| |
 |
Keanggotaan |
|
 |
|
|
|
|

42 tahun Gestok
| Tanggal : | 28 Sep 2007 |
| Sumber : | Prakarsa Rakyat |
Prakarsa Rakyat, Peristiwa Gestok 1965 (Gerakan Satu Oktober 1965) sering secara sempit hanya diidentikan sebagai puncak pertarungan dua kubu politik yang saling berhadap-hadapan yaitu antara kekuatan kiri berhadapan dengan kekuatan Orba di bawah pimpinan Jenderal Besar Soeharto. Orba mengkonstruksi gambaran dikotomi ini mirip mitos kisah perseteruan dalam dunia wayang antara Pandawa vs Kurawa, yang kita tahu akhirnya menghasilkan banjir darah Bharatayudha untuk menopang kekuasaan Pandawa.
Dalam konteks politik saaat itu, memang betul kekuatan kiri yang menjadi seteru militer saat itu. Tapi setelah Gestok 1965 dan kekuatan kiri telah ditumpas kelor, bukan lagi kekuatan kiri yang dibunuh oleh Orba, tapi pelan tapi pasti bagaikan kisah serial killer, kekuatan Orde Baru juga membunuh DEMOKRASI. Di atas bangkai demokrasi dibangunlah kekuasaan korporatis Orde Baru dimana segala aspek kehidupan rakyat dibentuk, dikontrol, diawasi dan diarahkan untuk mendukung kepentingan negara. Hak-hak sipil dan politik di luar 'korporasi negara' ditutup samasekali, bahkan dianggap SUBVERSIF, diberanggus, dipenajra, kalau perlu dibunuh dan 'dihilangkan' oleh negara.
Model korporatis Orba, juga menghasilkan praktek kekerasan negara yang sistematis dan meluas untuk menjaga kekuasaan, kepentingan modal dan menundukkan rakyatnya sendiri. Akibatnya tragedi kemanusian terus berulang, serial killer Orde Baru melanjutkan operasi psikopat politiknya atas rakyat Aceh, Papua , Timor-Timur, buruh, tani, umat Islam. Tinta darah kemanusiaan menjadi catatan sejarah rejim Orba.
Tampaknya cara pandang kita atas peristiwa 1965 juga harus direformasi, tidak hanya melihatnya sebagai dikotomi "kiri vs orde baru," tapi juga melihatnya sebagai dikotomi antara "demokrasi vs orde baru." Dengan cara pandang ini, maka perjuangan untuk menuntut tangung jawab negara, tidaklah hanya menjadi 'tangung jawab' para korban dari 'blok kiri', tapi menjadi tanggung jawab seluruh aktivis demokrasi, karena paska Gestok 1965, demokrasi juga menjadi korban lanjutan dari serial killer Orba.
Setelah 42 tahun peristiwa Gestok, kita masih melihat para aktivis demokrasi tidak melihat 'pembunuhan kekuatan kiri' dan "pembunuhan demokrasi" adalah dua hal yang berkaitan secara langsung, bahwa tragedi kaum kiri menjadi jalan bagi Orba untuk juga membunuh demokrasi. Cara pandang yang tidak mentautkan soal Gestok dengan soal-soal kematian demokrasi mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat deret hitung para aktivis demokrasi yang menuntut tanggung jawab negara Orba atas pembunuhan demokrasi paska Gestok 1965 tidak bertambah secara signifikan. Dalam berbagai aktivitas, masih "deretan korban yang sudah uzur yang jadi pelaku utama," sementara 'deretan demokrasi' dalam jumlah yang kecil, baru mampu bergerak sebagai pendamping-pendamping, bukan menjadi bagian utama dari gerakan itu sendiri.
Lemahnya dukungan demokratis ini, jangan-jangan juga menggambarkan kelemahan kekuatan demokratis di negeri ini secara keseluruhan.
[ Indeks | Versi Cetak | Kirim ke Teman ] |
|
 |
| Silahkan klik untuk mengetahui Agenda sesuai tanggal yang diinginkan | |
 |
|
|
| | |