03 September 2010
..:: Jangan Terpengaruh Dagelan Politik ::...  ..:: Selamat Datang di Portal Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat ::.. ..:: Untuk Memperoleh Buletin SADAR, Silahkan Download Langsung di Kanal Download atau Kanal Buletin SADAR bagian atas::..
 
 
Keanggotaan




Pendaftaran ...
Lupa Sandi ...
 
Hentikan Kekerasan dan Selidiki Peristiwa Kekerasan di Buol


KontraS sangat menyesalkan terjadinya kekerasan di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada 30 - 31 Agustus 2010. Kami ...

 
M e n u
Beranda
Editorial
IP Rakyat
Kilat
Gender
Fokus
Opini
Politik Lokal
Dinamika Militer
Globalisasi
Kabar Dari Seberang
Polling
Info Buku
Suara Anda
Download
 

42 tahun Gestok
Tanggal : 28 Sep 2007
Sumber : Prakarsa Rakyat

Prakarsa Rakyat, Peristiwa Gestok 1965 (Gerakan Satu Oktober 1965) sering secara  sempit hanya diidentikan sebagai  puncak pertarungan dua kubu politik yang saling berhadap-hadapan yaitu antara kekuatan kiri berhadapan dengan  kekuatan Orba di bawah pimpinan Jenderal Besar Soeharto.  Orba mengkonstruksi gambaran dikotomi ini  mirip mitos kisah  perseteruan dalam dunia wayang antara Pandawa vs Kurawa, yang kita tahu akhirnya menghasilkan banjir darah Bharatayudha untuk menopang kekuasaan Pandawa.

Dalam konteks politik saaat itu, memang betul kekuatan kiri yang menjadi seteru militer saat itu.  Tapi setelah Gestok 1965 dan kekuatan kiri telah ditumpas kelor, bukan lagi kekuatan kiri yang dibunuh oleh Orba, tapi pelan tapi pasti bagaikan kisah serial killer, kekuatan Orde Baru juga membunuh DEMOKRASI.  Di atas bangkai demokrasi dibangunlah  kekuasaan korporatis Orde Baru  dimana segala aspek kehidupan rakyat dibentuk, dikontrol, diawasi dan diarahkan untuk mendukung kepentingan negara. Hak-hak sipil dan politik di luar 'korporasi negara' ditutup samasekali, bahkan dianggap SUBVERSIF, diberanggus, dipenajra, kalau perlu dibunuh dan 'dihilangkan' oleh negara.

Model korporatis Orba, juga menghasilkan praktek kekerasan negara yang sistematis dan meluas  untuk menjaga kekuasaan, kepentingan modal dan menundukkan rakyatnya sendiri. Akibatnya tragedi kemanusian terus berulang, serial killer Orde Baru melanjutkan operasi psikopat politiknya atas rakyat Aceh, Papua , Timor-Timur, buruh, tani, umat Islam.  Tinta darah kemanusiaan menjadi catatan sejarah rejim Orba.

Tampaknya cara pandang kita atas peristiwa 1965 juga harus direformasi, tidak hanya melihatnya sebagai dikotomi  "kiri vs orde baru," tapi juga melihatnya sebagai dikotomi antara  "demokrasi vs orde baru."  Dengan cara pandang ini, maka perjuangan untuk menuntut tangung jawab negara, tidaklah hanya menjadi 'tangung jawab' para korban dari 'blok kiri', tapi menjadi tanggung jawab seluruh aktivis demokrasi, karena paska Gestok 1965, demokrasi juga menjadi korban lanjutan dari serial killer Orba.

Setelah 42 tahun  peristiwa Gestok, kita masih melihat  para aktivis
demokrasi tidak melihat 'pembunuhan kekuatan kiri' dan  "pembunuhan demokrasi" adalah dua  hal yang berkaitan secara langsung, bahwa tragedi kaum kiri menjadi jalan bagi Orba untuk juga membunuh demokrasi. Cara pandang yang tidak mentautkan soal Gestok dengan soal-soal kematian demokrasi mungkin menjadi salah satu faktor yang membuat deret hitung para aktivis demokrasi yang menuntut tanggung jawab negara Orba atas pembunuhan demokrasi  paska Gestok 1965 tidak bertambah secara signifikan. Dalam berbagai aktivitas, masih  "deretan korban yang sudah uzur yang jadi pelaku utama," sementara 'deretan demokrasi' dalam jumlah yang kecil,  baru mampu bergerak sebagai pendamping-pendamping, bukan menjadi bagian utama dari gerakan itu sendiri.

Lemahnya dukungan demokratis ini, jangan-jangan juga menggambarkan kelemahan kekuatan demokratis di negeri ini secara keseluruhan.

[ Indeks | Versi Cetak | Kirim ke Teman ]

 Share

 
BBM Sepeda Motor Mau ke Langit
Hari ini di pangkalan ojeg Desa Kamojing ...
Humor Politik ” Pinggiran” (1)
Ini cerita/ kisah diskusi para warga Rt 5 sebagai ...

Silahkan klik untuk mengetahui Agenda sesuai tanggal yang diinginkan
« Sep 2010 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
       
 
02 Sep 2010  Pemimpin Gereja dan FPI Meningkatkan Dialog
02 Sep 2010  Keberagaman: Hidup Bagaikan Taman Bunga
02 Sep 2010  Menag Didesak Tarik Pernyataan Soal Ahmadiyah
 
02 Sep 2010  Wow, Jakarta Pekerjakan 1,2 Juta PRT
02 Sep 2010  TKI Asal Ponorogo Tewas Misterius di Taiwan
02 Sep 2010  Pidato SBY Soal Malaysia Tak Perjuangkan Nasib TKI
02 Sep 2010  Kerusuhan Buol: Mentalitas Polisi Belum Berubah
02 Sep 2010  Nelayan Keluhkan Tarif Retribusi TPI
02 Sep 2010  Lumpur Lapindo: Warga Minta Peninggian Jalan Raya Porong Dihentikan
02 Sep 2010  Ketika Kampung Tidak Bisa Diharapkan Lagi
02 Sep 2010  Informasi Publik: Mendiknas Diadukan kepada KIP
02 Sep 2010  Perlindungan TKI: Sanksi bagi Majikan Nakal Diperberat
02 Sep 2010  Pemerintah dan DPR Berniat Merevisi UU Ormas
02 Sep 2010  Presiden: Polri dan Kejaksaan Jangan Petieskan Kasus
02 Sep 2010  Menanti Realisasi Penindakan Ormas Anarkistis
02 Sep 2010  Harga Beras Naik: Pemerintah Gagal Perbaiki Sistem Pangan
02 Sep 2010  ICW: 50 Pasal Raib Dari RUU Pencucian Uang
02 Sep 2010  Wacana Pembubaran FPI, FBR, dan BMB: Ditunggu, Pemerintah Atasi Ormas Pelaku Kekerasan
 
Belajar Merebut Kekuasaan: Gerakan Rakyat Dalam Pusaran Krisis Ekonomi dan Politik Elektoral
“Penerbitan kumpulan tulisan ini adalah...
© 2006 - 2010 Prakarsa-Rakyat.org. All Rights Reserved. Comment to : info@prakarsa-rakyat.org