| |
 |
Keanggotaan |
|
 |
|
|
|
|

Selamat Jalan Gus, Sang Guru Demokrasi
| Tanggal : | 05 Jan 2010 |
| Sumber : | Prakarsa Rakyat |
Prakarsa Rakyat, Tahun baru masih diliputi suasana duka atas kepergian Gus Dur, sang guru bangsa. Seorang ulama yang berani mengusulkan pencabutan TAP MPRS XXV/1966. Sebuah hal yang tabu diungkit ke permukaan, apalagi ketika rejim otoriter Soeharto berkuasa. Pembungkaman hak berpikir rakyat, yang selama Orde Baru dipraktekkan untuk mengamankan kekuasaan politik dan bisnisnya, di tangan Gus Dur satu per satu dimerdekakan. Karena tak seorangpun yang dapat memaksakan orang lain untuk berpikir atau berideologi seperti apa yang dimauinya.
Rekonsiliasipun kemudian bergulir di akar rumput yang diprakarsai oleh kalangan muda NU dengan anak-anak PKI, yang keduanya merupakan bagian dari sejarah kelam masa lalu. Prakarsa ini terus berjalan dan tidak pernah berhenti, karena memang penguasa Orde Baru mendramatisir tragedi masa lalu hanya untuk kepentingan politiknya yang seakan-akan menjadi kepentingan bangsa. Stigmatisasi komunis perlahan namun pasti menjadi luntur karena rakyat mulai memiliki sejarahnya dan tahu manipulasi sejarah Orde Baru.
Sejarah dikembalikan kembali ke tempatnya semula. Itulah yang dilakukan Gus Dur ketika memberikan nama Papua sebagai ganti Irian Jaya, sesuatu yang sudah lama didambakan oleh Rakyat Papua. Tidak hanya itu, bintang kejora pun turut bebas untuk dikibarkan rakyat pada masa pemerintahannya.
Sejarah kembali diletakkan bagi kaum minoritas yang pada masa pemerintahan otoriter Soeharto “Habis manis sepah dibuang.” Tahun Baru Imlek yang kembali bisa dirayakan menjadi tonggak akan pengakuan keberadaan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Identitas mereka juga dipulihkan dengan pencabutan pemberlakukan SKBRI yang selama ini menjadikan diri mereka terasing di negeri sendiri dengan dipaksa harus berganti nama.
Keyakinan orang untuk mempercayai dan menghayati apa yang diyakininya, mendapatkan ruang yang selama ini digusur. Gus Dur menjamin penganut aliran kepercayaan untuk menjalani keyakinannya, karena sekali lagi apa yang ada di dalam pikiran orang tidak bisa diberangus. Dan semoga saja pemerintah yang melakukan pelarangan buku yang terjadi akhir-akhir ini, tersadar setelah membaca pesan dari sang guru bangsa bahwa pikiran seseorang tidak pernah bisa dipenjarakan.
Selamat Jalan Gus!
Redaksi
[ Indeks | Versi Cetak | Kirim ke Teman ] |
|
 |
| Silahkan klik untuk mengetahui Agenda sesuai tanggal yang diinginkan | |
 |
|
|
| | |