Sri Lanka masih tertahan di pelabuhan bongkar muat Indah Kiat, Cilegon, Provinsi Banten. Aparat keamanan menangkap mereka di perairan Selat Sunda, empat bulan lalu. Belasan orang di antara mereka tinggal di penginapan di seberang lokasi Pelabuhan Indah Kiat. Selebihnya memilih bertahan di kapal kayu dan tinggal di tenda terpal di lokasi pelabuhan. Imigran yang tinggal di penginapan seberang Pelabuhan Indah Kiat adalah mereka yang sakit dan keluarga yang menjaganya. Penginapan itu berlokasi di perbukitan kawasan Merak sehingga lebih sejuk dibandingkan dengan di pelabuhan yang terik. Imigran mendirikan tenda terpal biru tidak jauh dari lokasi sandar kapal kayu. Mereka berlayar dengan kapal kayu itu menuju Pulau Christmas, Australia, melalui perairan Selat Sunda, 11 Oktober 2009. Ketika aparat menangkap mereka, 11 Oktober 2009, jumlah imigran di kapal kayu itu 255 orang. Namun, jumlah mereka kini tinggal 238 orang. ”Jumlah mereka berkurang karena ada 16 imigran yang ke rumah detensi di Jakarta. Seorang lainnya meninggal dunia karena sakit,” kata Kepala Imigrasi Cilegon Sumantri Sihite. Imigran tersebut berusia 40-an tahun, yakni Yakob. Dia meninggal dunia pada 24 Desember 2009 karena sakit. Sumantri mengatakan, selama ini imigran yang sakit dan memerlukan perawatan dokter langsung dibawa ke rumah sakit. ”Semua biaya untuk transportasi, obat, kebutuhan kesehatan lainnya, termasuk makan dan minum sehari-hari, ditanggung IOM (Organisasi Migran Internasional),” katanya. Mengenai rencana pemindahan imigran Sri Lanka itu dari Cilegon ke Bekasi, Sumantri mengatakan, hal itu merupakan keputusan pemerintah pusat. Kepala Divisi Imigrasi Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Banten Harry Purwanto berpendapat senada. Keputusan soal penanganan imigran Sri Lanka ada di pemerintah pusat. (CAS) [ Indeks | Versi Cetak | Kirim ke Teman ]
|